Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 6


__ADS_3

Keng Hong menerima guci itu, memandang kagum lalu bertanya, "Mana cawannya?"


"Hi-hik-hik! Keng Hong, kau selalu bersopan-sopan mencari cawan. Apakah kau khawatir diracuni? Ahh, jangan takut, sumoi selamanya tak sudi main-main dengan racun, lagi pula segala macam racun jika dimasukkan ke dalam guci pusaka itu maka pengaruhnya akan lenyap." Cui Im tertawa-tawa mengejek sehingga muka Keng Hong menjadi merah sekali.


Dia hanya memegangi guci itu dan tidak minum, menunggu sampai nona di hadapannya menghabiskan rotinya. Biauw Eng juga tidak peduli bahwa pemuda itu belum juga minum dari guci.


"Kau minumlah dulu, nona Biauw Eng...," katanya memberikan guci itu.


Sikap nona ini membuat Keng Hong tidak berani untuk menyebut namanya begitu saja, melainkan menaruh sebutan nona di depannya. Nona ini sikapnya seperti seorang puteri istana saja, begitu halus, angkuh namun dingin.


Biauw Eng tidak menjawab, melainkan menerima guci itu, lantas membuka tutupnya dan mengangkat guci ke atas mukanya yang ditengadahkan, lalu dituangnya air dari guci yang memancur memasuki mulutnya yang dingangakan.


Keng Hong menelan ludah, sama sekali bukan karena melihat orang minum atau melihat air yang amat jernih dan segarnya memasuki mulut orang, melainkan melihat mulut yang menggairahkan itu. Mulut yang terbuka, tampak giginya berderet putih, lidah meruncing merah sekali yang bergerak-gerak pada waktu kejatuhan air jernih. Melihat rongga mulut yang segar kemerahan, yang membayangkan kesedapan serta kenikmatan, Keng Hong diam-diam bergidik dan tidak tahu dari mana datangnya perasaan ini yang timbul sejak dia jatuh oleh godaan asmara Cui Im.


Setelah gadis itu menyerahkan guci kepadanya, barulah dia sadar dan cepat menerima guci itu. Akan tetapi sebelum dia minum air itu, dia teringat kepada Cui Im. Keng Hong selama berada di Kun-lun-pai mempelajari tata susila, sopan santun dan telah membaca banyak kitab, maka sifat sopan santun sebenarnya telah meresap di hatinya.

__ADS_1


Kini teringat bahwa Cui Im belum minum, meski pun dia kini merasa muak kepada gadis itu sesudah dia mengenal wataknya yang keji dan bahwa bujuk rayu yang sangat mesra pada malam itu bukan timbul dari hati mencinta melainkan sebagai alat membujuk saja, namun dia merasa tidak enak kalau harus mendahului gadis itu minum airnya.


"Kau minumlah dulu," katanya menyerahkan guci.


Cui Im yang duduk di sebelah depan, memutar tubuhnya sambil memandang Keng Hong dengan mata genit, kemudian menerima guci dan terus diteguknya seperti yang dilakukan sumoi-nya tadi. Kemudian ia mengembalikan guci kepada Keng Hong dan ketika pemuda itu menerimanya, sejenak Cui Im membelai tangan pemuda itu dan mencubit lengannya penuh arti sambil terkekeh.


Keng Hong cepat-cepat menarik tangan dan guci itu sambil melirik ke arah Biauw Eng. Namun gadis ini diam saja tidak bergerak-gerak, seolah-olah tidak melihat atau memang tidak peduli akan kecentilan suci-nya. Keng Hong menghilangkan rasa kikuknya dengan menenggak air dari dalam guci dan dia kagum sekali.


