
Harus berpihak yang mana? Pihak enam belas orang itu juga mempunyai pamrih yang sama, yaitu menawannya dan memaksanya menunjukkan tempat simpanan pusaka gurunya seperti juga guru-guru mereka yang dulu memperebutkan Siang-bhok-kiam adalah untuk mencari pusaka gurunya itu.
Sebaliknya, pihak kedua, dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu pun sama juga. Jelas bahwa kedua pihak itu tidak ada yang bermaksud baik terhadap dirinya.dan dia merasa kasihan kepada dua orang gadis itu yang dianggapnya berada di pihak yang harus dia bantu.
Dua melawan enam belas. Mana adil? Pula, pantaslah kalau dia kini berpeluk tangan saja menyaksikan gadis itu terancam bahaya? Bagaimana tindakan suhu-nya kalau suhu-nya menjadi dia? Pernah suhu-nya menasehatinya,
"Kalau menolong orang, tolonglah saja berdasarkan perasaan hatimu. Jangan menengok latar belakangnya, jangan melihat keadaannya, jangan pula memperhitungkan urusannya. Apa bila kau merasa kasihan dan ingin menolong, tolonglah tanpa ada perasaan pamrih lainnya. Jika tidak ada rasa kasihan dan ingin menolong seperti itu, lebih baik kau tinggal tidur dan tidak perlu melibatkan diri dengan urusan orang lain."
Keng Hong segera bangkit berdiri. Mingkinkah dia membiarkan saja dua orang gadis itu tewas? Tidak! Biar pun dia tidak suka kepada Cui Im, merasa sebal menyaksikan tingkah laku gadis itu, akan tetapi harus dia akui bahwa dia telah mengalami kesenangan dengan gadis itu dan dia merasa tidak tega kalau melihat Cui Im tewas di ujung senjata banyak lawan yang mengeroyoknya.
Apa lagi terhadap Song-bun Siu-li yang ternyata bernama Biauw Eng. Gadis ini pernah membebaskan dirinya dari kematian di ujung pedang Cui Im. Tentu saja dia tak akan tega membiarkan gadis ini mati dikeroyok.
Keng Hong lalu melompat ke dekat tempat pertempuran, sebelah tangannya memegang sebatang ranting, dan dia berseru, "Cia Keng Hong berada di sini! Siapa yang hendak menangkap aku, majulah! Mengeroyok anak-anak perempuan kecil, apa tidak malu?"
"Keng Hong, tutup mulutmu yang sombong!" Cui Im memaki marah karena dia dikatakan anak perempuan kecil. Juga dia menjadi sangat gelisah karena sekali Keng Hong keluar, terbukalah kesempatan bagi para pengeroyok untuk melarikan pemuda itu.
__ADS_1
Benar saja. Mendengar teriakan ini, sebagian besar para pengeroyok meninggalkan dua orang gadis itu dan mengejar Keng Hong! Kini yang mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng hanya tinggal enam orang saja, yaitu seorang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang murid Hoa-san-pai, dan tiga orang murid Kong-thong-pai. Ada pun yang sepuluh orang sudah berlari dan berebutan menubruk Keng Hong dengan tangan kosong karena mereka ingin menangkap pemuda itu hidup-hidup seperti yang diperintahkan guru masing-masing.
Akan tetapi tubrukan mereka itu disambut sinar yang bergulung-gulung dari ranting yang diputar oleh Keng Hong. Terdengar bunyi plak-plik-pluk pada saat ranting di tangan Keng Hong itu menyabet-nyabet mereka, ada yang terkena pipinya, ada yang terkena lehernya atau lengannya.
Mereka berseru kaget dan cepat meloncat mundur. Tidak mereka sangka bahwa sabetan ranting bisa mendatangkan rasa nyeri yang begitu hebat. Tahulah mereka bahwa murid Sin-jiu Kiam-ong ini tidak boleh dianggap remeh. Sekarang mereka maju lagi dan mulai mengirim pukulan, sungguh pun hal ini masih dilakukan dengan tangan kosong karena mereka ingin menangkapnya hidup-hidup.
