Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 09 part 6


__ADS_3

"Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain dan kami tidak membutuhkan pendapat orang lain," kata Kim-to Lai Ban yang tentu saja merasa direndahkan kalau sebagai wakil ketua Tiat-ciang-pang dia harus mendengarkan pendapat orang luar untuk mengambil keputusan atas urusan yang mengenai perkumpulannya.


"Lai-pangcu," kata Keng Hong dengan wajah tidak senang, "dalam setiap urusan antara kedua pihak, selalu harus ada pihak ke tiga yang dimintakan pertimbangan supaya dapat dipertimbangkan siapa salah siapa benar. Kalau tidak, bagaimana kedua pihak yang bertentangan itu akan dapat menyelesaikan urusan secara musyawarah?" Kemudian dia menoleh lagi kepada kakek bongkok di atas dahan itu sambil berkata, "Mohon petunjuk Locianpwe."


Kakek bongkok itu tertawa lagi. "Bocah, kau awas dan berbakat sekali! Di dunia ini mana ada baik dan buruk? Mana ada salah dan benar? Yang ada hanya pandangan manusia, tentu saja disesuaikan dengan selera masing-masing, disesuaikan dan didasari oleh nafsu mementingkan diri sendiri masing-masing! Mana ada manusia baik atau manusia jahat? Manusia ya manusia, tidak baik tidak jahat. Baik atau buruknya tergantung dari pendapat masing-masing, pendapat yang diuntungkan atau dirugikan. Pendapat manusia didasari sifat mementingkan diri pribadi. Contohnya? Biar orang sedunia menganggap seseorang itu baik, kalau orang itu merugikan dirinya, dia tentu menganggapnya jahat! Sebaliknya, biar orang sedunia menganggap seseorang jahat, kalau orang itu menguntungkan dirinya, dia tentu akan menganggapnya baik! Demikian pula perbuatan. Perbuatan ya perbuatan. Salah atau benarnya, baik atau buruknya, selalu diciptakan manusia yang terkena akibat perbuatan itu. Kalau menguntungkan, dianggapnya benar, tapi kalau merugikan, salahlah perbuatan itu! Buktinya sekarang ini. Perbuatan bocah ini terang sudah merugikan pihak Tiat-ciang-pang, tentu saja oleh pihak Tiat-ciang-pang dianggap salah dan jahat! Padahal, bagaimanakah sifat perbuatan itu sesungguhnya? Tanyakanlah kepada pihak murid-murid Hoa-san-pai yang oleh perbuatan bocah ini diuntungkan terhindar dari kekalahan, tentu saja perbuatan ini dianggapnya benar dan baik! Mana yang benar? Baik atau jahat? Salah atau benar? Ya sama saja! Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"


Wakil ketua Tiat-ciang-pang dan anak buahnya menjadi marah dan mendongkol. Akan tetapi diam-diam Keng Hong merasa terkejut dan kagum. Kata-kata yang kedengarannya tidak karuan artinya itu sekaligus mencakup segala rahasia pertentangan dan keributan yang selalu timbul tiada henti-hentinya di atas bumi di antara manusia! Rahasia dari pada timbulnya segala bentuk pertentangan telah tercakup dalam kata-kata kakek bongkok itu, yaitu bahwa semua pertentangan timbul akibat manusia memperebutkan ‘kebenaran’ yang sesungguhnya selalu didasari oleh sifat mementingkan diri pribadi.


"Maafkan saya, Locianpwe yang bijaksana. Kalau kebenaran dan kebaikan sepalsu yang Locianpwe katakan, bagaimanakah sesungguhnya yang asli?"


"Heh-heh-heh, tidak ada yang asli tidak ada yang palsu! Yang benar dan baik bagi diri sendiri bukanlah kebenaran, yang benar dan baik bagi orang lain tanpa dipaksakan dalam pengakuannya barulah mendekati kebenaran!"

__ADS_1


"Ahh, wejangan Locianpwe amat dalam dan sukar dimengerti. Mohon petunjuk bagaimana saya harus menghadapi kemarahan Tiat-ciang-pang?"


