
Thian Seng Cinjin mengelus-elus jenggotnya. Diam-diam kakek ini kagum kepada murid kepala ini dan makin yakin hatinya bahwa kelak yang akan dapat memimpin Kun-lun-pai menuju ke arah kemajuan dan kebesaran nama adalah Kiang Tojin ini. Dia lalu menyapu murid-murid lain dengan pandang matanya, kemudian berkata,
"Siancai! Kurasa pendapat suheng kalian ini cukup beralasan dan tepat. Namun betapa pun juga, pertemuan ini kita adakan untuk bermusyawarah. Pinto tidak akan mengambil keputusan begitu saja sebelum pinto mendengar semua isi hati kalian. Tidak boleh ada keputusan diambil tanpa dimufakati semua orang. Pinto tidak ingin melihat pertentangan paham di antara kalian karena hal itu akan melemahkan Kun-lun-pai, justru pada waktu Kun-lun-pai dimusuhi banyak orang yang memiliki kepandaian tinggi. Setelah pinto sendiri amat tua dan lemah, seluruh nasib Kun-lun-pai berada di tangan kalian bertujuh. Apa bila kalian tidak bersatu, bagaimana mungkin bisa mempertahankan kebesaran Kun-lun-pai? Karena itu, kalau masih ada yang tidak setuju mengenai Siang-bhok-kiam ini, katakanlah terus terang berikut alasannya."
Kembali Lian Ci Tojin yang bicara dan nada suaranya mengandung penasaran karena dia mendapat kenyataan betapa mudahnya Kiang Tojin lolos dari tuduhan itu. Lian Ci Tojin ini masih muda apa bila dibandingkan dengan para suheng-nya. Usianya baru empat puluh lima tahun, akan tetapi karena dia sangat berbakat sehingga dapat menguasai ilmu silat tertinggi dari Kun-lun-pai, maka dia termasuk salah seorang di antara tujuh tokoh besar Kun-lun-pai, murid-murid Thian Seng Cinjin. Kini terdengar suaranya.
"Suhu, teecu berpendapat bahwa kalau pun kita menahan Siang-bhok-kiam di sini, berarti pedang itu menjadi hak kita, dan sudah sepatutnya pula bila susah payah yang kita derita untuk mempertahankannya itu mendapat imbalan yang sepadan, yaitu dengan menambah simpanan Kun-lun-pai dengan kitab-kitab pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Bukankah Siang-bhok-kiam dikabarkan menjadi kunci dari pada tempat rahasia peninggalan pusaka itu? Hal ini sudah berkali-kali teecu usulkan kepada Twa-suheng, akan tetapi selalu tidak disetujui oleh Twa-suheng. Sekarang, sekali lagi di hadapan Suhu dan para suheng sute sekalian teecu hendak bertanya lagi kepada Twa-suheng, apakah pusaka-pusaka itu tidak akan kita cari untuk perbendaharaan Kun-lun-pai?"
"Tidak! Kita tidak akan mencari pusaka-pusaka itu karena Sin-jiu Kiam-ong tidak pernah mewariskannya kepada kita. Kun-lun-pai sebuah perkumpulan yang besar, bukan sebuah perkumpulan yang biasa merampas hak milik orang lain!" Kiang Tojin menjawab dengan suara tegas sehingga para sute-nya termasuk gurunya sendiri, menjadi amat kagum dan bangga di dalam hati.
__ADS_1
Akan tetapi tiba-tiba Lian Ci Tojin tertawa. "Ha-ha-ha-ha, sungguh pintar Twa-suheng dan sungguh bodoh kita yang dapat dikelabui! Kalau sudah berani menahan pedang dengan dalih bahwa pedang berada di wilayah Kun-lun-pai, kenapa tidak berani memiliki pusaka yang juga berada di wilayah Kun-lun-pai? Ahhh, siapakah tokoh di dunia persilatan yang tidak ingin memiliki? Termasuk Twa-suheng tentunya! Kalau pusaka-pusaka itu kita ambil dan menjadi milik Kun-lun-pai, berarti semua murid Kun-lun-pai dapat mempelajarinya, akan tetapi Kiang Tojin suheng tidak setuju karena Twa-suheng hendak memiliki semua pusaka itu untuk diri sendiri. Bukankah begitu?"
