Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 10 part 3


__ADS_3

Dalam kegembiraannya, Keng Hong tadi hampir lupa akan janjinya, maka sambil tertawa dia kemudian berhenti dan menghadapi kakek itu lagi. Dia mengerutkan alisnya, berpikir dan mengingat-ingat. Banyak filsafat hidup yang dia ketahui, dan dalam kesempatan itu, dia akan mengajukan pertanyaan yang dia sendiri belum dapat menjawabnya dan yang jawaban kakek itu akan dapat menambah pengertiannya tentang hidup dan mati.


"Pertanyaan pertama, Locianpwe. Untuk apa manusia hidup harus melakukan kebajikan?"


"Heh-heh-heh, baru pertanyaanmu itu saja sudah tidak tepat, orang muda. Pertanyaanmu itu menyatakan bahwa seakan-akan kebajikan harus dilakukan untuk sesuatu. Padahal, sesuatu yang dilakukan dengan pamrih, bukanlah kebajikan lagi namanya. Seharusnya pertanyaan itu berbunyi: Mengapa manusia hidup harus melakukan kebajikan? Nah, untuk pertanyaan ini kujawab begini dan dengarlah baik-baik karena setiap orang manusia perlu mengetahui dan sadar akan hal ini."


Keng Hong mengangguk-angguk dan mendengarkan penuh perhatian.


"Kebajikan merupakan kewajiban manusia hidup sebab hidup itu harus sesuai dan selaras dengan alam, maka untuk menyesuaikan diri dengan alam yang memberi manfaat kepada setiap benda, manusia pun harus memanfaatkan diri sebagai bagian dari pada alam. Ada pun pemanfaatan diri inilah yang mewajibkan manusia untuk mengisi hidupnya dengan kebajikan. Kebajikan berarti segala perbuatan baik yang ditujukan kepada orang lain atau sesama hidup. Perbuatan baik dalam arti kata berbuat demi keuntungan dan kesenangan orang lain. Sebab itu harus tanpa pamrih karena dengan demikian barulah kebajikan ini wajar, seperti alam sendiri yang memberi tanpa meminta, tanpa pamrih. Kebajikan yang dilakukan dengan pamrih berarti palsu, hanya merupakan kedok untuk menutupi nafsu sendiri. Contohnya, kalau engkau menolong seseorang dengan pamrih rahasia dalam hati sendiri yaitu agar supaya engkau memperoleh pujian, maka perbuatanmu menolong itu sebenarnya bukanlah kebajikan karena pada dasarnya bukan untuk menolong melainkan melakukan daya upaya agar memperoleh pujian! Andai kata di sana tidak ada harapan untuk memperoleh pujian, tentu saja engkau tidak akan suka melakukan perbuatan itu. Kebajikan sejati yang tanpa pamrih, adalah kebajikan yang dilakukan dengan kesadaran bahwa itu adalah sebuah kewajiban mutlak dalam hidup. Bila manusia telah membiasakan diri meletakkan kebajikan sebagai kewajiban hidup, maka pamrihnya akan lenyap karena perbuatan itu tidak dianggapnya baik atau buruk lagi, tetapi pelaksanaan tugas kewajiban hidup. Dan sebagaimana biasa, setiap kewajiban jika sudah dilakukan dengan baik, akan mendatangkan rasa lega di hati dan lapang di dada."

__ADS_1


Keng Hong mengangguk-angguk. Banyak sudah dia membaca uraian tentang kebajikan yang harus dilaksanakan manusia hidup di dunia ini, ada yang muluk-muluk uraiannya, ada yang berbelit-belit. Uraian kakek ini sederhana sekali dan gamblang, mudah untuk dimengerti dan juga mudah diterima oleh akal.


Benda apakah yang tidak ada guna atau manfaatnya di dunia ini? Semua ada manfaatnya bagi makhluk lain, memberi, memberi dan memberi tanpa pamrih. Buah-buahan di pohon, bunga-bunga yang indah, tanah dan air, angin dan hujan, matahari dan bulan, binatang-binatang.