"Ha-ha-ha-ha-ha, sikap terbaik adalah seperti air! Kebijaksanan tertinggi seperti air, tidak memaksa tidak mendesak, sepenuhnya mematuhi kekuasaan yang ada...!"


Jantung Keng Hong berdebar. Dia sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, juga sudah banyak menghafal ayat-ayat dalam kitab-kitab suci, maka tentu saja dia bisa menangkap inti sari ucapan kakek ini, ialah bahwa dia harus bersikap wajar, tidak dibuat-buat, seperti gerakan air yang wajar mengalir ke bawah. Tetapi bukan maknanya yang mendebarkan jantungnya, melainkan disebutnya kalimat itu.


Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Bukankah itu merupakan kalimat di baris pertama dari pada huruf-huruf yang terukir di pedang Siang-bhok-kiam? Hanya kebetulan saja, ataukah mungkin sekali kakek bongkok ini dapat memecahkan rahasia huruf-huruf di pedang itu?


Karena kakek itu tak menjawab dan hanya tersenyum-senyum sambil tetap duduk di atas dahan pohon dengan kedua kaki bergantungan, Keng Hong menoleh kepada Lai Ban dan berkata dingin,


"Lai-pangcu, salah-menyalahkan dalam urusan ini memang tidak ada habisnya dan tidak akan dapat membereskan persoalan. Aku tidak memusuhi Tiat-ciang-pang, dan aku tidak merasa bersalah dalam peristiwa antara anak murid Tiat-ciang-pang dengan anak murid Hoa-san-pai, dan karena tak merasa bersalah, aku tidak mau bila diharuskan menghadap ketua Tiat-ciang-pang untuk menerima hukuman. Kalau Ji-pangcu hendak menggunakan paksaan dan kekerasan, silakan."

__ADS_1


Kali ini wakil ketua Tiat-ciang-pang itu benar-benar hilang kesabaran dan menjadi marah sekali. "Orang muda! Engkau betul-betul tidak tahu tingginya langit dan dalamnya lautan! Boleh jadi engkau lihai, akan tetapi engkau masih seorang muda remaja, masih seorang bocah! Sebetulnya aku merasa sungkan untuk turun tangan menandingi seorang yang sepantasnya menjadi cucu muridku kalau melihat usianya..."


"Ha-ha-ha! Pintar dan bodoh tidak mengenal tua atau muda. Yang makin tua makin tolol sangat banyak, yang muda-muda sudah pintar seperti orang muda ini pun tidak jarang! Siapa sih orangnya yang tahu akan tingginya langit dan dalamnya lautan? Heh-heh-heh!" Kakek bongkok itu tertawa-tawa lagi sambil memberi komentar, seakan-akan dia sedang menonton pertunjukan yang lucu.


Kim-to Lai Ban menjadi semakin marah. "Ehhh, kakek tua yang lancang mulut! Pergilah engkau dari sini, jangan mencampuri urusan orang lain! Kalau tidak, akan kuseret turun engkau!"


"Wah-wah-wah, ini aturan dari mana, ya? Sebelum kalian datang aku masih enak-enakan tidur di pohon ini. Kalian datang lalu membikin ribut sampai aku terkejut dan terjaga dari tidurku. Menurut patut, aku yang menegur kalian. Kalau kalian mengenal malu, pergilah dari sini dan carilah tempat lain untuk main ribut-ribut agar tidak mengganggu orang!"


Kim-to Lai Ban membentak kepada dua orang sute-nya, "Seret dia turun dan tendang dia jauh-jauh dari sini!"


Dua orang sute-nya itu adalah orang-orang yang sudah mempunyai kepandaian tinggi. Di dalam perguruan Tiat-ciang-pang, terdapat sebuah ilmu yang dipakai ukuran tinggi tingkat murid-muridnya, yaitu ilmu Tiat-ciang-kang (Tangan Besi).

__ADS_1


Kedua tangan atau sebelah tangan saja, digembleng dan dilatih sedemikian rupa hingga tangan itu menjadi kuat dan kebal seperti besi.


__ADS_2