
Sembilan orang itu tidak ada yang berani bergerak. Mereka percaya bahwa kakek itu tak akan melarang kalau mereka mengambil pedang, juga maklum bahwa kakek itu sudah lemah sekali. Akan tetapi mereka tidak ada yang berani bergerak karena tahu pula bahwa jika ada yang berani mengambil pedang, tentu akan dihalangi oleh yang lain! Hal ini yang membuat mereka menjadi ragu-ragu.
"Tahan...! Tahan...! Kalian orang-orang tua yang tak mengenal malu!" Tiba-tiba terdengar teriakan marah.
Keng Hong yang sudah keluar dari tempat sembunyinya itu sekarang menghampiri Sin-jiu Kiam-ong dan memeluk leher kakek itu dari belakang sambil memandang sembilan orang itu dengan pandang mata penuh kemarahan.
Sembilan orang yang mengenal anak ini sebagai bocah yang tadi telah meniup suling dan mengacau Bu-tek Sam-kwi, memandang heran. Tadi mereka seperti lupa kepada bocah yang sangat berani itu karena mereka terlalu bernafsu untuk mendapatkan pedang. Kini baru mereka teringat dan mereka lalu menduga-duga apakah hubungan anak ini dengan Sin-jiu Kiam-ong.
"Heh, bocah lancang! Siapakah engkau dan mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio dengan pandang mata marah.
Akan tetapi Keng Hong tidak mempedulikan nenek itu, melainkan bertanya kepada Sin-jiu Kiam-ong, "Kong-kong (kakek), engkau terluka? Ahhh, mereka ini orang-orang yang tidak mengenal budi!"
Sin-jiu Kiam-ong membuka matanya dan memandang bocah itu dengan pandang mata penuh kekaguman dan keharuan. Anehnya, ada dua butir air mata yang menitik turun dari kedua mata kakek itu!
__ADS_1
Sin-jiu Kiam-ong terkenal sebagai seorang petualang di dunia persilatan dan selalu hidup gembira, tak pernah berduka apa lagi sampai menangis! Bahkan ratusan kali menghadapi ancaman maut sekali pun belum pernah memperlihatkan kedukaan. Akan tetapi sekarang dia menitikkan air mata! Sesudah menarik nafas panjang, Sin-jiu Kiam-ong memejamkan matanya kembali.
Keng Hong melepaskan rangkulannya pada kakek itu, cepat meloncat ke depan Sin-jiu Kiam-ong seolah-olah dia hendak melindunginya, lalu berkata kepada sembilan orang itu, "Kalian ini orang-orang gagah macam apa? Tidak kenal budi, berhati kejam! Siapa tidak tahu bahwa kalau tidak ada kakek ini, kalian sudah mati semua di tangan tiga iblis tadi? Kakek ini yang tadi menolong kalian mengusir tiga iblis dan mengorbankan dirinya hingga terluka, namun kini kalian tanpa malu-malu hendak membunuhnya! Sungguh pengecut, curang dan kalian ini lebih jahat dari pada si tiga iblis! Mereka itu sudah terang adalah orang-orang jahat dan menggunakan nama iblis, tetapi mereka sedikitnya lebih jujur dari pada kalian. Sebaliknya kalian, yang tadi kudengar menggunakan nama sebagai golongan bersih, sebagai pendekar-pendekar perkasa, namun kenyataannya kalian ini orang-orang munafik yang hanya pada lahirnya saja bersih namun di sebelah dalam lebih busuk dari pada yang busuk! Aku Cia Keng Hong walau pun tidak ada hubungan dengan kakek ini, akan tetapi sebagai manusia aku tidak rela menyaksikan kejahatan yang melewati batas. Kalau kalian hendak membunuh penolong kalian yang terluka parah ini, jangan kepalang tanggung melakukan kekejaman, bunuhlah aku terlebih dahulu!"
Wajah kesembilan orang itu menjadi merah sekali. Ucapan yang keluar dari mulut anak kecil ini sangat tajam dan runcing melebihi pedang yang langsung menghujam ke ulu hati mereka. Akan tetapi urusan yang mereka hadapi jauh lebih besar. Apa artinya makian seorang anak kecil penggembala kerbau? Tadi pada saat memasuki hutan, mereka telah melihat Keng Hong menyuling di atas kerbaunya.
