
Melihat kemajuan Cui Im yang mencemaskan itu, hanya ada satu hal yang melegakan hati Keng Hong, ialah betapa pun gadis itu berlatih dan mencari-cari dalam semua kitab yang berada di situ, gadis itu tidak dapat menemukan ilmu Thi-khi I-beng, dan dalam hal tenaga sinkang, betapa pun gadis itu menghimpun dan berlatih, tidak mampu menandingi tenaga sinkang-nya sendiri yang dulu dia terima secara langsung dipindahkan dari tubuh gurunya.
Empat tahun telah berlalu dengan cepat sekali karena kedua orang ini tekun belajar dan berlatih sehingga waktu berlalu tanpa terasa oleh mereka. Kini semua kitab sudah habis dipelajari Cui Im! Gadis ini sudah menjadi seorang wanita berusia dua puluh enam tahun yang matang segala-galanya! Cantik jelita, dan di dalam pandang matanya kini terdapat sinar berapi yang dulunya tidak ada, sinar berapi yang timbul dari kekuatan sinkang-nya ditambah kepercayaannya kepada diri sendiri.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali saat Keng Hong bangun dari tidurnya, dia mendapatkan Cui Im tersenyum-senyum di dekatnya. Dia heran melihat gadis itu mengenakan pakaian yang bersih, agaknya baru kemarin atau malam tadi dicuci, rambutnya digelung indah, wajahnya berseri-seri dan mulutnya tersenyum-senyum. Akan tetapi dengan terkejut Keng Hong melihat adanya pandang mata yang aneh, pandang mata yang jelas membayangkan nafsu birahi!
Kekhawatirannya terbukti ketika Keng Hong bangun duduk. Tiba-tiba Cui Im menjatuhkan diri dan duduk di dekatnya, memandang penuh kemesraan dan tertawa-tawa kecil penuh nafsu.
"Ehhh, Cui Im, apa-apaan ini? Engkau mau apa?" Keng Hong merenggutkan lengannya yang mulai dipegang dengan sentuhan halus mesra oleh gadis itu.
"Hi-hi-hik-hik, Keng Hong, betapa rinduku kepadamu. Hampir mati aku menanggung rindu kepadamu, kekasihku. Hampir gila aku mengekang diri, setiap malam bila engkau sudah tidur aku memandangimu, teringat masa lalu!"
"Cui Im, tidak boleh..." Keng Hong membuang muka menghindarkan ciuman gadis itu dan dia mulai terangsang.
Akan tetapi dia teringat betapa gadis ini sudah melakukan hal-hal keji, yang menjatuhkan fitnah kepada Biauw Eng. Selama empat tahun ini, ingatan itu selalu menyiksa dirinya dan membuat dia semakin menyesal di samping merasa rindu kepada Biauw Eng. Perasaan ini menimbulkan rasa muak dan bencinya kepada Cui Im sehingga begitu teringat kepada Biauw Eng, lantas lenyaplah rangsangan birahinya terhadap gadis yang tengah membelai dan membujuk rayu dirinya itu.
"Jangan berpura-pura alim Keng Hong. Dahulu engkau begitu mencintaiku! Dan sekarang aku tak lagi berlatih menghimpun sinkang, sudah cukup kuat aku, hi-hi-hik, lebih kuat dari guruku sendiri. Ya, sekarang aku dapat menjagoi di seluruh dunia dan cintaku kepadamu menjadi lebih kuat dari pada dulu karena engkau telah membantuku, kekasihku. Layanilah aku, Keng Hong, dan kita nanti keluar dari sini, menjadi sepasang kekasih, juga sepasang jagoan nomor satu di dunia. Mungkin engkau tidak mendapatkan banyak kemajuan, akan tetapi jangan khawatir, kepandaianku telah meningkat secara hebat, dan aku selalu siap melindungimu, kekasihku. Marilah...!” Cui Im menubruk, merangkul dan menggelutinya.
