
Detik-detik menegang itu agaknya merupakan detik-detik penentuan bagi Keng Hong dan Biauw Eng. Sekali saja tokoh Tiat-ciang-pang menjatuhkan pukulan maut pada dua tubuh orang muda yang pingsan itu, tentu mereka akan tewas dan tak akan tertolong lagi. Akan tetapi, apa bila Thian belum menghendaki seseorang mati, pasti ada saja sebabnya yang mencegah datangnya maut.
"Tahan, jangan bunuh dia...!"
Bentakan ini keras dan nyaring sekali, penuh wibawa dan nampaklah bayangan empat orang yang cepat bukan main sehingga tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka, bahkan dua di antara mereka langsung menghadang di depan tubuh Keng Hong dalam keadaan siap untuk mencegah siapa pun juga membunuh pemuda itu.
Karena sesungguhnya yang mereka musuhi adalah Keng Hong, ketika melihat ada orang datang melindungi Keng Hong otomatis Kok Sian Cu juga menarik tongkat bambunya dan mengurungkan niatnya membunuh Biauw Eng. Pada waktu mereka semua memandang empat orang yang baru muncul, mereka menjadi terkejut sekali dan juga terheran-heran mengapa empat orang itu mencegah mereka membunuh Keng Hong.
Mereka itu bukan lain adalah Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu, nenek berpakaian hitam yang memegang senjata pecut sembilan ekor berujung kaitan, dua orang hwesio Siauw-lim-pai tingkat dua, yaitu Thian Ti Hwesio yang memegang senjata Liong-cu-pang dan Thian Kek Hwesio yang bersenjata jubahnya, ada pun orang ke empat adalah Sin-to Gi-hiap tokoh ahli golok yang sudah berusia delapan puluh lima tahun namun masih nampak gagah dan tampan.
Munculnya empat orang tokoh besar kang-ouw ini tentu saja menimbulkan keheranan, apa lagi karena mereka itu seakan-akan hendak melindungi Keng Hong, padahal baik tokoh-tokoh Hoa-san-pai mau pun Kong-thong-pai maklum bahwa mereka berempat itu pun merupakan musuh-musuh mendiang Sin-jiu Kiam-ong karena dulu pernah menyerbu Kiam-kok-san.
"Siancai..! Apa sebabnya empat orang sahabat datang-datang melarang kami membunuh bocah setan ini? Hendaknya diketahui bahwa bocah ini sudah membunuh banyak murid Khong-thong-pai, di antaranya bahkan sute Kok Cin Cu telah dibunuhnya!" kata Kok Sian Cu, suaranya halus akan tetapi mengandung penasaran dan tuntutan.
__ADS_1
"Dia telah memperkosa dan membunuh murid Hoa-san-pai!" berkata pula Coa Kiu sambil melintangkan pedangnya di depan dada, tanda bahwa dia siap untuk menghadapi siapa saja demi mempertahankan nama Hoa-san-pai.
"Dan dia juga telah membunuh banyak anak murid Tiat-ciang-pang!" kata Ouw Beng Kok, marah.
"Dia sama sekali tak boleh dibunuh. Belum boleh!" kata Kiu-bwe Toanio dengan suaranya yang nyaring. "Kami menghalangi kalian bukan karena kami membela bocah itu, sama sekali tidak. Kami tidak bermusuhan dan juga tidak bersahabat dengan dia, akan tetapi kami bermusuhan dengan mendiang gurunya. Kami telah bersepakat untuk memaksa dia menyerahkan semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, dan bila kalian berlaku cerdik, sebaiknya menyetujui kehendak kami supaya kelak pusaka yang sangat banyak itu dapat dibagi-bagi dengan adil. Setelah pusaka berada di tangan kami, terserah saja apa yang hendak kalian lakukan terhadap bocah ini!"
"Omithoud, Siauw-lim-pai tidak menginginkan benda lain kecuali dua buah kitab pusaka yang dulu dicurinya dari Siauw-lim-pai, " kata Thian Ti Hwesio.
"Siapa yang hendak membunuhnya sekarang, berarti dia akan berhadapan dengan kami berempat!" bentak Kiu-bwe Toanio sambil menggerak-gerakkan cambuknya.
Thian Ti Hwesio, Thian Kek Hwesio dan Sin-to Gi-hiap yang memang sudah berunding terlebih dahulu untuk menangkap Keng Hong dan memaksa pemuda ini menunjukkan tempat persembunyian pusaka, sekarang mengurung pemuda yang masih rebah pingsan itu, siap untuk melawan siapa yang ingin membunuh pemuda itu.
Sejenak kedua golongan ini saling pandang hingga keadaan menjadi makin tegang. Pihak yang hendak membunuh terdiri dari delapan orang ditambah Sim Lai Sek yang tentu saja tidak dapat dimasukkan hitungan, sedangkan pihak yang menentang pembunuhan adalah empat orang. Akan tetapi karena empat orang itu, terutama sekali Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap terkenal sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian amat tinggi, pihak yang hendak membunuh menjadi ragu-ragu. Apa lagi kalau mereka teringat bahwa Keng Hong dan Biauw Eng hanya pingsan saja. kalau mereka siuman, tentu saja mereka itu akan menjadi lawan yang berat pula.
__ADS_1
Melihat keadaan ini, Sim Lai Sek menjadi penasaran, marah dan khawatir kalau-kalau kematian cici-nya tidak akan terbalas. Maka dia lalu berteriak-teriak, "Dia harus dibunuh! Cia Keng Hong si keparat harus di bunuh!"
Tiba-tiba bertiup angin dari atas puncak dan terdengar suara yang perlahan namun amat jelas terdengar oleh semua orang.
"Siancai! Di wilayah Kun-lun-pai, siapa berani bicara tentang pembunuhan? Apakah kami tidak boleh berkuasa di wilayah kami sendiri?"
Semua orang terkejut dan memandang. Ternyata dari atas puncak Kun-lun-pai tampak bayangan beberapa orang tosu yang menuruni puncak dengan gerakan cepat bagaikan terbang. Jumlah mereka ada tujuh orang dan di belakang tujuh orang ini masih kelihatan serombongan tosu yang jumlahnya ada lima puluh orang.
Tentu saja semua orang menjadi jeri sekali, bukan hanya menyaksikan jumlah tosu-tosu Kun-lun-pai yang demikian banyaknya, melainkan terutama sekali Kiang Tojin dan enam orang sute-nya yang merupakan tujuh orang pimpinan Kun-lun-pai yang disegani. Baru mendengar suara Kiang Tojin yang digemakan dari atas tadi saja sudah menbayangkan betapa hebatnya sinkang dan khikang dari tosu itu!
Mereka itu memang benar adalah para tosu Kun-lun-pai yang dipimpin oleh Kiang Tojin sendiri bersama enam orang sute-nya. Setelah tiba di tempat itu, pandangan mata Kiang Tojin dan para sutenya menyapu ke arah para tamu tak diundang itu dan ke arah tubuh Keng Hong dan Biauw Eng yang masih menggeletak pingsan.
Di lubuk hatinya, Kiang Tojin merasa kasihan kepada Keng Hong. Memang tosu ini selalu merasa suka dan kasihan kepada bocah yang dahulu dia tolong dari bencana maut itu. Kini, di dalam hati tosu ini muncul pertanyaan-pertanyaan yang membikin perasaannya perih, yaitu apakah bukan dia yang menyeret bocah itu ke dalam jurang kesengsaraan?
__ADS_1