
"Maafkan saya, Totiang. Sebelum menyerahkan pedang ini ingin sekali saya menerima petunjuk Totiang dalam hal ilmu silat."
Kiang Tojin tertawa, "Ha-ha-ha, memang sejak dahulu engkau keras hati. Baiklah, Keng Hong. Kau boleh menyerangku, pinto juga ingin melihat sampai di mana hasilmu berguru kepada mendiang Sin-jiu Kiam-ong! Mulailah!"
Biar pun belum pernah menggunakan kepandaian yang dipelajarainya selama lima tahun itu untuk bertanding dalam pertempuran sungguh-sungguh, akan tetapi Keng Hong sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat tinggi. Juga dia selalu ingat akan semua nasehat dan petunjuk suhu-nya. Ia ingat akan nasehat gurunya bahwa bagi seorang yang sudah tinggi ilmu silatnya, lebih baik diserang lebih dahulu dari pada menyerang, karena lawan yang menyerang itu otomatis akan membuka bagian yang kosong sehingga mudah ‘dimasuki’ dalam serangan balasan yang dilakukan otomatis pula.
Karena dia tahu bahwa Kiang Tojin adalah lawan yang amat berat, maka setelah berseru keras dia maju memukul dengan gerakan perlahan dan berhati-hati, hanya menggunakan seperempat bagian perhatiannya saja untuk menyerang, yang tiga perempat bagian dia cadangkan untuk penjagaan diri agar begitu lawannya membalas, dia dapat menghindar dengan elakan atau tangkisan.
"Wuuuttt!" Pukulan tangan kanannya menyambar, mendatangkan angin yang kuat.
"Bagus...!" Kiang Tojin berseru, kagum melihat kenyataan betapa kuatnya pukulan Keng Hong sehingga tidak mengecewakan menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong karena dia sendiri tidak akan sanggup melatih seorang murid selama lima tahun sudah memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya. Namun diam-diam dia kecewa menyaksikan gerakan-gerakan yang amat sederhana itu, padahal dia tadinya mengira bahwa ilmu silat yang diturunkan kakek raja pedang itu kepada muridnya tentu hebat.
Melihat pukulannya hanya dielakkan Kiang Tojin dan ternyata tosu itu sama sekali tidak membalasnya, bahkan jelas menunggu serangan selanjutnya, tahulah Keng Hong bahwa tosu penolongnya ini benar-benar hanya ingin mengujinya. Pujian yang keluar dari mulut Kiang Tojin itu membuat telinganya merah. Sudah jelas bahwa dia tadi memukul dengan gerakan sederhana saja, bahkan dengan tenaga yang hanya seperempatnya, bagaimana bisa di sebut bagus? Apakah tosu penolongnya ini mengejeknya?
Biarlah, kalau aku kalah biar kalah, roboh di tangan tosu yang menjadi tokoh kedua dari Kun-lun-pai ini, apa lagi yang menjadi penolongnya, tidaklah amat memalukan. Maka dia pun berkata,
__ADS_1
"Totiang, maafkan kelancanganku!"
Seruan ini dia tutup dengan gerakan menyerang. Kini Keng Hong tidak mau diejek untuk kedua kalinya. Ia mengerahkan sinkang dari pusarnya. Hawa panas meluncur cepat ke arah kedua lengannya dan dia menggunakan ginkang-nya. Tubuhnya melesat bagaikan kilat menyambar ke arah Kiang Tojin dan sekaligus dia memukulkan kedua tangannya dalam serangan berantai.
Harus diketahui bahwa dalam silat tangan kosong, Keng Hong belum dapat dikatakan lihai. Ia hanya digembleng dengan pengertian dan gerakan-gerakan dasar ilmu silat saja. Setiap gerakan tangan dan geseran kaki memang dapat dia lakukan dengan mahir, tetapi rangkaian ilmu silat belum banyak dia pelajari karena waktunya tidak mengijinkan.
