
Setelah dia merebahkan tubuh yang masih hangat dan tak bernyawa lagi itu di atas tanah bertilam rumput yang juga hangat dan rebah semua karena tindihan tubuh mereka berdua semalam, dia meloncat dan mencari-cari dengan pandang matanya. Namun keadaan di sekeliling tempat itu sunyi dan agak gelap.
Dia maklum bahwa akan percuma saja dia mencari Biauw Eng. Maka dia lalu berlutut lagi dan memeluk tubuh gadis yang semalam sudah menyerahkan segala-galanya kepadanya dengan penuh kasih sayang, penuh kemesraan dan kehangatan.
"Ciang Bi... ahh, Bi-moi...!" Keng Hong teringat akan sikap gadis ini semalam dan dengan hati penuh keharuan dia menundukkan muka, kemudian mencium mulut mayat itu yang semalam membisikan kata-kata cinta kepadanya.
"Cici...! Cia-taihiap, ada apakah...?"
Sim Lai Sek melompat keluar dari gubuk. Sepasang matanya yang masih mengantuk itu belum dapat melihat jelas, hanya dia tadi terbangun mendengar jerit cici-nya.
Keng Hong mengangkat mukanya dan dua titik air mata menetes turun. Kini Lai Sek dapat melihat pelipis cici-nya dan melihat pula darah membasahi leher dan baju, melihat bahwa tubuh cici-nya telah lemas tak bernyawa.
"Cici...!!" Ia menubruk, berlutut dan menangis, memanggil-manggil nama cici-nya.
Keng Hong hanya memandang dengan penuh keharuan, lalu memegang pundak pemuda itu sambil berkata halus, "Dia... sudah mati..."
__ADS_1
Tiba-tiba Lai Sek meloncat bangun. Tangan Keng Hong yang menyentuh pundaknya itu terasa olehnya seperti serangan seekor ular berbisa.
"Kau...! Kau... telah membunuh cici...! Kau... telah berpura-pura menjadi pendekar berbudi yang menolong kami, merayu cici, memperkosanya... kemudian membunuhnya...!"
Sim Lai Sek menerjang maju dengan pukulan tangannya ke arah kepala Keng Hong, akan tetapi sekali tangkis, tubuhnya terpelanting ke atas tanah. Akan tetapi dia bangkit kembali dengan kemarahan meluap.
"Sabar dan tenanglah, siauwte, bukan aku yang membunuhnya. Lihat, pelipisnya terluka oleh senjata rahasia..."
"Aku tahu! Senjata rahasia ini adalah senjata rahasia wanita yang menolongmu. Dia tentu sahabatmu, atau... kekasihmu! Tentu dia melihat engkau merayu dan memperkosa cici, lalu ia membunuh cici. Sama saja, berarti engkau yang telah membunuh cici-ku, keparat!"
Lai Sek menerjang kembali sehingga Keng Hong terpaksa meloncat pergi. Dia tidak dapat membantah lagi karena omongan atau tuduhan itu mendekati kenyataan. Hanya dia tidak merasa memperkosa Ciang Bi dan baru sekarang dia tahu bahwa pemuda remaja ini agaknya malam tadi telah melihat dia bermain cinta dengan Ciang Bi!
"Siauwte, aku menyesal sekali... tetapi demi Tuhan, aku tidak bermaksud mencelakakan dia. Bukan aku yang membunuhnya dan... sekiranya aku tidak sedang tidur pulas, tentu aku dapat melindunginya... akan tetapi..."
"Laki-laki laknat! Jai-hwa-cat! Setelah engkau memperkosa cici, engkau bisa saja bicara seenakmu! Engkau sudah mempunyai kekasih yang bersenjata bola putih itu! Akan tetapi engkau masih merayu enci-ku! Hayo katakan, apakah engkau berniat mengawini enci-ku? Apakah engkau berniat mengambil dia sebagai isteri?"
