
Bila dia sampai dimusuhi adalah sebagai akibat dari sikapnya yang ugal-ugalan, melayani cinta kasih wanita-wanita isteri orang lain, kemudian apa bila menghendaki setiap benda, terus diambilnya begitu saja dengan dasar bahwa yang kehilangan benda itu tidak akan menderita! Maka terjadilah perampokan benda-benda berharga milik pembesar-pembesar tinggi yang kaya raya, pencurian kitab-kitab dari partai-partai persilatan besar, permainan jinah dengan isteri-isteri cantik, dan sebagainya sehingga di dunia ini dia memiliki banyak sekali musuh!
Keng Hong bergidik ngeri. Ia tahu bahwa banyak sekali orang sakti menginginkan pusaka warisan suhu-nya yang kuncinya terdapat dalam Siang-bhok-kiam. Bagaimana kalau dia turun gunung kemudian dikejar-kejar mereka yang hendak merampas Siang-bhok-kiam? Gurunya selama ini dapat mempertahankan pedangnya, akan tetapi bagaimana dengan dia? Musuh terlalu banyak, dan di antara mereka banyak yang sakti. Betapa mungkin dia dapat menandingi mereka dan mempertahankan Siang-bhok-kiam?
"Kiranya engkau baru akan dapat menandingi kesaktian mereka itu kalau engkau sudah mempelajari semua kitab-kitab peninggalanku..." Begitu antara lain gurunya meninggalkan pesan sebelum menutup mata.
Dan rahasianya berada di Siang-bhok-kiam! Kenapa turun gunung sebelum dia mendapat bekal kesaktian yang akan cukup kuat dipakai mempertahankan Siang-bhok-kiam? Lebih baik dia mencari dan mempelajari kitab-kitab itu!
Pada esok harinya, Keng Hong mulai memeriksa dan meneliti pedang Siang-bhok-kiam. Pedang itu tidak bersarung, pedang telanjang yang terbuat dari pada bahan kayu yang berbau sedap harum. Warnanya kehijauan dan kerasnya melebihi baja!
Keng Hong meraba-raba pedang Siang-bhok-kiam sambil meneliti ukiran huruf-huruf kecil yang pernah dilihat dan dibacanya. Kini dia memeriksa dan membacanya kembali:
Kebijaksanaan tertinggi seperti air!
Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan.
__ADS_1
Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka!
Keng Hong mengerutkan kening. Sepanjang pengetahuannya, Sin-jiu Kiam-ong gurunya itu adalah orang yang paling memandang rendah para pendeta yang dia anggap sebagai orang-orang munafik yang pura-pura suci. Karena itu, pengetahuan suhu-nya mengenai kitab-kitab suci hanya sepotong-sepotong dan ngawur saja. Akan tetapi mengapa pedang itu diukir dengan bait-bait yang terdiri dari kata-kata yang hanya dipergunakan di dalam kitab-kitab suci?
Sudah jelas bahwa gurunya yang membuat huruf-huruf ini. Dia mengenal huruf tulisan suhu-nya yang bengkak-bengkok tidak dapat dikatakan indah. Namun orang yang sudah bisa menuliskan huruf-huruf kecil pada tubuh Siang-bhok-kiam, kiranya di dunia ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan! Apakah artinya huruf-huruf itu? Apakah artinya sajak yang bukan sajak, ujar-ujar yang setengah matang itu?
Keng Hong merasa seperti sering membaca kalimat-kalimat ini. Akan tetapi setelah dia ingat-ingat, dia tahu betul bahwa tidak ada ujar-ujar seperti itu bunyinya dalam kitab yang mana pun juga! Sehari semalam lamanya dia merenungi arti tiga baris tulisan ini, namun tetap saja dia tidak dapat mengerti.
