Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 06 part 2


__ADS_3

Keng Hong tersenyum, akan tetapi hatinya panas. Gurunya adalah seorang yang amat dihormat dan disayangnya, merupakan orang satu-satunya yang amat baik terhadapnya. Kini gurunya sudah mati akan tetapi masih saja dipercakapkan orang! Ia lalu memandang hwesio itu dan menjawab,


"Losuhu, sudah jamak bahwa manusia itu mempunyai dua sifat, baik dan buruk. Baik dan buruk yang hanya disebut mulut manusia dan menurutkan penilaian manusia pula, tentu saja disesuaikan dengan sifat ingin enak sendiri. Bila menguntungkan bagi dirinya disebut baik, yang merugikan disebut buruk. Aku tak akan menyangkal, seperti juga suhu, bahwa aku pun tentu mempunyai sifat-sifat buruk selain sifat-sifat baik. Setidaknya, orang-orang seperti mendiang suhu dan aku masih mau berterus terang, mengakui kelemahan sendiri. Dan sebaliknya, Losuhu dan anak murid Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang tergolong sebagai pemeluk-pemeluk serta pemimpin agama yang memiliki kewajiban membimbing manusia ke arah kebaikan. Sekarang Sam-wi Losuhu (Bapak Pendeta Bertiga) bukan membawa kitab suci untuk meberi wejangan, tapi sebaliknya membawa-bawa toya untuk menghantam dan membunuh orang! Apakah pakaian pendeta serta dibuangnya rambut kepala itu hanya untuk kedok belaka?"


"Omitohud...! Juga mulutnya jahat seperti gurunya!" teriak pendeta Siauw-lim-pai ke dua.


Cui Im tertawa hingga terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan. "Bagus sekali, Keng Hong! Memang mereka itu monyet-monyet berbulu berkedok ular! Kepalanya gundul akan tetapi hatinya berbulu, hi-hi-hik!"


Wajah Keng Hong menjadi merah. Ucapan dan sikap Cui Im tak menyenangkan hatinya. Dia tadi mengeluarkan ucapan dari hatinya untuk membela gurunya, bukan seperti Cui Im yang semata-mata mengejek. Maka dia segera menjura kepada tiga orang hwesio itu dan berkata,


"Aku tahu bahwa mendiang suhu mempunyai hutang kitab-kitab Seng-to Cin-keng dan I-kiong Hoan-hiat kepada Siauw-lim-pai. Aku berjanji, bila kelak aku berhasil mendapatkan kitab-kitab itu, pada suatu hari aku akan mengembalikannya kepada Siauw-lim-pai."

__ADS_1


Tiga orang hwesio itu hanya mendengus dan seorang di antara mereka berkata, "Pinceng bertiga hanya memikul tugas, kesemuanya akan pinceng laporkan kepada suhu." Setelah berkata demikian, mereka lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dengan kepala tunduk.


"Ihhh, kenapa begitu bodoh, Keng Hong? Dari pada kedua kitab penting itu diserahkan kepada setan-setan gundul itu, lebih baik kau berikan kepadaku!" kata Cui Im pula dengan sikap genit, sama sekali tidak peduli bahwa di sana masih ada tiga belas orang lain. Dia sama sekali tidak menyembunyikan sikapnya yang terang-terangan merayu pemuda itu dengan senyum bibir dan kerling mata memikat.


Salah seorang murid Hoa-san-pai, yakni wanita cantik yang berbaju hijau, melihat ini lalu mengeluarkan suara mendengus tanda jijik dan berkata, "Murid Sin-jiu Kiam-ong memang tidak ada bedanya dengan gurunya! Gurunya laki-laki cabul muridnya mana bisa berhati bersih? Kalau dia ini seorang bersih dan gagah, tentu menginsyafi kebiadaban gurunya terhadap Hoa-san-pai, sedikitnya tentu akan mengembalikan pedang pusaka Hoa-san-pai yang telah dicurinya. Akan tetapi, ia malah bersahabat dengan murid iblis betina Lam-hai Sin-ni. Mengharapkan apa lagi? Burung gagak tak akan berkawan dengan burung hong, orang jahat tentu memilih kawan kaum sesat! Lebih baik kita pergi dan melaporkan hal ini kepada suhu!"


