Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 14 part 5


__ADS_3

Ia kini mengerti mengapa keadaan di situ begitu sunyi, mengapa tidak ada tokoh-tokoh kang-ouw yang menghadangnya. Kiranya mereka itu ada yang menghadangnya setahun yang lalu akan tetapi tentu saja mereka itu hanya berjumpa dengan Cui Im dan celakalah nasib mereka begitu bertemu dengan Cui Im yang bagaikan seekor harimau ganas dan kini telah bertambah sayap itu.


Pemuda itu berjalan terus dan sebelum keluar dari hutan, kembali dia melihat gundukan tanah dan dari batu terukir di situ ternyata adalah Sin-to Gi-hiap yang sudah mati pula dan lagi-lagi di tangan Ang-kiam Bu-tek! Keng Hong membanting kakinya dengan gemas.


Entah siapa lagi yang sudah dikalahkan atau dibunuh oleh Cui Im. Dan mengapa semua pembunuhan ini terjadi di wilayah Kun-lun-pai tanpa ada campur tangan pihak Kun-lun-pai. Bila tujuh murid ketua Kun-lun-pai bersama puluhan orang tosu turun tangan, kiranya tidak akan begitu mudah bagi Cui Im untuk mengganas.


Keng Hong segera menuju ke puncak Kun-lun-pai dan bergegas mendaki puncak tertinggi pegunungan itu yang dijadikan markas partai Kun-lun-pai. Tiba-tiba dia berhenti dan cepat menyelinap di balik pohon pada saat dia mendengar suara orang tertawa-tawa. Cepat dia berindap-indap menggunakan ginkang-nya sehingga dia dapat menghampiri tempat suara dengan cepat namun tidak menimbulkan berisik.


"Sudahlah, Totiang, jangan terlalu lama menahanku di sini, nanti suamiku tahu dan…." terdengar suara wanita.


"Ha-ha-ha, suamimu yang lemah seperti cacing itu? Tahu juga bisa apa dia? Bukankah aku jauh lebih kuat dari suamimu yang kurus kering itu? Ha-ha-ha! Jangan tergesa-gesa, Manis, kita bersenang-senang sampai sepuasnya...!"


Keng Hong terbelalak ketika mengintai dari balik semak-semak dan melihat seorang tosu empat puluh tahun, murid Kun-lun-pai, memeluk seorang wanita muda yang kalau melihat pakaiannya tentulah seorang wanita dusun. Wanita itu cukup manis dan sikapnya genit.


Keng Hong merasa terheran-heran. Betapa mungkin terjadi hal seperti ini? Ada seorang anak murid Kun-lun-pai bermain asmara dengan seorang wanita isteri penduduk dusun? Padahal sepanjang pengetahuannya, para tosu Kun-lun-pai memegang teguh pantangan mengadakan hubungan dengan wanita! Dan dalam urusan itu, para pimpinan Kun-lun-pai memegang teguh peraturan dan berdisiplin keras sekali.


Akan tetapi dia segera teringat akan Lian Ci Tojin yang dulu memperkosa Tan Hun Bwee, maka hatinya menjadi khawatir. Melihat betapa Cui Im dapat mengganas di Kun-lun, dan kini melihat seorang anak murid Kun-lun-pai berani melanggar pantangan di tempat yang begitu dekat dengan markas Kun-lun-pai, bahkan dindingnya pun sudah tampak dari situ, membuat dia menduga bahwa tentu terjadi perubahan di Kun-lun-pai. Kemana perginya Kiang Tojin si orang kuat dari Kun-lun-pai? Dan kenapa Thian Seng Cinjin, ketua Kun-lun yang sakti itu, menjadi begini lemah?


Keng Hong menyingkap semak-semak itu dan berkata nyaring, "Totiang, aku ingin bicara denganmu!" Lalu dia meloncat mundur, memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk membereskan apa yang perlu dibereskan.