Akhirnya dia berpendapat bahwa mungkin rahasianya bukan terletak di dalam baris-baris sajak yang tidak karuan ini, melainkan pada pedang itu sendiri. Diperiksanya pedang itu, ditekan sana-sini, dicarinya kalau-kalau ada bagian yang mengandung rahasia. Namun dia tak berhasil menemukan sesuatu yang aneh di pedang itu kecuali huruf-huruf tadi.
Namun, sampai sebulan sejak suhu-nya meninggal dunia, dia tidak berhasil menemukan pusaka itu di permukaan puncak batu pedang. Sementara itu, persediaan buah-buahan sudah habis. Maka diambilnya keputusan untuk meninggalkan tempat itu, sesuai dengan pesan Kiang Tojin karena dia merasa tidak berhak tinggal di situ lebih lama lagi.
Untuk penghabisan kalinya ia berlutut dan bersembahyang ke arah empat penjuru sambil menyebut nama suhu-nya, kemudian menyelipkan Siang-bhok-kiam di sebelah dalam bajunya. Ketika menyelipkan Siang-bhok-kiam ini, dia tersenyum dan menoleh ke sebuah sudut di atas permukaan puncak batu pedang.
Ia merasa girang bahwa akhirnya timbul keberaniannya untuk turun dan menghadapi apa saja dengan dada lapang. Dia sudah lupa akan watak ayah bundanya, namun dia masih ingat benar akan watak gurunya.
__ADS_1
Gurunya seorang periang, mengapa dia sebagai muridnya tidak mencontoh watak guru? Ia harus menghadapi segala rintangan yang mungkin timbul dengan hati riang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri! Dia kini bebas lepas seperti seekor burung terbang di udara. Mengapa tidak gembira?
Dengan wajah berseri, pemuda remaja yang tampan ini lalu menuruni puncak ini. Setelah mengoper sinkang darisuhu-nya sebulan yang lalu, dia merasa tubuhnya demikian penuh hawa yang amat kuat, yang membuat dia dapat meringankan tubuhnya. Menuruni tebing yang curam itu dapat dia lakukan dengan amat mudahnya, jauh lebih mudah dari pada yang sudah-sudah kalau dia turun mencari persediaan makan untuk suhu-nya dan dia.
...********************...
"Aiiih...! Tolonggg...! Lepaskan aku...!" Jerit melengking ini jelas keluar dari mulut seorang wanita.
Keng Hong yang tadinya mengira bahwa turunnya tentu akan langsung dihadang musuh, mendapatkan kenyataan bahwa Kiam-kok-san (Puncak Lembah Pedang) di bawah batu pedang sunyi saja. Akan tetapi tiba-tiba saja dia mendengar lengking yang mengerikan itu, yang membuat bulu tengkuknya berdiri! Apa lagi karena sebagai seorang yang telah tergembleng hebat, dia mendapat perasaan seolah-olah banyak pasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya.
Keng Hong tidak mempedulikan perasaan ini karena dia sudah melesat ke kiri, berlari ke arah suara yang menjerit tadi. Apa pun yang akan terjadi, sudah pasti bahwa di sana ada seorang wanita yang minta tolong, yang membutuhkan bantuan karena keselamatannya terancam.
"Jangan menolak setiap uluran tangan yang minta pertolongan," demikian pesan gurunya, "Namun waspadalah terhadap tangan yang berniat menolongmu."
Bukan karena teringat akan pesan suhu-nya, melainkan terutama sekali karena dorongan hati sendiri. Keng Hong melesat cepat untuk menolong wanita yang terancam bahaya, timbul dari dorongan welas asih yang memang sudah ada pada setiap hati manusia.
__ADS_1
Tidak lama kemudian tibalah dia di sebuah lapangan terbuka dan dia tercengang. Di situ telah berkumpul puluhan orang tosu Kun-lun-pai dan paling depan tampak penolongnya, Kiang Tojin berdiri dengan sikap angker, tangan kirinya mencengkeram pundak seorang wanita cantik yang meronta-ronta dan merintih-rintih.