Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 10 part 5


__ADS_3

Ia melamun, bermacam perasaan mengaduk hatinya. Kemudian dia tersenyum pahit dan entah mengapa, hatinya merasa kecewa sekali.


Sie Biauw Eng gadis itu! Gadis yang semalam menggerumutnya, yang ternyata tidak ada bedanya dengan Bhe Cui Im! Gadis yang menjadi hamba nafsu birahi, yang hatinya tidak kuat sehingga mudah tunduk ke dalam cengkeraman nafsu.


Kiranya tiada bedanya antara Biauw Eng dan Cui Im, bahkan Biauw Eng lebih jahat lagi. Tidak hanya menjadi hawa nafsu birahi, juga hati Biauw Eng amat kejam. Gadis itu telah membunuh Sim Ciang Bi gadis Hoa-san-pai itu secara keji sehingga gadis Hoa-sa-pai yang dia tahu benar-benar mencintainya, bukan hanya oleh dorongan hawa nafsu birahi itu tewas dalam pelukannya!


Rasa kagum dan juga rasa aneh yang pernah dia kandung terhadap diri Biauw Eng, mungkin karena Biauw Eng adalah puteri suhu-nya, atau mungkin juga karena merupakan perasaan cinta kasih yang sesungguhnya, bukan cinta nafsu yang mempengaruhi hatinya seperti ketika dia melayani Cui Im, bahkan ketika dia bercinta dengan Sim Ciang Bi sekali pun. perasaan itu sekarang berubah menjadi perasaan muak dan benci. Muak dan benci terhadap Biauw Eng yang timbul dari kecewa dan sesal. Mengapa puteri suhu-nya macam itu?


Karena Biauw Eng membunuh banyak orang Tiat-cang-pang dengan senjata rahasianya, maka dia makin dibenci orang-orang Tiat-ciang-pang. Karena Biauw Eng membunuh Sim Ciang Bi secara keji, tentu saja dia akan dimusuhi oleh Hoa-san-pai dengan hebat! Dan kini secara tak tahu malu, di malam buta, Biauw Eng agaknya tidak dapat menahan gelora nafsu birahinya dan menggerumutnya seperti seorang pelacur.

__ADS_1


"Terkutuk! Engkau tak patut menjadi puteri mendiang suhu! Engkau puteri Lam-hai Sin-ni nenek iblis itu, akan tetapi aku tidak percaya engkau puteri guruku. Engkau iblis betina yang keji dan jahat!" dia memaki sambil bangun berdiri, menendang pergi cawan kosong dengan jijik.


Kalau dia tahu benar bahwa gadis semalam itu adalah Biauw Eng, betapa pun mesranya sikap gadis itu, betapa pun indah menggairahkan tubuhnya, dia pasti akan menendangnya pergi! Baru sekarang, Keng Hong merasa sebal dan menyesal sekali telah menuruti hati mengejar kenikmatan dalam menyambut cinta kasih seorang gadis.


Kemudian, dengan hati panas dan penuh kebencian, dia segera berlari-lari pergi dari situ menuju ke arah barat. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia peduli akan semua yang dilakukan Biauw Eng? Padahal, Cui Im juga jahat dan keji, namun dia sama sekali tidak menyesal telah bermain cinta dengan murid Lam-hai Sin-ni yang seperti iblis itu.


Mengapa dia merasa menyesal mendapat kenyataan bahwa Biauw Eng bukan seorang gadis baik-baik yang patut menjadi puteri gurunya? Mengapa dia menyesal mendapatkan kenyataan bahwa gadis pakaian putih itu ternyata juga seorang hamba nafsu birahi dan seorang yang keji, yang membunuh orang lain yang tidak berdosa tanpa berkedip mata? Dia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan hatinya yang ditujukan kepada perasaannya itu,dia sangat gundah.


Akan tetapi tak mungkin dia pergi langsung menghadap tokoh-tokoh Kun-lun-pai, karena kalau para tokoh Kun-lun-pai mengetahui dia berada di situ, tentu dia akan ditangkap dan tidak ada harapan lagi baginya untuk naik ke Kiam-kok-san. Ia harus dapat mencapai Kiam-kok-san dengan diam-diam, tanpa diketahui tokoh-tokoh Kun-lun-pai. Apa bila dia sudah berada di puncak Kiam-kok-san, biar pun diketahui juga, tak akan ada yang berani menyusulnya ke tempat itu.

__ADS_1


Akan tetapi dugaannya ini ternyata keliru karena baru saja dia keluar dari hutan itu, dia melihat banyak orang menghadang di sebelah depan! Tadinya dia mengira bahwa mereka tentulah tokoh Kun-lun-pai, akan tetapi dugaannya keliru karena ketika dia sudah sampai dekat dengan mereka, dia mengenal tosu tua yang berdiri di depan itu adalah seorang di antara para tokoh yang pernah mengeroyok suhu-nya, yaitu Kok Cin Cu tosu termuda dari Kong-thong Ngo-iojin, seorang tokoh Kong-thong-pai yang amat lihai!


Dan di sebelah belakang tosu ini berdiri sepuluh orang, delapan orang pria dan dua orang wanita yang rata-rata berusia tiga puluh tahun, bersikap gagah dan galak, sedangkan dua orang wanita itu pun terlihat gagah, berwajah cantik dan bermata tajam. Ia bisa menduga bahwa sepuluh orang itu tentulah murid-murid Kong-thong-pai.


Oleh karena itu dia sendiri belum pernah bentrok secara hebat dengan pihak Kong-thong-pai, kecuali dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang beberapa orang di antaranya, juga termasuk seorang di antara dua wanita cantik itu kini berada di situ, maka dia masih memiliki harapan untuk membebaskan diri dari keadaan tidak enak dalam pertemuannya dengan tokoh besar Kong-thong-pai yang memimpin sepuluh orang murid itu.


Ketika dia bentrok dengan sembilan orang murid Kong-thong-pai yang bercampur dengan empat orang murid Hoa-san-pai dan tiga orang murid Siauw-lim-pai, sesungguhnya yang bertempur adalah Cui Im dan Biauw Eng, dan sungguh pun di antara beberapa orang Kong-thong-pai ada yang terluka, namun tidak ada yang sampai tewas. Ia cepat menjura penuh hormat kepada tosu itu sambil berkata,


"Selamat pagi, Totiang dan para Twako dan Cici dari Kong-thong-pai yang mulia!"

__ADS_1


Kok Cin Cu, tosu yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih itu, memandang penuh perhatian. Dia telah mendengar cerita dari para muridnya mengenai pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong ini, yang kabarnya memiliki ilmu mukjijat, yaitu menyedot hawa sinkang para muridnya. Mendengar hal itu dia menjadi penasaran dan tertarik sekali, lalu mengajak mereka dan beberapa orang murid lain untuk menghadang di kaki Kun-lun-san karena merasa yakin bahwa sekali waktu pemuda itu tentu akan kembali ke Kun-lun-san. Dia tercengang melihat bahwa pemuda ini hanyalah seorang bocah biasa saja, tampan dan memiliki sinar mata yang cemerlang, sikap yang sopan santun dan wajah yang berseri gembira. Juga dia terheran melihat pemuda ini seperti mengenalnya.


"Hemmm, engkau telah mengenal pinto?"


__ADS_2