
Dan selain tokoh-tokoh Kun-lun-pai, tampak pula Thian Seng Cinjin sendiri berdiri dengan bersandar pada tongkatnya! Ketua Kun-lun-pai ini tampak sudah tua sekali. Sikap mereka semua yang kini memandang Keng Hong membayangkan bahwa mereka semua memang sedang menantinya!
Keng Hong menghentikan larinya dan otomatis dia menoleh. Benar saja seperti sudah diduganya tadi, di sebelah belakangnya kini muncul belasan orang tosu Kun-lun-pai dan dia berdiri terkurung di tengah, berhadapan dengan Kiang Tojin yang menangkap wanita cantik itu serta ketua Kun-lun-pai yang berdiri dengan sikapnya yang agung dan ramah! Keng Hong merasa seolah-olah menjadi seekor kelinci yang dikurung oleh puluhan ekor harimau kelaparan!
Akan tetapi, dia adalah seorang yang semenjak kecil sudah belajar kesopanan. Melihat Kiang Tojin yang menjadi penolongnya serta para tosu Kun-lun-pai yang pernah melepas budi selama dua tahun kepadanya, dia cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Thian Seng Cinjin dan Kiang Tojin sambil berkata,
"Boanpwe (saya yang rendah) bekas kacung Cia Keng Hong datang menghadap para locianpwe (orang-orang tua gagah), mohon di maafkan segala kesalahan boanpwe!"
Thian Seng Cinjin tersenyum lebar dan Kiang tojin berseri wajahnya lalu menggerakkan tangannya yang mencengkeram pundak wanita itu sambil berkata kepada anak muridnya, "Belenggu wanita jahat ini!"
Dua orang tosu lalu datang dan mengikat kaki tangan wanita itu pada sebatang pohon. Keng Hong melirik dengan ujung matanya, melihat betapa wanita yang usianya sekitar dua puluhan tahun dan amat cantik jelita itu menangis perlahan sehingga hatinya merasa kasihan sekali. Akan tetapi dia cepat-cepat mengalihkan perhatiannya ketika Kiang Tojin berkata.
__ADS_1
"Baik sekali, Keng Hong. Bangun dan berdirilah karena engkau bukan anak murid kami, juga bukan kacung kami lagi. Sudah sebulan lamanya kami menunggumu. Apakah yang menyebabkan engkau terlambat sampai sebulan baru turun dari Kiam-kok-san?"
Keng Hong terkejut. Kiranya para tosu Kun-lun-pai ini sudah tahu bahwa suhu-nya telah meninggal sebulan yang lalu dan diam-diam sudah menjaga dan menanti dia turun dari puncak batu pedang. Yang menjaga dan memata-matai di Kiam-kok-san hanyalah anak murid Kun-lun-pai, agaknya ketua Kun-lun-pai dan Kiang Tojin masih tak mau melanggar pantangan untuk mengotori Kiam-kok-san!
Kemudian dia teringat betapa dia sudah membakar jenasah suhu-nya di dalam pondok. Agaknya pembakaran itulah yang memberitahukan para tosu. Sebelum dia menjawab, karena melihat dia meragu dan bingung, Kiang Tojin sudah berkata lagi,
"Kami melihat betapa ada asap mengebul dari puncak Kiam-kok-san. Kami tidak suka mengganggu seorang murid yang berkabung atas kematian gurunya, maka kami hanya menunggu. Akan tetapi, alangkah banyaknya orang yang sedang menanti-nantimu, Keng Hong. Wanita jahat ini adalah orang terakhir dari kaum sesat yang menunggumu turun gunung dan yang sudah siap menurunkan tangan jahat kepadamu."
"Bohong! Tosu bau tak pernah mandi! Siapa yang hendak turun tangan jahat terhadap pemuda itu? Aku hanya ingin menonton keramaian, kemudian tersesat di sini dan kalian menggunakan pengeroyokan menangkap aku! Cih, tak tahu malu! Segerombolan kakek tua bangka mengeroyok seorang gadis! Kau kira aku tidak tahu? Kalian hanya pura-pura menjadi pendeta, padahal menggunakan kesempatan untuk meraba-raba dan membelai belai tubuhku dengan alasan hendak menangkap seorang penjahat!"
