
MEREKA menuju ke sebuah dusun kemudian dengan bantuan para penduduk di situ, lima buah jenazah itu dikubur secara sederhana. Ketika enam orang murid Kong-thong-pai itu berlutut sambil menangis di depan gundukan kuburan itu, Keng Hong yang terbelenggu kedua lengannya turut pula menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan Kok Cin Cu dan berbisik lirih,
"Totiang tentu mengerti bahwa bukan niatku membunuh Totiang berlima."
Enam orang Kong-thong-pai itu menjadi heran melihat Keng Hong berlutut pula sambil berkemak-kemik di depan kuburan guru mereka, akan tetapi mereka diam saja. Mereka membenci pemuda ini yang sudah menewaskan guru mereka, akan tetapi mereka tidak berani bersikap kasar karena mereka tahu diri dan mengerti pula bahwa pemuda itu dapat mereka belenggu karena pemuda itu sengaja menyerahkan diri.
Kewajiban mereka hanya menggiring pemuda ini ke Kong-thong-pai lalu menyerahkannya kepada para pimpinan Kong-thong-pai. Mereka tahu bahwa walau pun kedua lengannya telah dibelenggu, apa bila pemuda itu memberontak, agaknya mereka berenam bukanlah lawannya.
Dua orang wanita anak murid Kong-thong-pai itu, di samping menyimpan rasa benci dan dendam akibat kematian gurunya, ada perasaan lain yang amat mengganggu hati mereka dan yang sekaligus menghapus rasa benci dari hati mereka. Mereka berdua merasa amat kagum kepada Keng Hong. Kagum akan kelihaian pemuda itu, juga kagum akan sikapnya yang tenang dan gagah, kagum pula akan ketampanan wajahnya dan kebagusan bentuk tubuhnya.
Apa lagi bagi Kiu Bwee Ceng, wanita cantik berbaju kuning yang sudah dua kali bertemu dengan Keng Hong, yaitu pertama kalinya ketika dia dan para saudara seperguruannya bersama murid-murid Siauw-liam-pai dan Hoa-san-pai menghadang pemuda ini, bahkan dia pernah mengalami tersedot sinkang-nya oleh pemuda yang aneh ini. Dia kagum sekali akan kegagahan Keng Hong.
__ADS_1
Kiu Bwee Ceng ini adalah seorang janda muda dan usianya mendekati tiga puluh tahun. Suaminya telah meninggal dunia dan dahulu suaminya adalah murid kepala dari Kok Cin Cu, maka tentu saja ilmu kepandaiannya paling tinggi di antara para suheng-suheng-nya. Setelah suaminya tewas dalam pertempuran melawan gerombolan penjahat, Bwee Ceng menjadi janda. Sukar baginya untuk menemukan seorang pria yang mampu menandingi suaminya. Bagaimana hatinya tak akan menjadi tertarik?
Apa lagi karena ia dapat pula menduga bahwa dua orang gadis cantik jelita murid Lam-hai Sin-ni yang amat lihai itu agaknya tergila-gila pula kepada Keng Hong. Ketika tadi melihat betapa Keng Hong membentak dan mengusir Song-bun Siu-li yang kelihaiannya terkenal sebagai seorang iblis betina yang mengerikan, dia menjadi makin tertarik.
Ada pun wanita ke dua yang berpakaian biru adalah Tang Swat Si, sumoi-nya. Wanita ini masih gadis meski pun usianya sudah dua puluh lima tahun. Swat Si memiliki wajah yang cantik dengan bentuk tubuh yang indah sehingga banyak pria yang jatuh cinta kepadanya. Banyak pula datang lamaran, akan tetapi gadis ini selalu menolaknya karena tidak ada seorang pun di antara para pelamar itu yang menggerakkan hatinya.
Sekarang bertemu dengan Keng Hong, tiba-tiba saja hatinya menjadi tiak karuan rasanya. Berkali-kali gadis ini mencuri pandang, mengerling ke arah tubuh belakang Keng Hong, melihat pinggulnya, punggung dan paha yang telanjang sebagian akibat pakaiannya telah robek-robek termakan oleh pecut baja Kok Cin Cu tadi.
Bwee Ceng agaknya maklum akan gerak-gerik sumoi-nya. Sebagai seorang wanita yang pernah bersuami, dia lebih berpengalaman dan melihat gerak-gerik sumoi-nya, dia dapat menduga bahwa sumoi-nya terserang penyakit yang sama dengan dia sendiri. Diam-diam dia mendekatinya sumoi-nya sehingga mereka berjalan berendeng, agak jauh dari empat orang suheng mereka.
Bwee Ceng menowel lengan sumoi-nya, dan bicara berbisik-bisik sambil kadang-kadang memandang ke arah tawanan mereka itu. Kelihatan mata Swat Si terbelalak memandang suci-nya, kemudian menundukkan muka dengan kedua matanya mengerling tajam sambil membayangkan rasa jengah dan malu-malu. Kemudian mereka berbisik-bisik dan tidak ada orang lain yang dapat mendengar mereka, kecuali Keng Hong!
__ADS_1
Pada saat itu, Keng Hong sedang berjalan sambil melamun, memikirkan Sie Biauw Eng. Kebenciannya dan penyesalan hatinya terhadap gadis itu makin menghebat. Ia mengerti bahwa gadis itu sangat mencintainya, entah cinta hanya terdorong nafsu birahi belaka, seperti yang terbukti dari pengalamannya malam itu ketika Biauw Eng mendatanginya dan mencurahkan segala kemesraan kepada dirinya, entah cinta yang lain lagi sifatnya sebab buktinya secara diam-diam gadis itu selalu mengikutinya dan membantunya.
Betapa pun sifatnya, dua macam cinta kasih ini tentu saja dapat dia terima dengan hati senang dan puas. Akan tetapi yang membuat dia menyesal dan membenci adalah bahwa setiap kali Biauw Eng turun tangan, tentu terjadi pembunuhan keji dan akibatnya dialah yang dimusuhi orang!
Yang terakhir ini sudah keterlaluan. Kalau saja Biauw Eng tidak turun tangan, tak mungkin empat orang tokoh murid Kong-thong-pai tewas dan seorang tokoh di antara Kong-thong Ngo-Iojin tewas pula!
Dan yang paling memanaskan hatinya akan kekejian gadis itu adalah kematian Sim Ciang Bi, gadis Hoa-san-pai yang lemah lembut, yang sama sekali tidak berdosa. Hanya karena gadis Hoa-san-pai itu mencintainya lalu dibunuh secara keji oleh Biauw Eng. Hemmm. demikian kejikah hati seorang wanita yang sudah mencinta? Apakah kalau melihat setiap orang wanita lain mencintanya, lalu turun tangan tangan membunuhnya? Ahhh, ingin dia melihatnya!
Jika memang demikian, dia harus dapat menangkap basah Biauw Eng, dan menyeretnya untuk menerima hukuman dari partai persilatan yang bersangkutan! Biar pun dia memiliki perasaan sayang yang sangat aneh di sudut hatinya terhadap Sie Biauw Eng, akan tetapi mengingat akan kekejian gadis itu, ingin sekali ia menangkap basah Biauw Eng kemudian menyerahkannya kepada Hoa-san-pai atau Kong-thong-pai!
Pada saat dia merenung sampai di situ, tiba-tiba dia mendengar bisikan-bisikan dua orang wanita yang berjalan sedikit jauh di sebelah belakangnya. Ketika itu Keng Hong sedang termenung dan keadaan orang yang termenung hampir sama dengan keadaannya kalau sedang bersemedhi.
__ADS_1