Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 10 part 4


__ADS_3

Akan tetapi setelah berlari cukup jauh dan tak melihat kakek itu mengejarnya, Keng Hong sudah melupakan lagi kakek itu. Sekarang pikirannya penuh dengan pemecahan rahasia Siang-bhok-kiam.


Semenjak turun dari Kiam-kok-san, dia selalu bertemu dengan peristiwa-peristiwa hebat, bertemu dengan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan beberapa kali terancam bahaya maut. Memang benar seperti pesan suhu-nya, kepandaiannya sendiri masih jauh dari pada mencukupi untuk dapat melindungi dirinya terhadap ancaman orang-orang sakti di dunia kang-ouw yang selalu membayanginya, yang demikian tamak hendak merampas pusaka yang tersembunyi di balik rahasia Siang-bhok-kiam.


Dia kini sudah dapat membuka rahasia itu. Dia harus kembali ke Kiam-kok-san mencari pusaka suhu-nya dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu peninggalan gurunya. Setelah kepandaiannya cukup, mewarisi ilmu-ilmu gurunya, baru dia akan turun dari Kiam-kok-san dan dia akan dapat menghadapi lawan mana pun juga dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri, seperti sikap gurunya ketika menghadapi begitu banyak lawan.


Dari pegunungan Bayangkara, Keng Hong terus lari ke barat dan beberapa hari kemudian ia telah memasuki daerah Pegunungan Kun-lun-san. Sungguh pun Kun-lun-san dianggap sebagai pusat atau markas besar para tosu Kun-lun-pai, akan tetapi hal ini sebenarnya hanyalah anggapan dunia kang-ouw saja.


Kun-lun-san adalah daerah pegunungan yang amat luas dan besar, ada pun Kun-lun-pai hanyalah sebuah partai persilatan yang dibentuk oleh sekelompok tosu yang kemudian berkembang biak dengan murid-murid mereka, juga akhir-akhir ini semuanya tosu belaka. Biar pun jumlah mereka banyak, dan yang berdiam di puncak Kun-lun tidak kurang dari dua ratus orang, namun jumlah yang sedemikian itu tidak ada artinya bagi Pegunungan Kun-lun-san yang amat luas itu.


Pada sepanjang kaki Pegunungan Kun-lun-san, juga di lereng-lereng, terdapat pedusunan dan pada bagian-bagian yang sunyi terdapat pula banyak pertapa yang menyembunyikan diri. Hanya karena mereka ini memang bersembunyi di tempat sunyi untuk bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan dunia, maka pihak Kun-lun-pai juga tidak pernah mau menganggap mereka. Bahkan para tosu Kun-lun-pai sering kali turun tangan membantu para penduduk dusun-dusun di situ. Karena pengaruh Kun-lun-pai pula maka tidak ada seorang pun perampok berani mengacau di daerah Kun-lun-san.

__ADS_1


Keng Hong terpaksa menghentikan perjalanannya dalam sebuah hutan ketika malam tiba. Ia merasa amat lelah karena selama beberapa hari melakukan perjalanan terus-menerus dan hanya berhenti kalau malam tiba. Makannya tidak teratur, kadang-kadang selama dua hari baru bertemu makanan. Malam ini dia lelah sekali dan begitu membuat api unggun dan merebahkan diri di bawah pohon, dia segera jatuh pulas.


Malam itu gelap, tiada bulan dan angkasa hanya diterangi bintang-bintang yang sinarnya terlampau suram untuk dapat menembusi celah-celah daun pohon yang lebat. Menjelang tengah malam, dalam keadaan setengah sadar setengah mimpi, dia merasa betapa dia diberi minum orang. Dalam keadaan setengah sadar itu dia merasa betapa lengan yang halus lunak dan hangat memeluk lehernya, mengangkat kepalanya dan ketika pundaknya menyentuh dada yang menonjol, Keng Hong diam-diam tersenyum.


Ada wanita yang bentuk tubuhnya halus lunak dan padat, wanita muda, mencoba untuk meminumkan sesuatu kepadanya. Dia tidak takut akan segala macam racun karena dia sudah kebal terhadap racun, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menurut saja dan minum dari cawan yang ditempelkan di bibirnya.


Bibir cawan yang halus, rasa anggur yang harum dan manis, mengingatkan dia akan bibir Sim Ciang Bi, gadis Hoa-san-pai yang belum lama ini telah melayaninya dalam cinta kasih yang mesra. Maka, setelah minum habis anggur itu, dia pun berbisik,


"Ciang Bi.. Kekasihku.."


Akan tetapi Keng Hong tak mempedulikannya, melainkan menerima hal itu sebagai suatu kenikmatan, pelipur hati gelisah dan lelah setelah mengalami banyak hal yang berbahaya. Dia tidak pernah minta, dia tidak mengajak, melainkan gadis itu sendiri yang datang dan ‘memperkosanya’. Bukan, bukan memperkosa karena dia menerima dengan senang hati!

__ADS_1


Watak gurunya menurun kepadanya! Cinta kasih wanita dianggapnya sebagai semacam ‘rejeki’ yang tidak boleh ditolaknya, apa lagi kalau wanita itu seperti ini, muda jelita, halus, hangat dan harum seperti serangkai bunga mawar pagi. Segar menggairahkan!


Keng Hong membiarkan dirinya dihanyutkan permainan cinta kasih yang menggelora. Dia berada dalam keadaan setengah sadar. Arak yang diminumnya tidak mempengaruhinya karena gumpalan hawa beracun yang wangi ia kumpulkan di dada dan kini perlahan-lahan dia hembuskan keluar kembali. Dia teringat bahwa arak semacam ini adalah arak yang pernah diminumnya dari Ang-kiam Tok-sian-li Bhe-Cui-Im. Cui Im-kah gadis ini?


"Keng Hong... akulah kekasihmu... hanya akulah yang mencintaimu."


Suara Cui Im-kah ini? Atau suara Biauw Eng? Sukar bagi Keng Hong untuk mengenal gadis ini karena malam itu sangat gelap dan api unggun yang tadi dinyalakannya sudah padam. Akan tetapi dia tak peduli dan hanya menyelamkan diri ke dalam lautan cinta yang memabukkan.


Keng Hong sadar dari tidurnya. Mimpikah dia semalam? Dia meraba ke kiri dan membuka mata, hendak meraba tubuh yang menggairahkan, yang semalam rebah di sampingnya. Akan tetapi kosong! Tangannya hanya meraba rumput yang masih hangat. Dia membuka matanya.


Cuaca tidak segelap malam tadi. Kiranya sudah menjelang fajar. Ia mendengar suara kaki di sebelah kanan, maka dia cepat menoleh dan masih tampak olehnya Sie Biauw Eng dengan pakaian serba putihnya yang mudah dikenal itu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Aihhhhh! Biauw Eng kiranya gadis yang begitu mesra kepadanya semalam! Jantung Keng Hong berdebar dan dia meloncat bangun, berteriak, "Nona Biauw Eng...!"


Akan tetapi bayangan putih itu lenyap di dalam halimun pagi yang memenuhi tempat itu. Keng Hong bangun duduk, tidak mengejar, lalu mengenakan pakaiannya untuk melawan hawa yang sangat dingin itu. Dilihatnya sebuah cawan kosong menggeletak di sana, dan sebuah tusuk konde berkepala bunga bwee. Lagi-lagi sebuah di antara senjata rahasia Sie Biauw Eng, agaknya jatuh tercecer.


__ADS_2