Akan tetapi Kiang Tojin dan Thian Seng Cinjin hanya tersenyum saja, sedikit pun tidak terpengaruh oleh ucapan-ucapan menghina itu. Kiang Tojin hanya membalikkan tubuhnya dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke depan dengan jari telunjuk menuding ke arah wanita yang terikat di pohon itu.
__ADS_1
Jarak di antara mereka ada tiga meter, akan tetapi terdengar angin bercuit dan... tubuh wanita itu lantas menjadi lemas dan ia tak dapat mengeluarkan suara lagi karena ia telah terkena totokan yang dilakukan dari jarak jauh! Hanya matanya saja yang memandang dengan mendelik penuh kemarahan.
Diam-diam Keng Hong terkejut dan kagum sekali. Juga merasa betapa ketekunannya selama lima tahun ini sesungguhnya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian tosu yang menjadi penolongnya ini. Sebagai orang yang pernah mempelajari ilmu silatnya masih kalah jauh sekali oleh Kiang Tojin, dan agaknya kalau harus melawan tosu ini, belum tentu dia sanggup bertahan sampai lima jurus!
"Keng Hong, ketahuilah bahwa baik kaum sesat atau orang-orang gagah yang menaruh dendam kepada gurumu selalu mengincarmu untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam serta rahasia penyimpanan kitab-kitab gurumu. Kami para tosu Kun-lun-pai sama sekali bukanlah orang-orang serakah dan tak menghendaki apa-apa, baik dari Sin-jiu Kiam-ong atau dirimu. Akan tetapi mengingat bahwa engkau datang ke Kun-lun-pai tidak membawa apa-apa, maka kepergianmu dari sini pun tidak boleh membawa apa-apa! Jadi bila mana Siang-bhok-kiam berada bersamamu, pedang itu harus kau tinggalkan pada pinto. Begitu pula segala benda lain yang kau bawa, kitab-kitab atau apa saja, harus ditinggalkan. Hal ini bukan sekali-kali karena pinto ingin memilikinya, melainkan pertama, benda-benda itu hanya akan mendatangkan mala petaka padamu, dan dari pada jatuh ke tangan kaum sesat sehingga mereka menjadi lebih lihai, lebih baik kami simpan atau kami hancurkan di Kun-lun-san!"
Keng Hong mengerutkan keningnya, "Akan tetapi, pedang yang saya bawa ini merupakan pemberian suhu, bukan hasil mencuri milik Kun-lun-pai!"
Kiang Tojin tersenyum dan mengangguk-ngangguk, "Betul, akan tetapi Sin-jiu Kiam-ong telah meninggal dunia di Kiam-kok-san, maka semua peninggalannya harus ditinggalkan di Kiam-kok-san pula. Biar pun engkau muridnya, tak boleh engkau membawanya pergi dari Kun-lun-san."
"Kalau saya menolak?"
__ADS_1
Kiang Tojin mengerutkan alisnya dan mengangkat mukanya. "Keng Hong, tidak tahukah engkau bahwa peraturan kami ini demi keselamatanmu sendiri? Kalau engkau menolak, berarti engkau lupa akan budi dan pinto terpaksa menggunakan kekerasan!"
Keng Hong dapat menyelami maksud hati Kiang Tojin dan dia makin kagum dan tunduk kepada tosu Kun-lun-pai yang bijaksana serta cerdik ini. Akan tetapi untuk mengalah begitu saja dia merasa enggan. Apa lagi tidak ada kesempatan yang lebih baik dari pada berlatih melawan Kiang Tojin yang tidak mempunyai niat buruk terhadap dirinya. Biarlah dia berlatih dengan penolongnya yang berilmu tinggi ini.