Manusia berakal budi, masa kalah dengan yang lain dalam mengusahakan agar dirinya bermanfaat bagi dunia dan isinya? Tentu saja manfaat yang ditimbulkan oleh perbuatan yang berguna dan menguntungkan sesamanya. Tidak melakukan kebajikan berarti sudah mengabaikan kewajiban hidup, apa lagi jika melakukan hal yang menjadi lawannya, yaitu kejahatan!


Kakek itu terkekeh. "Ha-ha-ha, jangan engkau memasukkan dirimu ke dalam kelompok mereka yang merasa ngeri menghadapi kematian, orang muda. Patut dikasihani mereka itu yang takut menghadapi pengalaman yang belum pernah dialaminya itu, ketakutan oleh karena bayangan-bayangan sendiri. Aku lebih condong kepada pelajaran Nabi Khong-cu yang mengingatkan para muridnya kenapa ingin mengetahui tentang kematian sedangkan tentang hidupnya sendiri saja belum tahu artinya dan belum mampu mengisinya dengan sempurna? Seperti lahir bukan kehendak manusia, mati pun bukan kehendak manusia, oleh karena itu lebih baik tentang kematian kita serahkan saja pada Pengurusnya karena itu bukanlah urusan atau wewenang manusia yang masih hidup. Yang sekarang paling penting adalah mengisi hidup, mempelajari tentang soal peri kehidupan serta lika-likunya, seluk-beluknya karena kita adalah manusia yang harus hidup selaras dan sesuai dengan kehendak alam, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan apa yang ada di sekeliling kita. Menyesuaikan diri terhadap manusia lain yang kita hadapi. Menyesuaikan ke dalam lingkungan masyarakat di mana kita tinggal. Menyesuaikan diri dengan keadaan. Dengan menyesuaikan diri berarti tidak menentang karena hanya pertentangan yang akan dapat menimbulkan keretakan dan juga kehancuran. Penyesuaian diri tentu akan menimbulkan kerukunan, kecocokan dan dalam keadaan seperti ini, akan lebih mudah memanfaatkaan diri seperti yang telah kusinggung-singgung tadi tentang kewajiban manusia untuk mengisi hidup dengan kebajikan."


Keng Hong yang hatinya masih diliputi ketegangan dan kegembiraan akibat merasa dapat memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam, menganggap sudah cukup mengobrol tentang hal yang amat tinggi dan sukar itu, maka ia cepat menjura dengan hormat dan berkata,

__ADS_1


"Locianpwe, saya menghaturkan banyak terima kasih untuk semua wejangan Locianpwe yang amat berharga bagi saya. Harap Locianpwe maafkan bahwa saya tidak dapat lebih lama lagi melayani Locianpwe."


"Eh-ehh-ehh, nanti dulu, orang muda. Engkau sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang semua sudah kujawab. Sekarang tiba giliranku untuk bertanya tentang…"


"Saya mengaku kalah, Locianpwe. Memang Locianpwe sangat hebat dalam soal filsafat dan saya patut menjadi murid Locianpwe, bagaimana saya berani beradu debat dengan Locianpwe? Sudahlah, saya mengaku kalah dan kelak bila mana kita ada kesempatan bertemu kembali, tentu saya akan menyediakan lebih banyak waktu untuk mendengarkan wejangan-wejangan Locianpwe yang amat berharga. Selamat tinggal!"


Keng Hong tidak memberi kesempatan lagi kepada kakek itu untuk membantah karena dia sudah cepat berkelebat melarikan diri sambil mengerahkan tenaganya. Ia mendengar kakek itu memanggil-manggil, namun dia tidak peduli dan berlari terus secepatnya.


Dia kagum akan pengetahuan kakek itu tentang kitab-kitab suci dan ayat-ayatnya, kagum akan pandangan kakek itu tentang hidup. Akan tetapi dia merasa sangsi apakah kakek itu sudah dapat mengetrapkan semua teori dalam praktek, apakah kakek itu sudah dapat menyesuaikan tiga serangkai yang tak boleh dipisah-pisahkan dalam ilmu kebatinan, yaitu sesuainya hati, kata, perbuatan. Dia belum pernah menyaksikan sepak terjang kakek itu, akan tetapi orang itu telah berani memakai julukan Kuncu (Budiman Bijaksana) sungguh amat meragukan!

__ADS_1


__ADS_2