Muka Kiang Tojin menjadi merah dan semua mata memandangnya. Akan tetapi tosu yang berpengalaman ini selain kuat ilmu silatnya, juga kuat sekali batinnya. Dia tidak sudi dikuasai perasaan hatinya, karena itu sekuat tenaga dia menekan kemarahannya dengan kesadarannya bahwa sute ke lima ini melontarkan tuduhan-tuduhan kepadanya tentu ada latar belakangnya.
Maka dia memandang sute-nya itu dan mengingat-ingat. Mengapa sute-nya yang ke lima ini seolah-olah membenci dirinya? Kemudian dia teringat. Terhadap para sute-nya, Kiang Tojin memang selalu bersikap keras dalam memimpin, selalu tidak segan menegur apa bila mereka itu melakukan kekeliruan sehari-hari.
Yang terakhir, pada waktu Kiang Tojin menangkap Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im dan menyuruh sute-sute-nya membelenggu gadis cantik itu, dia melihat betapa Lian Ci Tojin cepat-cepat melakukan perintah ini dan pandang matanya yang tajam bisa melihat betapa sinar mata Lian Ci Tojin berkobar oleh nafsu, betapa saat membelenggu tangan sute-nya itu sengaja meraba-raba tubuh gadis itu.
Penyelewengan karena dorongan nafsu ini, walau pun tidak berarti dan kecil, juga tidak terlihat oleh siapa pun, namun sudah cukup kuat bagi Kiang Tojin untuk pada keesokan harinya memanggil sute-nya ini dan memarahinya dengan keras. Pada saat itu, Lian Ci Tojin hanya menunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah, akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu, sepasang mata sute-nya itu memancarkan kebencian seperti yang sekarang terpancar kepadanya dalam bentuk tuduhan-tuduhan itu.
__ADS_1
Kiang Tojin menghela napas panjang dan berhasil memadamkan api amarahnya setelah dia melihat latar belakangnya mengapa sute-nya itu seperti membencinya.
"Teecu hanya melaksanakan tugas sebaiknya dan dalam urusan Siang-bhok-kiam, teecu mengambil keputusan setelah teecu pikirkan masak-masak. Teecu tidak sudi melakukan sesuatu di luar garis peraturan Kun-lun-pai sendiri." Demikian Kiang Tojin berkata kepada gurunya dan ketika gurunya mengangguk-angguk, Kiang Tojin lalu menoleh ke arah Lian Ci Tojin.
"Ngo-sute, kiranya masih ingat bagaimana bunyi peraturan ke tiga dari perguruan kita? Setiap murid Kun-lun-pai dilarang mempelajari ilmu silat dari lain perguruan dan kalau hal ini dilanggar, berarti si murid telah murtad dan mengkhianati Kun-lun-pai. Dengan adanya peraturan yang sudah jelas ini, bagaimana Ngo-sute dapat mengusulkan agar supaya kita mengambil kitab-kitab pusaka peningalan Sin-jiu Kiam-ong?"
Ditegur begini, Lian Ci Tojin menjadi merah mukanya. Diam-diam dia memaki di dalam hati atas kecerdikan twa-suheng-nya ini sehingga dari keadaan menuduh kini dia malah menjadi seorang tertuduh melanggar peraturan perguruan mereka! Namun Lian Ci Tojin cukup cerdik dan dia cepat berkata,
"Twa-suheng jangan menuduh yang bukan-bukan. Pinto bukan sekali-kali mengusulkan agar supaya kita menyeleweng dan mempelajari isi kitab-kitab pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, hanya mengusulkan untuk menguasai kitab-kitab itu. Tentang mempelajarinya, tentu terserah kepada suhu, bila suhu mengijinkan kita mempelajarinya untuk menambah kepandaian dan dengan demikian nama besar Kun-lun-pai akan makin meningkat, apakah itu dianggap melanggar peraturan?"
__ADS_1