Di balik perbuatan mereka terhadap Sin-jiu Kiam-ong yang kelihatan kejam, tersembunyi persoalan-persoalan dendam yang besar dan kiranya tidak perlu diperdebatkan dengan seorang bocah! Tidak mungkin kalau hanya karena maki-makian bocah ini mereka harus membatalkan niat yang sudah dikandung di hati, dibela dengan perjalanan jauh, bahkan yang hampir saja membuat mereka binasa di tangan Bu-tek Sam-kwi.
Akan tetapi tiba-tiba dia terhuyung mundur akibat ada tenaga hebat yang mendorongnya. Kiranya Sin-jiu Kiam-ong kini sudah bangkit dan berdiri di dekat Keng Hong. Wajah kakek ini masih pucat, akan tetapi sinar matanya berseri-seri dan mulutnya yang masih merah karena darah tersenyum.
"Tiada seorang pun yang boleh mengganggu Cia Keng Hong! Dia ini muridku, dan dialah ahli warisku. Perkenalkan, hei, para pendekar! Pandanglah baik-baik. Inilah dia muridku, orang yang akan mewarisi semua milikku termasuk pedang Siang-bhok-kiam. Ha-ha-ha!"
Sembilan orang itu tercengang! Mereka bersusah payah mengandalkan dendam mereka untuk berusaha mendapatkan pedang pusaka serta warisan kitab-kitab dan ilmu si raja pedang, tetapi kini begitu saja si raja pedang mengangkat murid dan hendak mewariskan Siang-bhok-kiam kepada seorang bocah penggembala kerbau!
__ADS_1
"Omitohud! Kehendak Tuhan terjadi penuh mukjijat!" Thian Ti Hwesio mengeluh panjang.
"Sin-jiu Kiam-ong! Engkau melanggar janji...!" bentak Sin-to Gi-hiap.
Sin-jiu Kiam-ong tertawa. "Siapa melanggar janji? Bukankah kukatakan bahwa aku tidak akan melawan kalau kalian hendak membunuhku di sini? Bukankah aku pun tidak pernah melawan kalian tadi dan tidak menghalangi bila mana kalian hendak merampas pedang Siang-bhok-kiam? Bukankah kukatakan sebulan yang lalu bahwa yang berhak memiliki Siang-bhok-kiam ialah orang yang berjodoh dengannya? Nah, ternyata bocah inilah yang berjodoh dengan aku dan dengan pedang ini. Dan ketahuilah, sesudah aku mengangkat murid, tentu saja aku tidak mau mati sekarang. Aku ingin hidup lebih lama lagi untuk mendidiknya, sesuai dengan tugas kewajiban seorang guru! Pergilah kalian, pergilah...!"
Sembilan orang itu ragu-ragu dan mereka kecewa serta menyesal sekali. Biar pun Sin-jiu Kiam-ong sudah terluka, akan tetapi ilmu kepandaiannya yang hebat amat sukar dilawan. Selain itu, mereka sendiri pun sudah terluka dan kehilangan senjata.
Mereka ini adalah orang-orang cerdik. Mereka tahu bahwa Sin-jiu Kiam-ong sudah amat tua, apa lagi menderita luka hebat. Kiranya takkan lama lagi usianya. Dan bocah itu jelas belum mengenal ilmu silat sama sekali. Digembleng bagaimana hebat pun, hanya dalam beberapa tahun apa artinya? Akhirnya mereka tentu akan dapat merampas pedang dan kitab-kitab itu, bukan dari tangan Sin-jiu Kiam-ong, melainkan dari tangan ahli warisnya ini!
Pada saat itu, bersilir angin halus dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang tosu yang berwajah gagah penuh wibawa. Dia ini bukan lain adalah Kiang Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang berilmu tinggi itu.
Ketika semua orang yang memandang, ternyata bukan hanya Kiang Tojin yang datang, melainkan banyak sekali tosu-tosu Kun-lun-pai, sedikitnya ada tiga puluh orang, semua memegang pedang seperti Kiang Tojin. Gerakan mereka begitu rapi, tangkas dan ringan sehingga tahu-tahu tempat itu telah dikepung!
__ADS_1