Melihat datangnya pukulan-pukulan ini, Keng Hong menggerakkan rantingnya lagi. Tetapi dia merasa kaku sekali untuk memainkan Siang-bhok Kiam-sut dengan ranting itu dalam menghadapi pengeroyokan begini banyak orang.
Hujan pukulan dan cengkeraman itu ada yang dapat ditangkisnya, namun ada pula yang mengenai tubuhnya, bahkan sekarang selimut penutup tubuh belakangnya telah terlepas, bajunya yang kena dicengkeram juga mulai robek-robek. Timbulah kemarahan dalam hati Keng Hong.
Ketika seorang hwesio Siauw-lim yang mempunyai sinkang paling kuat mencengkeram ke arah pundak kirinya dengan ilmu cengkeraman Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda), dia cepat mengulur tangan kanannya memapaki cengkeraman itu hingga kedua telapak tangan itu bertumbukan di udara.
"Plakkk!!"
Hwesio dari Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main, merasa betapa lengannya tergetar dan panas. Dia cepat-cepat berusaha menarik kembali tangannya, akan tetapi sia-sia belaka, tangannya sudah melekat dengan tangan pemuda itu dan alangkah kaget hatinya ketika merasa hawa sinkang dari tubuhnya berserabutan keluar dari tubuh melalui tangannya itu, disedot oleh telapak tangan Keng Hong!
__ADS_1
Hwesio itu mengeluarkan teriakan-teriakan aneh dan teriakan-teriakan ini segera disusul teriakan-teriakan lain ketika banyak tangan sudah menempel di tubuh Keng Hong tanpa dapat ditarik kembali! Ada enam orang di antara para pengroyok yang sekarang telapak tangannya menempel di tubuh Keng Hong dan sinkang mereka membocor terus disedot oleh tubuh pemuda yang luar biasa ini.
Yang menjadi paling bingung dan juga jengah sekali adalah seorang murid perempuan Kong-thong-pai dan seorang murid perempuan Hoa-san-pai. Mereka ini adalah dua orang gadis muda yang cantik dan gagah. Kini mereka membetot-betot kedua tangan mereka tanpa hasil.
Padahal mereka tadi menyerang dari belakang sehingga tangan salah seorang di antara mereka menempel pada pinggul Keng Hong yang telanjang, sedangkan yang seorang lagi tangannya menempel pada leher pemuda itu. Dilihat begitu saja seolah-olah mereka ini sedang main gila, sedang main raba dan colek terhadap tubuh si pemuda!
Empat orang gagah yang lainnya ternganga keheranan. Akan tetapi sebagai murid-murid orang sakti mereka dapat pula menduga bahwa si pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong tentu menggunakan ilmu siluman sehingga teman-teman mereka melekat seperti itu. Seorang hwesio Siauw-lim-pai segera berkata,
"Kita kumpulkan sinkang, kemudian berbareng kita membetot!" Ia lalu memegang tangan teman-temannya yang belum tersedot sinkang-nya, kemudian mereka lantas memegang pundak mereka yang tersedot dan bersiap-siap mengerahkan kekuatan secara berbareng untuk menarik. Agar dapat menarik berbareng, hwesio itu memberi aba-aba.
"Satu... dua... tiga, tarikkk…!"
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati mereka ketika tiba-tiba saja tangan empat orang yang lain ini pun amblas seperti air dicampurkan ke dalam lautan! Jangan kata menarik teman-teman yang sudah melekat, menarik diri sendiri pun tidak sanggup lagi karena tenaga mereka yang digunakan untuk menarik itu tidak mendapatkan tempat berpijak, melainkan molos mengalir masuk melalui tubuh yang mereka pegang kemudian mengoperkan hawa sinkang ini ke dalam tubuh Keng Hong!
Keng Hong sendiri mulai merasa bingung. Seperti yang pernah dia alami di Kun-lun-pai, kini pun dia merasa betapa tubuhnya kebanjiran hawa sinkang, dadanya serasa hampir meledak-ledak, kepalanya bagai menjadi sebesar gentong beras, terus berdenyut-denyut, matanya merah membelalak dan hampir terloncat keluar dari pelupuknya, seluruh tubuh terasa berdenyutan dan gatal-gatal panas.
__ADS_1