__ADS_1
Keng Hong hampir tidak dapat menahan gelora darah mudanya ketika digeluti oleh Cui Im yang merayu dan yang makin cantik jelita ini. Akan tetapi dia cepat menekan perasaannya dan berkata,
"Engkau telah berlaku keji terhadap Biauw Eng..."
Jari-jari tangan yang sedang membelainya itu tiba-tiba saja berhenti, akan tetapi hanya sebentar, kemudian mengelus-elus lagi, malah mulut itu menciuminya sekerasnya. "Aiiiih, kekasihku, hal itu kulakukan karena cintaku kepadamu..."
Keng Hong sudah menjadi dingin lagi begitu dia teringat Biauw Eng. Ingin dia meronta menggunakan sinkang-nya, akan tetapi dia tak mau memancing keributan dengan Cui Im. Maka dia lalu berkata,
"Baiklah, Cui Im. Siapa yang bisa bertahan menghadapi kecantikan dan rayuanmu? Akan tetapi, aku... aku hendak mandi dulu..."
"Hi-hi-hi, tak usahlah...".
Dia menoleh dan melihat Cui Im memandangnya dengan mata penuh gairah nafsu birahi. Dia perlu mencari waktu untuk menenteramkan hatinya yang yang terangsang.
"Kau tunggulah, aku hendak mandi..!" katanya dan Cui Im tertawa aneh.
Cui Im mengertak gigi saking gemasnya ketika melihat Keng Hong lari. Ia maklum bahwa dia sudah kehilangan cinta pemuda itu karena Biauw Eng. Hemmm, orang yang tak tahu dicinta, gerutunya dan ia pun bangkit perlahan mengikuti Keng Hong.
__ADS_1
Dilihatnya pemuda itu meloncat ke atas jembatan tambang dan berlari cepat. Cui Im terus memperhatikan dan ia dapat melihat bahwa ginkang dari pemuda itu makin hebat saja. Ia pun dapat secara mudah berlari cepat melalui tambang itu, akan tetapi tambang itu masih bergetar dan bergoyang sedikit.
Kini melihat Keng Hong berlari cepat dan sedikit pun tambang itu tidak bergoyang, hatinya menjadi khawatir sekali. Dia mencinta Keng Hong, akan tetapi kalau pemuda itu memiliki kepandaian yang lebih hebat dan membahayakan dirinya sendiri, pemuda itu tidak berhak hidup lagi.
"Keng Hong, berhentilah!"
Nada suara panggilan yang mengandung kemarahan ini membuat Keng Hong terkejut dan cepat berhenti di tengah-tengah tambang, kemudian membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Cui Im. Gadis itu berdiri di tepi jurang, dekat pada ujung tambang dan sikapnya membayangkan kemarahan yang amat besar. Akan tetapi kemarahannya itu ditutup oleh senyumnya yang lebar.
"Keng Hong, engkau bersumpahlah!"
"Heeeee?! Apa? Tidak ada alasan bagiku untuk bersumpah!"
"Keng Hong, bersumpahlah bahwa engkau mencintaiku dan akan melayani hasrat cinta kasihku!"
Keng Hong menggelengkan kepalanya, "Cui Im, sebenarnya engkau seorang gadis yang cantik jelita dan sekiranya engkau tidak begitu keji, sudah menjadi biang keladi terjadinya semua kekacauan bahkan merusak hati seorang gadis seperti Biauw Eng, dan sekiranya engkau tak begitu curang dan tidak menimbulkan rasa muak dan benci di hatiku, agaknya aku akan menerima cintamu dengan penuh kegembiraan."
"Keparat, laki-laki tak tahu dicinta! Kalau begitu mampuslah kau!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja gadis itu menggerakkan kedua tangannya ke depan dan segera tampaklah sinar-sinar merah kecil berkeredepan menyambar ke arah tujuh jalan darah pada bagian depan tubuh Keng Hong! Itulah jarum-jarum merah senjata rahasia Cui Im, dan karena selama empat tahun ini ia telah mencapai kemajuan pesat dan tenaga sinkang-nya sudah hebat sekali, maka sambitan jarum-jarumnya juga cepat sekali seperti kilat menyambar.