Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 04 part 8


__ADS_3

Ia berhasil merobek sapu tangan dengan ujung rantingnya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa serangan sapu tangan itu hanya pancingan belaka karena pada detik berikutnya, Cui Im sudah membanting sebuah benda seperti bola yang tadinya disembunyikan di balik sapu tangan.


Bola itu mengeluarkan suara ledakan dan asap hitam mengelilingi Keng Hong. Pemuda itu terkejut sekali dan melompat, namun terlambat. Dia telah menghisap asap hitam yang berbau amis, kepalanya pening, pandang matanya berkunang.


Ia terhuyung-huyung dan di dalam kegelapan asap itu pedang Cui Im menyambar dan menusuk lambungnya. Keng Hong masih sempat menangkis sambil mengerahkan tenaga.


“Tranggg...!" Pedang merah terlepas dari tangan Cui Im.


Akan tetapi pada saat itu Keng Hong terguling karena sebuah tendangan gadis itu tepat mengenai lutut kananya. Keng Hong terguling roboh, pandang matanya gelap, napasnya terengah-engah sehingga makin banyak asap hitam tersedot olehnya!


Cui Im menjadi girang sekali. Dia sudah menubruk ke depan setelah menyambar pedang merahnya, disabetkan ke arah leher pemuda yang sudah tak berdaya lagi itu.


"Singgggg... tranggg...!"


Cui Im menahan jeritnya ketika pedangnya yang sudah meluncur itu tiba-tiba tertahan di tengah udara, hanya beberapa senti meter lagi dari leher Keng Hong, dan terlepas dari tangannya kemudian terbang ke atas, terampas oleh segulung sinar putih yang datang menyambar secepat kilat.


"Suci (kakak perempuan seperguruan) apa yang hendak engkau lakukan itu?" Terdengar teguran halus dan ternyata di situ telah berdiri seorang gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun, berpakaian sutera putih dengan garis-garis pinggir biru, memegang sehelai sabuk sutera putih panjang yang tadi dipergunakan secara luar biasa sekali untuk merampas pedang di tangan Cui Im.


"Sumoi (adik perempuan seperguruan)...! Engkau...??" teriak Cui Im dengan suara kaget dan jeri.


Memang aneh kelihatannya. Mengapa Cui Im seorang kakak seperguruan takut terhadap adik seperguruannya? Namun kenyataannya begitulah.

__ADS_1


"Nih, kukembalikan pedangmu, Suci!" kata pula gadis baju putih itu.


Sekali menggerakkan pergelangan tangan yang memegang sabuk sutera putih, pedang merah itu meluncur ke arah Cui Im yang cepat menyambutnya dan menyimpannya. Gadis baju putih itu lalu menggerakkan sabuknya yang menyambar ke arah Keng Hong laksana seekor ular hidup, melibat-libat tubuh pemuda yang masih pening dan mabuk itu, lantas sekali betot, tubuh Keng Hong melayang ke dekat gadis itu.


Cui Im memandang dengan muka berubah merah karena penasaran ketika sumoi-nya mengeluarkan segulung sutera hitam, kemudian mengikat dua pergelangan tangan Keng Hong yang masih rebah terlentang kebingungan. Setelah mengikat dua tangan pemuda itu secara hati-hati, gadis baju putih ini lalu memakai kembali sabuknya, dilibat-libatkan di pinggangnya yang ramping.


"Sumoi mengapa kau tawan dia? Dia itu... punyaku! Aku yang menangkap dia, dan aku yang berhak atas dirinya. Dia itu kekasihku!" teriak Cui Im dengan nada penasaran dan marah, namun dia tetap tidak berani mengeluarkan ucapan kasar terhadap sumoi-nya ini.


"Hemmm, kulihat kau tadi hendak membunuhnya," kata si gadis baju putih dengan suara halus dan tenang.


"Karena dia adalah punyaku, aku berhak melakukan apa saja terhadapnya. Aku hendak membunuhnya karena dia tidak memenuhi permintaanku untuk mencari pusaka-pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong."


"Aku tahu semua itu, Suci. Hanya aku tak senang melihat engkau hendak membunuhnya. Ibu sendiri yang menyuruh aku menyusulmu dan mengawasi gerak-gerikmu. Dan harus kukatakan bahwa apa yang kulihat semalam tadi dan saat ini, sungguh mengecewakan sekali. Kau terlalu menurutkan nafsu, nafsu birahi dan nafsu kemarahanmu. Yang dicari belum didapat, mengapa hendak membunuh dia? Ibu yang menyuruh aku menangkapnya dan membawanya kepada ibu."


