
Ketika ada orang memeluknya, dia lalu merintih dan membuka matanya perlahan.
Melihat bahwa yang memeluknya dan memandangnya penuh rasa iba itu adalah pemuda yang telah membebaskan dirinya dari pada siksaan hebat, dia segera balas memeluk dan membenamkan mukanya di dada Keng Hong.
Sejenak keduanya berpelukan ketat dan Keng Hong merasa betapa jantungnya berdebar. Sama sekali tidak bangkit nafsunya terhadap gadis ini seperti ketika dia memeluk Cui Im, yang ada hanya rasa kasihan dan sayang.
"...terima kasih..." Ucapan ini perlahan sekali, hanya merupakan bisikan yang hampir tak bersuara, akan tetapi mendatangkan rasa lega dan kepuasan di hati Keng Hong dan dia pun tersenyum.
"Hi-hi-hik! Persis Sin-jiu Kiam-ong! Gurunya pemogoran, tentu muridnya hidung belang! Heh-heh-heh, setiap orang wanita tentu akan jatuh hati kepada bocah ini."
Ucapan Ang-bin Kwi-bo menyadarkan Biauw Eng dan sekali rengut ia melepaskan dirinya dari pelukan Keng Hong, kemudian mencelat ke belakang dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia tidak merasa malu, hanya saja merasa heran terhadap diri sendiri mengapa dia mempunyai perasaan seperti ini!
Padahal selama hidupnya dia digembleng oleh ibunya supaya jangan jatuh hati pada pria mana pun. Dan selamanya dia tidak pernah memikirkan pria. Sekarang, tanpa disadari ia tadi telah memeluk pemuda itu dengan mesra, di depan mata orang-orang lain pula.
"Ha-ha-ha-ha, Sumoi, betul tidak kataku? Hati-hati terhadap dia, kau akan pulas di dalam pelukannya yang nyaman...!"
"Suci, tutup mulutmu...!" Bentakan ini mengandung kemarahan yang membuat Cui Im tak berani bersuara lagi, namun mulut wanita ini tersenyum dan pandang matanya terhadap Biauw Eng mengandung sesuatu yang aneh.
Akan tetapi Ang-bin Kwi-bo kini sudah menghadapi Keng Hong dan sambil tertawa dia berkata, "Bocah, aku masih ingat kepadamu. Semenjak kecil engkau sudah hebat, berani meniup suling mengacaukan pertandingan kami melawan Sin-jiu Kiam-ong."
__ADS_1
"Ang-bin Kwi-bo, aku pun masih ingat kepadamu ketika engkau dengan iblis-iblis lainnya secara tidak tahu malu mengeroyok mendiang suhu. Sekarang engkau hendak menyiksa seorang gadis muda. Benar-benar engkau keji dan jahat seperti iblis sendiri!"
Nenek itu tertawa-tawa dengan hati girang. Maki-makian yang menunjukkan betapa kejam dan jahatnya bagi telinganya merupakan puji-pujian yang membesarkan hati. "Hi-hi-hik, dan aku dapat lebih kejam lagi kalau kau tidak menurut kepadaku. Kau harus ikut aku dan membawaku ke tempat penyimpanan pusaka peninggalan gurumu."
"Aku tidak sudi!"
"Aku akan memaksamu, bocah keras kepala!"
"Dipaksa juga aku tetap tidak dapat menunjukkan tempat itu!"
"Aku akan menyiksamu, membuat kau mati tidak hidup pun tidak, menjadi tiga perempat mati dan yang seperempat hanya kubiarkan hidup untuk mengalami derita yang hebat!" Nenek itu mengancam dengan suara marah.
"Percuma, biar disiksa sampai mati pun tidak ada gunanya karena aku sendiri tidak tahu di mana tempat yang kau maksudkan itu."
"Sudahlah! Percaya atau tidak terserah, aku tak ada waktu lebih lama lagi untuk melayani ocehanmu. Aku pergi!" Setelah berkata demikian, Keng Hong meloncat dan lari pergi dari situ.