Dari suhu-nya dia hanya baru dapat memetik ilmu silat tangan kosong yang oleh gurunya dinamai San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) yang diambil dari keadaan di puncak Kiam-kok-san. Ilmu silat ini merupakan gerakan-gerakan inti ilmu silat tinggi, namun diatur amat sederhana sehingga hanya terdiri dari delapan buah jurus serangan saja!
Dalam serangan ke dua ini Keng Hong yang tidak mau diejek itu sudah mempergunakan jurus yang disebut Siang-in-twi-an (Sepasang Awan Mendorong Gunung). Kedua kakinya masih di udara ketika dia melompat, namun siap melakukan tendangan susulan sebagai perkembangan jurus ini, ada pun kedua lengannya didorong ke depan secara bergantian sambil mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya.
"Siancai...!" Kiang Tojin terkejut bukan kepalang.
Ia sudah merasa amat kagum melihat tenaga pada serangan pertama tadi, tapi serangan kedua ini benar-benar membuat ia kaget karena serangan ini bukan merupakan serangan main-main dari seorang pemuda yang baru lima tahun belajar ilmu silat!
Serangan ini lebih pantas kalau dilakukan seorang tokoh persilatan yang sudah melatih diri selama puluhan tahun! Tenaga pukulan itu dapat dia ukur dari angin yang menyambar dan biar pun Kiang Tojin sendiri tidak berani menerima pukulan sehebat itu.
__ADS_1
Cepat tosu itu meloncat ke samping dan memutar tubuhnya sambil mengangkat tangan karena melihat kedudukan tubuh Keng Hong di udara itu dia maklum bahwa pemuda ini akan melanjutkan jurus itu dengan tendangan. Dugaannya memang tepat, karena itu baik dorongan tangan mau pun tendangan Keng Hong hanya mengenai angin belaka, dan hanya berhasil membuat pakaian tosu itu berkibar.
Ketika serangan kedua ini gagal, Keng Hong yang khawatir kalau-kalau menerima akan serangan balasan, lalu segera menggunakan ginkang-nya dan di udara tubuhnya sudah berjungkir balik dibarengi seruannya yang keras sekali. Tubuhnya berputaran di angkasa dan membalik, lalu meluncur turun dan langsung menyerang untuk ketiga kalinya ke arah Kiang Tojin yang masih berdiri terbelalak.
Gaya serangan tadi saja sudah membayangkan ilmu silat yang luar biasa sekali, apa lagi tenaga serangan itu yang membuat kulit tubuhnya terasa pedas dan dingin sekali, maka kini tosu ini melongo menyaksikan ginkang sehebat itu. Tapi pada detik berikutnya, tubuh pemuda ini sudah meluncur dan menyerangnya dari atas seperti seekor burung garuda menyambar.
Sekali ini Keng Hong menggunakan jurus ke delapan atau jurus terakhir dari ilmu silat San-in Kun-hoat, yaitu jurus yang disebut In-keng Hong-i (Awan Menggetarkan Angin dan Hujan). Jurus inilah yang paling sukar dimainkan, karena keempat kaki tangan melakukan serangan dari atas secara bertubi-tubi.
Keng Hong yang ingin memperlihatkan apa yang telah dia pelajari dari suhu-nya supaya tidak dipandang rendah, telah menggerakkan kedua kakinya susul-menyusul menendang ke arah dada dan perut, disusul dengan hantaman tangan kiri yang terkepal ke arah leher dan akhirnya dengan jari terbuka ke arah ubun-ubun kepala lawannya!
Benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mengandung tenaga mukjijat karena pada saat itu dia mempergunakan seluruh hawa sinkang di tubuhnya yang dia lancarkan melalui kedua tangan dan kakinya! Ketika dia marah-marah kepada diri sendiri di puncak batu pedang, dengan pukulan seperti inilah dia telah menggempur batu menonjol hingga batu setinggi orang itu telah hancur lebur.
"Hayaaaa...!" Kiang Tojin benar-benar kaget sekali sekarang.
Ia maklum bahwa sedikit pun dia tidak boleh memandang ringan serangan ini dan dia pun maklum bahwa serangan ini terlalu dahsyat dan berbahaya. Maka dia lalu mengerahkan perhatian dan tenaganya.
__ADS_1