"Sudahlah, Suci. Mari kita pergi menghadap ibu dan kau boleh bicara sendiri kepada ibu."


"Tapi subo (ibu guru)..."


"Sudahlah!" Gadis baju putih itu membentak sehingga suci-nya terdiam.


Kemudian gadis baju putih itu menggerakkan bibir diruncingkan dan terdengarlah suara suitan melengking yang amat nyaring. Tak lama kemudian terdengar suara roda gerobak yang dilarikan kuda cepat sekali menuju ke tempat itu.

__ADS_1


Ternyata kemudian bahwa gerobak itu ditarik oleh empat ekor kuda besar, dikusiri oleh seorang wanita muda yang cantik, ada pun di belakang gerobak itu masih ada tiga orang wanita setengah tua yang cantik-cantik dan bersikap garang. Empat wanita yang datang ini semuanya memakai pakaian kuning dan di punggung mereka tampak gagang pedang.


"Masukkan dia ke dalam kereta, aku sendiri yang akan menjaganya bersama suci," kata gadis itu memberi perintah kepada tiga orang wanita setengah tua yang sudah melompat turun dari kuda.


Tanpa bicara sesuatu, mereka lalu mengangkat tubuh Keng Hong dan memasukannya ke dalam kereta, didudukkan di atas bangku menghadap ke belakang. Keng Hong masih pening kepalanya, menyadarkan diri dan meramkan mata, mulai mengumpulkan hawa sakti untuk mengusir hawa beracun yang mengotorkan dada dan kepalanya.


"Kalian berempat berangkatlah lebih dulu memberi laporan kepada ibu bahwa orang yang dikehendaki sudah tertawan. Biar suci yang menggantikan menjadi kusir dan aku yang mengawal orang ini. Berangkatlah!"


Empat orang itu mengangguk. Wanita muda yang tadi menjadi kusir diboncengkan oleh seorang di antara mereka dan tiga ekor kuda itu lalu membalap ke sebelah depan. Cui Im menghela napas panjang penuh kekecewaan, akan tetapi tanpa banyak membantah dia lalu pindah duduk ke depan dan menjadi kusir. Ada pun gadis baju putih itu kini duduk berhadapan dengan Keng Hong.


Dengan gemas Cui Im mencambuk empat ekor kuda itu yang segera membedal sambil mengeluarkan suara meringkik keras. Roda-roda kereta menderu-deru di atas jalan yang berbatu, dan guncangan-guncangan ini membuat Keng Hong cepat sadar kembali.


Sejak tadi Keng Hong tidak pingsan, hanya pening dan pandangan matanya berkunang. Namun dia masih dapat mengikuti dengan jelas apa yang telah terjadi dan dapat mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh gadis baju putih yang membelenggunya dan kini duduk di depannya. Kalau tidak ada gadis ini, tentu lehernya telah putus dan nyawanya melayang oleh pedang merah Cui Im.


Ia merasa heran sekali mengapa sumoi dari Cui Im ini kelihatannya jauh lebih lihai dari pada Cui Im sendiri dan amat ditaati oleh suci-nya. Akan tetapi dia mengetahui semua itu sebagian besar hanya dari ketajaman pendengarannya saja karena tadi matanya masih berkunang dan kabur pandangannya.


Sekarang, sesudah dia mengusir sisa hawa beracun, dibantu guncangan kereta itu yang membuat pandangan matanya terang kembali, dia lalu membuka mata memandang nona yang duduk anteng di depannya. Mula-mula yang mempesona Keng Hong adalah kedua mata itu.


Sepasang mata yang amat luar biasa indahnya, mengingatkan Keng Hong akan bintang-bintang di langit, dengan cahaya hangat lembut seperti sinar matahari pagi, bening bagai air telaga, tajam melebihi pedang pusaka, akan tetapi di balik semua keindahan itu jelas tersembunyi sifat dingin yang sangat menyeramkan!


Mata itu agaknya bisa menangkap kesadarannya akan tetapi hanya sekilas saja menyapu wajahnya, kemudian mata itu memandang lagi ke depan, seakan-akan dapat menembus segala yang berada di depannya.

__ADS_1


Kemudian pandang mata Keng Hong merayapi wajah itu dan dia makin terpesona. Gadis yang jauh lebih muda dari Cui Im ini, yang usianya ditaksir tak akan lebih tua dari dirinya sendiri, memiliki wajah yang amat cantik jelita.


__ADS_2