Akan tetapi tampak bayangan hitam berkelebat dan tiba-tiba saja nenek itu sudah berdiri menghadang di depannya. Keng Hong kaget dan merasa kagum. Ginkang dari nenek ini benar-benar mengejutkan, seperti terbang saja ketika mendahuluinya dan menghadang.
"Kau mau apa?" tanya Keng Hong.
__ADS_1
"Kau harus ikut bersamaku!"
Keng Hong teringat akan pesan suhu-nya. Suhu-nya pernah menyatakan bahwa di dunia persilatan banyak sekali orang pandai yang takkan bisa dilawan olehnya, terutama sekali orang-orang seperti Bu-tek Su-kwi yang berilmu tinggi. Hanya bila dia sudah mempelajari kitab-kitab peninggalan suhu-nya, barulah ia akan cukup kuat untuk menghadapi mereka, demikian pesan suhu-nya. Dan sekarang dia berhadapan dengan salah seorang di antara mereka!
Sayang pedang Siang-bhok-kiam tidak berada di tangannya. Kalau saja dia bersenjatakan pedang itu, ingin sekali ia mencoba ilmu pedangnya Siang-bhok Kiam-sut untuk melawan nenek yang lihai bermain silat dengan senjata rambut dan kuku-kukunya ini! Betapa pun juga, dia harus melawannya.
"Aku tidak sudi."
"Hi-hi-hik, kau kira aku tidak dapat memaksamu? Kau kira dengan sedikit kepandaianmu itu engkau akan dapat menentang Ang-bin Kwi-bo? Hi-hi-hik!"
"Aku tidak dapat!" bentak Keng Hong.
Pemuda ini sudah menerjang maju, membuat gerakan melingkar dengan kedua tangan yang diputar dari atas kepala terus ke bawah, cepat sekali sehingga kedua lengannya merupakan gulungan sinar putih, kemudian dari gumpalan sinar ini menyambarlah kedua pukulannya bertubi-tubi.
Keng Hong sudah memainkan jurus ke lima dari ilmu silatnya, yaitu jurus San-in Ci-tian (Awan Gunung Mengeluarkan Kilat). Angin pukulan kedua tangannya yang mengandung tenaga sinkang itu sampai mengeluarkan suara menderu dan membuat rambut riap-riapan serta baju nenek itu berkibar-kibar disambar angin pukulan.
"Pukulan yang aneh dan hebat...!" Nenek itu berseru gembira sekali karena harus ia akui bahwa sebanyak itu ia mengenal ilmu silat pelbagai aliran, belum pernah ia menyaksikan jurus pukulan yang dipergunakan pemuda ini.
Sebagai seorang ahli, dia segera dapat menilai bahwa jurus ini hebat sekali, mengandung segi yang rumit dan dahsyat. Akan tetapi hanya tenaga pemuda ini saja yang hebat luar biasa, tapi gerakannya belum ‘matang’. Oleh karena itu, dengan mudah ia menghindarkan diri sambil meloncat ke kanan, kemudian membalik ke kiri cepat sekali dan rambutnya sudah menyambar ke arah leher Keng Hong!
__ADS_1
Apa bila diukur kepandaian ilmu silatnya, tentu saja Keng Hong kalah jauh, maka ketika serangannya itu selain gagal juga dia dibalas secara kontan, pemuda ini menjadi sibuk menangkis dengan kebutan tangannya. Tenaganya memang hebat sekali, karena angin tangkisannya dapat membuat rambut nenek itu buyar, kemudian dia meloncat ke depan dan dari atas dia mengirim pukulan dengan jurus Siang-in Twi-san.
Serangan ini pun hebat sekali dan nenek iblis itu semakin gembira. Mula-mula yang akan dipelajarinya adalah jurus-jurus ini, pikirnya. Kalau dia sudah dapat memahami jurus-jurus seperti ini, kemudian dia yang memainkannya tentu daya serangnya akan hebat sekali dan sukarlah tokoh-tokoh tandingannya akan mampu menangkisnya! Kini secara tiba-tiba dia menggulingkan tubuhnya dan pada saat tubuh Keng Hong yang menyambar lewat itu meluncur di atas kepalanya, ia mengulur kedua tangan mencengkeram ke arah kaki Keng Hong...!