Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 2


__ADS_3

Melihat betapa Cui Im sedang terdesak hebat oleh dua orang laki-laki bersenjata golok yang menggunakan julukan Sepasang Golok Bumi Langit itu. Untung bahwa pedang Cui Im benar-benar hebat, kalau tidak, tentu dalam beberapa gebrakan saja ia akan roboh.


Cui Im mainkan pedangnya secepat mungkin, dan biar pun dia sama sekali tidak mampu melakukan serangan balasan, namun dia masih mampu mempertahankan dirinya dengan gerakan pedang dan juga sambil mengelak ke sana ke mari. Dia sudah terdesak hebat dan menurut taksiran Keng Hong, tidak sampai sepuluh jurus lagi gadis itu tentu akan roboh.


"Sumoi, tidak lekas membantuku kau menunggu apa lagi?" Cui Im yang repot itu akhirnya berteriak-teriak.


Keng Hong hanya melihat muili (tirai) kereta itu tersingkap dari dalam, lantas berkelebat segulung cahaya putih berturut-turut dua kali. Cahaya ini menyebar ke arah kedua orang kakek yang mendesak Cui Im.


Mereka cepat menangkis dengan pedang, namun mereka segera berteriak kesakitan dan meloncat ke belakang. Ternyata pangkal lengan kedua orang kakek itu sudah terluka dan mengeluarkan darah. Yang melukai mereka ialah dua butir bola putih yang permukannya halus namun mempunyai duri-duri runcing dan pada saat dua bola tadi berhasil ditangkis, bola itu tidak runtuh ke atas tanah melainkan melesat dan melukai lengan mereka.


Pada waktu dua orang kakek itu melihat wajah ayu yang tersembul keluar dari balik tirai, mereka terkejut dan cepat menjura ke arah kereta.


"Kiranya Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung) juga turut hadir di sini. Maafkan atas kelancangan kami!" Sesudah berkata demikian, kakek kembar itu lalu membalikkan tubuh dan berlari pergi.


"Heiii, kembalilah! Mari kita bertanding sampai seribu jurus! Belum bolong dadamu sudah lari, pengecut!" Cui Im berteriak-teriak menantang.


"Suci, jalan terus!" terdengar gadis baju putih yang kini julukannya telah dikenal oleh Keng Hong berkata halus.

__ADS_1


Kereta berjalan lagi amat kencangnya, dan terpaksa Keng Hong kembali merebahkan diri telentang lagi, diseret-seret kereta. Ia bergidik bila mengingat julukan gadis baju putih itu. Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung). Mengapa berkabung? Pantas saja pakaiannya serba putih, bahkan senjatanya yang lihai, sabuk yang kini mengikat kedua kakinya, juga putih dan senjata rahasia yang berbentuk bola itu pun putih!


"Cepatlah, suci. Setelah murid-murid Pat-jiu Siang-ong muncul, kurasa yang lainnya akan muncul pula."


"Untung kau berada di sini, sumoi, kalau tidak... wah berabe juga. Aku... aku kehilangan sebagian besar sinkang di tubuhku karena... bocah setan itu!"


"Apa? Mengapa dan bagaimana?" Song-bun Siu-li bertanya heran.


"Benar, tenagaku disedot habis olehnya. Keparat! Setelah malam tadi, entah bagaimana aku pun tidak tahu. Dia memang hebat, aku sampai lupa diri dan aku... tersedot habis... uhhh..."


"Suci, diam! Kau tahu aku tidak sudi mendengarkan omongan-omonganmu yang cabul!"


Akan tetapi pada saat itu dia menghadapi pukulan sinkang yang amat berat. Sedangkan malam tadi dengan Cui Im... ahhh… dia tetap tidak mengerti.


Diam-diam dia kagumi Song-bun Siu-li. Betapa lihai gadis muda itu. Hanya dengan dua butir bola saja dia mampu mengusir murid-murid Pat-jiu Sian-ong yang dia lihat tadi amat lihai ilmu goloknya.


Lewat tengah hari, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka tiba di sebuah hutan dan jauh di depan menjulang tinggi pegunungan yang rupanya banyak dusun-dusunnya karena dari jauh sudah nampak genteng-genteng rumah yang kemerahan.

__ADS_1


Keng Hong yang diseret kereta mulai merasa tersiksa karena selain haus dan lapar, juga debu yang mengebul dari roda-roda kereta itu seolah-olah dilemparkan semua padanya, membuat rambut dan alisnya menjadi putih, juga mukanya menjadi putih semua. Untuk bernapas pun terasa sukar di dalam kepulan debu yang tebal ini.


Tiba-tiba Cui Im berseru nyaring dan tangan kirinya menyabar dua batang anak panah yang menyambarnya. Hebat kepandaian ini dan diam-diam Keng Hong yang melihat itu menjadi kagum.


"Jalan terus, suci. Biarkan aku yang melayani mereka!" berkata Song-bun Siu-li dengan suara dingin.


Kini berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu gadis itu sudah berdiri di atap kereta, lalu minta pinjam cambuk kuda yang masih dipegang oleh Cui Im. Cambuk ini cukup panjang dan dengan tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanannya memegang gagang cambuk, Song-bun Siu-li berdiri dengan gagah tanpa bergerak, hanya matanya saja yang menatap tajam ke depan.


Tiba-tiba dari arah kiri menyambar tiga batang anak panah, sebuah ke arah Cui Im dan yang ke dua ke arah Song-bun Siu-li dan anak panah yang datang menyambar sekali ini, walau pun warnanya juga hitam seperti tadi, namun mengandung kecepatan dan tenaga dahsyat sehingga mengeluarkan bunyi mendesing.


Cui Im tidak mempedulikan datangnya anak panah yang menyerangnya, melainkan tetap mencurahkan seluruh perhatian kepada kendali empat ekor kuda yang dipegangnya dan dibalapkannya dengan cepat. Dia sudah percaya penuh akan penjagaan sumoi-nya dan kepercayaan ini pun tidak sia-sia. Terdengar suara cambuk meledak-ledak, dan... tiga batang anak panah itu sudah kena digulung dan dibelit ujung cambuk.


Keng Hong melongo melihat itu dan dia lebih terbelalak lagi ketika nona baju putih itu menggerakkan cambuknya, membuat tiga batang anak panah meluncur ke arah kiri dan... terdengar jerit-jerit mengerikan yang lantas disusul dengan terjungkalnya tubuh tiga orang yang tadi bersembunyi di balik batang pohon. Kiranya nona baju putih yang lihai sekali itu telah meretour anak panah kepada pemiliknya masing-masing dan secara kontan keras telah membalas mereka!


Tiba-tiba terdengarlah suara keras yang bergema di seluruh hutan itu, seolah-olah suara raksasa yang sakit, padahal suara itu merupakan suara banyak orang yang mengucapkan sebuah kalimat secara berbareng, "Atas perintah Pak-san Kwi-ong, kami mohon tawanan putera Sin-jiu Kiam-ong ditinggalkan di hutan ini!"


"Suci, berhenti sebentar," kata Song-bun Siu-li dengan suara halus.

__ADS_1


Kereta itu berhenti dan kini tampaklah puluhan orang, sedikitnya ada sekitar tiga puluh orang yang mengurung kereta itu dalam kurang lebih jarak lima puluh meter.


__ADS_2