__ADS_1


Tosu itu meloncat bangun dengan pakaian kedodoran. Sampai sukarlah ia membereskan pakaian saking gugup dan kagetnya sebab mengira bahwa tentulah suami wanita itu yang sekarang datang dan menangkap basah penyelewengan isterinya,. Akan tetapi, dia cepat mengangkat muka membusungkan dada. Suami wanita ini hanyalah seorang dusun, mau apakah? Ia lalu menarik tangan wanita yang menggigil dengan muka pucat itu keluar dari semak-semak dan langsung berteriak-teriak.


"Petani busuk! Pinto sedang berusaha mengusir keluar siluman yang sudah mengganggu isterimu, mengapa kau mengganggu...?" Akan tetapi tosu itu menghentikan kata-katanya dan melongo memandang ke arah Keng Hong yang tersenyum-senyum geli, sedangkan wanita itu tersipu-sipu malu lantas menundukkan mukanya, akan tetapi dengan hati lega karena ternyata pemergok itu bukan suaminya.


"Totiang, engkau bukan mengeluarkan siluman, sebaliknya malah memasukkan setan!" Keng Hong tertawa geli, membuat tosu itu merah mukanya saking malu dan marah.


"Kau...?! Bukankah engkau ini pemuda setan itu…? Celaka, benar engkaulah orangnya!" Tosu itu lalu menerjang maju mengirim pukulan ke arah dada Keng Hong yang diterima oleh pemuda itu dengan mulut tersenyum.


"Krekkk! Auugggh…!"


Tosu itu meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang patah tulangnya di dekat pergelangan tangan. Ia marah sekali dan kembali mengirim tendangan dengan kaki kiri, menendang ke arah bawah pusar Keng Hong. Pemuda ini tetap tidak menangkis atau pun mengelak, hanya menekuk sedikit kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah dan tendangan itu mengenai pusarnya.


"Krakkkk! Aduuuu-du-duuuuhhh…!"


Wanita itu menggigil dan menahan jerit dengan menutupkan tangan di depan mulut. Keng Hong memandang kepadanya dan berkata halus,


"Engkau pulanglah cepat sebelum terlihat suamimu."


Mendengar ini, wanita itu langsung menggerakkan kakinya berlari menuruni gunung tanpa berani menoleh lagi. Dari belakang tampaklah sepasang buah pinggulnya bergerak-gerak seperti menari-nari dan Keng Hong pun tertawa, sebab mengenal seorang wanita hamba nafsu birahi, seperti Cui Im!

__ADS_1


"Totiang, sekarang ceritakanlah dengan sejelasnya keadaan Kun-lun-pai atau jawab terus terang jika Totiang tidak ingin tulang-tulang Totiang patah-patah dan remuk semua. Nah, kumulai. Di manakah adanya Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai?”


Tosu itu agaknya menjadi lapang dadanya. Tadinya dia mengira akan ditanya mengenai perhubungannya dengan wanita dusun itu. Ia lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, tangan kirinya sibuk mengelus-ngelus secara bergantian tangan kanan serta kaki kirinya yang tulangnya patah-patah sehingga rasa nyeri berdenyut-denyut sampai menembus ke ubun-ubun dan jantung.


"Kenapa engkau menanyakan beliau? Thian Seng Cinjin kakek guruku itu telah meninggal dunia setahun yang lalu..."


Keng Hong terkejut, teringat akan Cui Im yang meninggalkannya setahun yang lalu.


"Apa...?! Siapa pembunuhnya...?”


Sambil meringis tosu itu berkata, "Tidak ada yang membunuh, mati karena usia tua."


"Ahhh…!" Lapang rasa dada Keng Hong. "Dan Kiang Tojin di mana?"


"Kiang-supek (uwak guru Kiang)? Ahh, dia kini sudah menjadi seorang hukuman di dalam ruangan hukuman murid-murid Kun-lun-pai!"


"Apa?! Siapa yang menghukumnya?"


"Tentu saja ketua kami..."

__ADS_1


"Siapa ketua Kun-lun-pai?"


"Dia? Ehh, dia adalah guru pinto.."


__ADS_2