Jika saja murid perempuan Hoa-san-pai itu hanya memaki-makinya, Keng Hong tentu tak akan mengambil pusing. Akan tetapi gadis itu juga membawa-bawa nama gurunya, malah memaki-maki gurunya. Keng Hong memandang dengan mata marah, lalu dia tersenyum sindir dan berkata,


"Cih, laki-laki cabul...!" Wanita murid Hoa-san-pai itu menjerit lalu membalikkan tubuhnya dan lari, diikuti oleh tiga orang suheng-suheng-nya.


"Heh-heh-hi-hi-hik, mulutmu benar lihai sekali!" Cui Im kembali bertepuk tangan, bahkan Biauw Eng juga tersenyum sedikit, akan tetapi alisnya yang hitam melengkung panjang itu berkerut. Terlalu tajam mulut pemuda ini, pikirnya.

__ADS_1


Kini tinggallah sembilan orang anggota Kong-thong-pai dan mereka itu merasa ragu-ragu untuk membuka mulut, karena mendapat kenyataan bahwa selain ilmunya tinggi, pemuda itu mulutnya juga lihai sekali. Melihat keadaan mereka, Keng Hong sudah mendahului dengan ucapan yang serius.


"Cui-wi enghiong adalah orang-orang gagah dari Kong-thong-pai yang tentu saja memiliki pandangan luas. Seperti Cu-wi tentu telah mendengar penuturan orang-orang tua, urusan yang timbul di antara mendiang suhu dengan Kong-thong-pai adalah karena dahulu suhu pernah menewaskan lima orang anak murid Kong-thong-pai. Sebab dari pada bentrokan itu adalah karena kedua pihak berbantahan dalam sebuah rumah judi, sehingga urusan itu adalah urusan pribadi yang tidak menyangkut perkumpulan. Apa lagi jika diingat bahwa suhu telah meninggal dunia, begitu pula lima orang anggota Kong-thong-pai itu. Setelah kedua pihak yang bermusuhan sudah tewas semua, apakah kita yang tidak tahu apa-apa harus terseret ke dalam permusuhan? Apakah yang kita perebutkan?"


Para murid Kong-thong-pai dapat mengerti alasan ini. Diam-diam mereka ini kagum juga mendengar ucapan Keng Hong yang mengandung pendapat yang dalam dan pandangan yang luas.


Akan tetapi, karena mereka itu seperti juga yang lainnya hanyalah merupakan pelaksana-pelaksana tugas, maka seorang tosu yang tertua di antara mereka segera berkata,


"Persoalannya tidaklah begitu sederhana, orang muda. Pula, kami hanyalah murid-murid yang melaksanakan perintah guru..."


"Hemm, agaknya Kong-thong Ngo-lojin yang sudah menurunkan perintah. Baiklah, kalau begitu harap Cu-wi sampaikan kepada Kong-thong Ngo-lojin bahwa kalau mereka tetap menginginkan barang-barang pusaka peninggalan suhu, suruh saja mereka pergi mencari sendiri karena hal itu merupakan keinginan pribadi kenapa harus membawa-bawa nama perkumpulan? Di dunia ini betapa banyaknya manusia-manusia yang sebetulnya memiliki cita-cita untuk kepentingan pribadi akan tetapi mempergunakan kedok demi perkumpulan, mempergunakan anak buah dan para murid untuk berjuang demi perkumpulan, padahal sesungguhnya yang menjadi pamrih adalah kepentingan dan kesenangan pribadi!"

__ADS_1


__ADS_2