Roti kering tadi sangat enaknya, gurih dan agak manis, berbau sedap. Akan tetapi air ini lebih lezat lagi. Memang rasanya air biasa, namun mengandung keharuman buah apel dan amat sejuk dan segar. Tanpa bicara dia mengambilkan guci kepada Biauw Eng yang segera menyimpannya kembali dan berkatalah Biauw Eng,


Sesudah berkata demikian, nona baju putih itu melempangkan punggungnya, kemudian meramkan matanya. Napasnya menjadi semakin lambat sampai akhirnya seperti tidak bernapas lagi. Tahulah Keng Hong bahwa nona ini kembali sudah melatih dirinya dengan semedhi dan ilmu Pi-khi Hoan-hiat.


Ia memandang kagum. Setelah mata itu terpejam, tampak bulu mata yang merapat dan hitam panjang melentik. Jantung Keng Hong berdebar kencang dan cepat dia menekan perasaannya ini. Untuk melawan gelora hatinya dalam menghadapi nona yang luar biasa cantiknya ini, dia pun lalu memejamkan mata menghimpun tenaga.


Untuk apa? Untuk membebaskan diri bila kesempatan muncul, pikirnya. Kalau dia sudah mengikuti nona ini sampai bertemu dengan Lam-hai Sin-ni. Namun, sesudah berhadapan dengan Lam-hai Sin-ni, betapa mungkin dia dapat membebaskan diri? Sedangkan nona Biauw Eng ini saja sudah demikian lihainya dan tak mungkin dapat mengalahkannya, apa lagi ibunya!

__ADS_1


Keng Hong diam-diam bergidik ngeri, akan tetapi dia sudah berjanji untuk membalas budi pertolongan nona itu, baru akan membebaskan diri. Hatinya tenteram kembali dan Keng Hong pun segera ‘pulas’ dalam semedhinya walau pun kereta itu melalui jalan yang tidak rata dan berguncang-guncang keras.


Sampai malam tiba, tidak ada lagi rintangan di jalan. Kereta dihentikan di sebuah gunung yang banyak terdapat goa-goanya dari batu. Setelah makan daging kelinci yang ditangkap oleh Cui Im dan minum air gunung, mereka mengaso di luar kereta, di dalam sebuah goa yang agak besar tak jauh dari situ.


Cui Im sudah duduk mendekati Keng Hong, tangannya pun sudah mulai menggerayangi tubuh Keng Hong sedangkan mulutnya membisikkan kata-kata merayu, kadang-kadang hanya mengeluarkan suara seperti seekor kucing memancing belaian.


Akan tetapi Keng Hong tidak mempedulikannya, bahkan menjadi gemas sekali. Ia merasa canggung dan malu sekali karena gadis ini tanpa malu-malu mengajaknya bermain cinta di depan Biauw Eng! Ada pun gadis baju putih itu duduk bersila dan seakan-akan tidak melihat itu semua, tidak mendengar suara merintih-rintih dan meminta-minta yang keluar dari mulut suci-nya.


"Cui Im, kenapa kau tidak bisa diam? Jangan ganggu aku!" akhirnya Keng Hong berkata lirih dan mengibaskan tangan Cui Im.


"Aihh, mengapa engkau berubah, Keng Hong? Setelah berada di depan sumoi yang jauh lebih cantik dariku, engkau pura-pura tidak tahu... hi-hi-hik, masih ingatkah malam mesra itu? Masih terasa olehku, Keng Hong... ahhh..."


"Cui Im, diamlah!" Keng Hong membentak, agak keras karena marah.


Sekarang dia menyesal sekali mengapa malam hari dulu itu dia mau melayani gadis ini. Pengalamannya yang pertama dia hanyutkan begitu saja dengan seorang gadis bermoral bejat seperti ini. Apa bila Cui Im benar-benar mencintanya, dia pun tidak akan menyesal karena dia hanya ingin mengikuti jejak gurunya, melayani cinta kasih setiap wanita yang disukanya. Dan dia memang suka kepada Cui Im seperti rasa sukanya kepada segala yang indah.

__ADS_1


Kalau saja Cui Im tidak menggunakan daya tariknya sebagai seorang wanita hanya untuk membujuknya, kalau Cui Im tidak palsu cintanya, tentu dia selamanya akan mengenang pengalamannya dengan Cui Im sebagai kenangan yang manis.


__ADS_2