
Sesudah bayangan gadis itu lenyap, Keng Hong menunduk, melihat ke tempat di mana seorang tosu Kun-lun-pai yang terhormat melakukan perbuatan biadab yang sama sekali tidak terhormat. Dia mengeluarkan pita hijau yang tadi dia masukkan saku, memandang pita itu dan berkata perlahan,
"Lian Ci Tojin... akan tiba saatnya engkau menyesali perbuatanmu yang terkutuk ini..."
Tak lama kemudian dia mengantongi pita hijau itu kembali dan meninggalkan tempat itu, berjalan dengan kepala tunduk menuju ke Kun-lun-pai. Hatinya makin berduka karena dia kembali menjadi korban perbuatan jahat orang lain yang ditimpakan kepadanya.
Berkali-kali Biauw Eng melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dan selalu dialah yang menanggung akibatnya, dan kini dia merasa yakin bahwa Lian Ci Tojin telah memperkosa Tan Hun Bwee dalam keadaan pingsan namun akibatnya dia pula yang dituduh oleh gadis itu!
"Suhu, kenapa nasib teecu tidak sebaik nasib suhu yang selalu mengalami kegembiraan? Apakah karena teecu masih terlalu bodoh dan perlu menyempurnakan ilmu peninggalan suhu?" Demikian keluh hatinya terhadap mendiang gurunya.
Biar pun Keng Hong menjalani hidup, namun dia belum banyak pengalaman dan jiwanya belum matang, sehingga dia lupa bahwa senang mau pun susah bukan datang dari luar melainkan akibat terhadap segala yang menimpa hidupnya. Seorang yang sudah matang seperti Sin-jiu Kiam-ong, tentu akan menerima segala macam derita hidup dengan tertawa geli dan seolah-olah menyaksikan sebuah lelucon.
"Lian Ci Tojin, engkau benar-benar lebih jahat dari pada seorang jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita). Seorang jai-hwa-cat melakukan kejahatannya dengan berterang, tapi sebaliknya engkau bersebunyi dalam kependetaan. Alangkah hina dan jahatnya engkau!"
__ADS_1
Begitu teringat akan tosu itu, dalam hatinya Keng Hong memaki-maki. Kemudian dia juga teringat kepada Biauw Eng dan sedetik timbul rasa rindu yang membuat kedua kakinya lemas. Akan tetapi begitu mengingat perbuatan-perbuatan Biauw Eng, dia memaki-maki pula di dalam hatinya.
"Aku benci kepadamu! Kau perempuan hina, kejam, curang! Tak tahu malu engkau, aku tidak cinta kepadamu, melainkan benci... benci...!"
Keng Hong menghentikan langkahnya dan terpaksa menutupkan kedua tangan di depan muka karena sungguh pun mulutnya menyebutkan benci sampai berulang kali, namun dia maklum bahwa di dalam hatinya dia tak pernah dapat membenci Biauw Eng!
Keng Hong berlari terus secepatnya dengan hati yang tertekan dan wajah muram. Kalau menurutkan hatinya, ingin dia langsung saja naik ke Kiam-kok-san untuk menjauhkan diri dari pada segala urusan dunia yang banyak menimbulkan kepahitan. Akan tetapi ia harus mentaati kesadaraannya bahwa dia harus lebih dulu menghadap Kiang Tojin dan mohon maaf akan kedosaannya sudah menipu tosu itu dengan menyerahkan Siang-bhok-kiam palsu.
Tosu itu adalah penolongnya, dan semua tosu di Kun-lun-pai telah bersikap baik padanya pada waktu dia masih kecil. Kalau dia tidak pergi menghadap, tentu selamanya dia akan menyesal dan berdosa. Biarlah dia akan menanggung segala akibatnya. Apa pun yang akan terjadi, akan dia hadapi.
Meski pun hatinya tertekan oleh semua peristiwa yang dialami, oleh kekecewaan melihat perbuatan Biauw Eng, oleh kemarahan karena perbuatan Lian Ci Tojin, namun dengan penuh semangat Keng Hong mendaki lereng yang menuju puncak di mana berdiri markas Kun-lun-pai dengan megahnya. Puncak itu masih jauh, masih membutuhkan perjalanan setengah hari, walau pun dindingnya sudah tampak dari lereng.
Ketika melalui sebuah tikungan, tiba-tiba Keng Hong berhenti dan matanya memandang terbelalak ke depan. Dia segera maklum bahwa nyawanya terancam bahaya maut ketika dia mengenal orang-orang yang telah menghadangnya di tengah jalan itu.
__ADS_1
Pertama-tama dia mengenal Sim Lai Sek, pemuda remaja adik mendiang Sim Ciang Bi yang dahulu terbunuh oleh Biauw Eng. Sim Lai Sek berdiri dengan muka merah saking marahnya, berdampingan dengan dua orang kakek yang juga sudah dikenal Keng Hong sebagai tokoh-tokoh Hoa-san, yaitu Hoa-san Siang-sin-kiam yang amat lihai!
Di samping tiga orang Hoa-san-pai ini, dia melihat empat orang tosu tua yang bersikap angker dan penuh wibawa tetapi yang belum pernah dikenalnya. Karena belum mengenal empat orang tosu tua itu, maka perhatiannya tertarik kepada dua orang yang lain yang berdiri dengan alis berdiri saking marahnya.
Mereka berdua ini bukan lain adalah Kim-to Lai Ban wakil ketua Tiat-ciang-pang serta seorang laki-laki tua yang mukanya licin seperti muka anak-anak, akan tetapi sepasang matanya bundar seperti mata ikan bandeng raksasa! Melihat sikap kakek bermuka halus itu hati Keng Hong menjadi berdebar dan menduga bahwa agaknya dia itu adalah ketua Tiat-ciang-pang!
Memang dugaannya benar. Laki-laki tua yang datang bersama Kim-to Lai Ban itu bukan lain adalah Ouw Beng Kok, pangcu (ketua) dari Tiat-ciang-pang. Kakek yang hebat ini tangan kirinya merupakan tangan kiri palsu yang terbuat dari pada logam kehijauan yang mengerikan sekali, seperti cakar iblis! Ada pun empat orang tosu tua yang tidak di kenal Keng Hong itu pun bukan orang-orang sembarangan, melainkan empat orang di antara Kong-thong Ngo-lojin, tokoh-tokoh utama Kong-thong-pai!
Keng Hong menenangkan hatinya, lalu dia menjura dengan hormat kepada semua orang sambil berkata, "Para Locianpwe berada di sini apakah sengaja menghadang saya dan ada urusan apakah? Ehh, adik Sim Lai Sek juga berada di sini? Apakah engkau baik-baik saja?"
"Manusia keparat! Siapa sudi menjadi adikmu? Engkau telah mencemarkan kehormatan cici-ku kemudian masih tega membunuhnya! Nah, untuk perbuatanmu yang terkutuk itulah aku datang bersama Ji-wi Supek untuk membunuhmu!" Sim Lai Sek membentak penuh kebencian.
"Celaka, bocah ini lebih jahat dari pada gurunya, Sin-jiu Kiam-ong. Patut dilenyapkan dari muka bumi!" kata Coa Kiu orang tertua dari Hoa-san Siang-sin-kiam.
__ADS_1
Keng Hong mengangguk-angguk. "Cukup sudah kuketahui maksud Ji-wi Locianpwe dari Hoa-san-pai yang hendak membunuhku berdasarkan fitnah memperkosa dan membunuh. Bagaimana dengan para Locianpwe yang lain? Ada urusan apakah?"