Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 8


__ADS_3

Biauw Eng terisak. "Ibu... aku cinta kepadanya, Ibu..."


Lam-hai Sin-ni membanting kakinya, "Bodoh! Lemah...! Ahhh, Sie Cun Hong, setelah kau menghancurkan hatiku, mengapa sekarang muridmu yang hendak merusak kebahagiaan puteriku dan puterimu?"


"Lam-hai Sin-ni, puterimu sudah berhutang nyawa kepada kami, harus ditebus dengan nyawanya pula!" Kok Kim Cu berseru marah melihat munculnya tokoh utama dari Bu-tek Su-kwi ini.


"Benar, dia harus dibinasakan!" bentak pula Coa Kiu dan Coa Bu.


"Biar pun Lam-hai Sin-ni sendiri, tidak boleh melindungi puterinya yang berhutang nyawa penasaran murid-murid kami!" bentak pula Tiat-ciang Ouw Beng Kok.


"Ehh, ehh begitukah? Anakku hanya membela pemuda tak tahu diri itu, akan tetapi andai kata benar dia yang membunuhi murid-murid kalian yang tak berharga, habis kalian mau apa?" Watak Lam-hai Sin-ni memang amat dingin dan keras, bahkan selalu memandang rendah lain orang, maka sekarang di hadapan tokoh-tokoh sakti itu dia sama sekali tidak memandang mata!


Tentu saja tokoh-tokoh itu menjadi marah sekali. Apa lagi Ngo-lojin dari Kong-thong-pai yang kini tinggal empat orang itu. Dahulu mereka berlima sangat terkenal sehingga para tokoh iblis seperti Thian-te Sam-lo-mo yang menjadi tiga orang datuk hitam dari dunia penjahat dan sangat terkenal sebelum akhirnya muncul Bu-Tek Su-kwi, juga tidak berani memandang rendah. Maka dengan seruan-seruan nyaring meraka itu menerjang maju, mempergunakan cengkeraman-cengkeraman Ang-liong Jiauw-kang mereka yang ampuh, bahkan Kok Sian Cu menyerang dengan tongkat bambunya.


Di saat itu pula, melihat kesempatan baik karena banyak kawan untuk menghadapi nenek iblis yang mereka tahu amat lihai ini, Coa Kiu dan Coa Bu kedua Hoa-san Siang-sin-kiam juga maju dengan pedang mereka, sedangkan Ouw Beng Kok dan Kim-to Lai Ban juga tak tinggal diam, akan tetapi mereka berdua bukan menyerang Lam Hai Sin-ni melainkan Biauw Eng!

__ADS_1


Terjangan orang-orang sakti ini dilakukan serentak dan cepat sekali, membuat para tosu Kun-lun-pai tidak sempat melerai dan memandang bingung karena mereka sebagai tuan rumah tentu saja merasa tidak senang kalau tempat tinggal mereka dijadikan gelanggang pertempuran.


"Plak-plak-plak…!"


Yang datang lebih dahulu adalah pukulan-pukulan Ang-liong Jiauw-kang. Akan tetapi tiga pukulan Kok Seng Cu, Kok Liong Cu dan Kok Kim Cu ini ditangkis lengan Lam-hai Sin-ni dan tangan mereka itu melekat pada lengan nenek ini dan terus disedotlah hawa sinkang dari tangan mereka yang membanjir tanpa dapat dicegah memasuki lengan Lam-hai Sin-ni yang tertawa terkekeh.


Ketika mereka bertiga terkejut, tiba-tiba Lam-hai Sin-ni menggerakkan kedua lengannya sehingga tiga orang itu terangkat kemudian diputar-putar ke atas untuk dipakai menangkis serangan bambu Kok Sian Cu dan sepasang pedang Coa Kiu dan Coa Bu!


Tentu saja dua orang Hoa-san Siang-sin-kiam itu kaget sekali dan cepat menarik kembali pedang mereka supaya tidak melukai para tokoh Kong-thong-pai itu, sedangkan Kok Sian Cu yang lebih cerdik dan lihai, menggerakkan tongkat bambunya menyusup ke samping dan mengirim totokan ke arah pusar Lam-hai Sin-ni secara hebat dan cepat sekali!


Sementara itu, Biauw Eng yang masih berdiri seperti orang kehilangan semangat, diam saja pada saat diserang oleh dua orang tokoh Tiat-ciang-pang. Melihat ini, kembali Keng Hong yang meloncat maju dan menyambut serangan itu.


Karena kedua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu marah sekali, sekali ini serangan mereka pun amat hebat, bahkan Kim-to Lai Ban telah menggunakan goloknya. Keng Hong masih bingung tadi oleh pengakuan Biauw Eng yang tadinya menyangkal kemudian berbalik mengaku, menjadi makin bingung oleh ucapan Lam-hai Sin-ni.


Melihat gadis yang amat aneh, yang dapat mendatangkan rasa cinta dan benci bergantian di hatinya itu kini terancam bahaya, mati-matian dia menubruk maju, menggunakan kedua lengannya untuk menangkis pukulan tangan baja dan golok.

__ADS_1


"Desssss..!" Tubuh Keng Hong terbanting lagi ke atas lantai.


Pada waktu dia dikeroyok dalam pertandingan di lereng Kun-lun-san, dia telah mengalami pukulan-pukulan yang mengakibatkan luka di dalam tubuh, kini dia menangkis pukulan Tiat-ciang Ouw Beng Kok sampai dua kali. Dadanya terasa sakit-sakit dan dia muntahkan darah segar, ada pun lengannya yang menangkis golok Lai Ban terluka parah di pangkal sikunya, kulit dagingnya robek dan mengucurkan banyak darah.


Namun, dalam usahanya menyelamatkan Biauw Eng, Keng Hong tidak merasakan semua lukanya, bahkan begitu tubuhnya terbanting, dia langsung berguling ke lantai mendekati Biauw Eng, tiba-tiba menangkap pinggang gadis itu dan melontarkannya sekuat tenaga ke arah Lam-hai Sin-ni sambil berkata,


"Locianpwe, harap bawa pergi puterimu dari sini...!"


Lam-hai Sin-ni baru saja memukul mundur para pengeroyok dengan melontarkan tubuh tiga orang tokoh Kong-thong-pai. Sekarang melihat tubuh puterinya melayang ke arahnya, cepat dia menangkap lantas mengempitnya. Dia ingin sekali mengamuk dan membunuhi semua orang yang hendak mengganggu puterinya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara halus.


"Apakah orang tak memandang mata lagi pada Kun-lun-pai sehingga tidak mempedulikan pinto semua dan mengacau sekehendak hatinya?" Yang berbicara ini adalah Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai yang tadi ketika menangkis sinar pedang Coa Kiu dilakukannya sambil duduk dan semenjak itu menonton dan mendengarkan semua yang terjadi dengan alis berkerut.


Mendengar suara ini, Lam-hai Sin-ni lalu tertawa dan berkata, "Maafkan kelancanganku, Cinjin!"


Tubuhnya segera berkelebat, membawa pergi puterinya dari tempat itu tanpa ada yang berani mengganggu, pertama karena memang jeri menghadapi nenek itu sendirian saja, kedua karena mereka pun terpengaruh suara Thian Seng Cinjin hingga merasa sungkan untuk memperlihatkan kekerasan di depan kakek ini yang selain menjadi tuan rumah, juga terkenal sebagai ketua Kun-lun-pai yang sangat lihai, belum lagi diingat akan banyaknya tosu-tosu lihai di Kun-lun-pai ini.

__ADS_1


__ADS_2