__ADS_1
Keng Hong menghela napas dan menggelengkan kepala. Urusan ini amat pelik dan tidak boleh dia main-main dan membohong. "Tidak, kami memang saling suka dan hubungan cinta kami dilakukan dengan kesadaran kami berdua, dan aku sudah menjelaskan kepada Bi-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya..."
"Keparat! Jahanam! Sudah kuduga seperti itu! Kalau aku tahu tentu malam tadi sudah kuremukkan kepalamu!" Lai Sek kembali berteriak-teriak dan menerjang maju.
Keng Hong merasa bingung dan berduka sekali. Dia maklum bahwa tidak mungkin dia dapat menenangkan dan menyabarkan hati pemuda yang sedang diamuk kemarahan dan kesedihan itu, maka dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri, pergi dari tempat itu. Jalan satu-satunya yang paling baik hanyalah menjauhkan diri pada saat seperti itu.
Perhitungannya memang tepat. Setelah maklum bahwa tak mungkin mengejar Keng Hong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, Lai Sek kembali berlutut dan menangisi jenazah kakaknya dengan sedih. Setengah malam dia menangis sampai matahari muncul dan penduduk dusun pergi ke sawah ladang.
Para penduduk terheran dan terkejut, apa lagi setelah mendengar dari pemuda itu bahwa kakak perempuan pemuda itu malam tadi telah terbunuh oleh penjahat. Mereka menaruh kasihan dan beramai-ramai mereka itu membantu Lai Sek mengurus jenazah Ciang Bi dan menguburnya di tanah perkuburan dusun itu secara sederhana.
Pada keesokan harinya, ketika malam sedang gelap, sesosok bayangan hitam datang ke dalam tanah perkuburan itu dan berlutut di hadapan gundukan tanah yang masih baru. Bayangan ini menangis dan dia bukan lain adalah Keng Hong!
Sampai semalam dia berkabung dengan penuh kedukaan di depan kuburan itu, dan baru pada esok harinya dia meninggalkan kuburan baru itu, pergi secepatnya meninggalkan dusun di mana Ciang Bi dikuburkan, meninggalkannya sambil membawa pergi kenangan sedih yang tak akan pernah dapat terlupakan. Hatinya penuh kedukaan, bukan semata karena kematian Ciang Bi, akan tetapi yang lebih dari pada itu, adalah karena kekejaman Biauw Eng!
Ia suka kepada Biauw Eng, perasaan suka yang aneh dan berbeda kalau dibandingkan dengan rasa suka kepada wanita lain seperti kepada Cui Im dan Ciang Bi. Suka bukan semata karena kecantikan gadis puteri Lam-hai Sin-ni itu, melainkan karena pribadinya, dan mungkin sekali karena dia mengingat bahwa gadis itu adalah puteri suhu-nya, puteri Sin-jiu Kiam-ong! Inilah agaknya yang membuat dia merasa suka kepada gadis itu, dan kini kenyataan betapa puteri suhu-nya itu berhati kejam seperti iblis, membunuh Ciang Bi yang sama sekali tidak berdosa, benar-benar mendatangkan rasa duka di hatinya di samping rasa marah terhadap Biauw Eng.
__ADS_1
Keng Hong melakukan perjalanan cepat, tujuannya adalah Kun-lun-san karena dia ingin kembali ke Kiam-kok-san, yaitu puncak di mana terdapat batu pedang tempat suhu-nya menggemblengnya selama lima tahun. Dia harus pergi ke tempat itu, mengambil pedang Siang-bhok-kiam yang memang dia sembunyikan di puncak Kiam-kok-san!
Ketika dia turun gunung setelah tak berhasil mencari rahasia penyimpanan barang-barang pusaka gurunya, dia maklum akan bahayanya kalau dia membawa Siang-bhok-kiam turun gunung, maka dia segera membuat sebuah pedang tiruan, pedang dari kayu harum pula yang dia dapatkan di puncak, pedang yang mirip sekali dengan Siang-bhok-kiam.