
Tendangan kedua kaki mengarah perut dan dadanya dia hindarkan dengan elakan cepat, demikian pula pukulan ke arah lehernya. Akan tetapi tamparan ke arah ubun-ubunnya sedemikian cepat dan hebatnya sehingga amat berbahaya kalau dielakkan karena sedikit saja bagian kepalanya terkena, tentu akan mendatangkan bencana hebat. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, miringkan kepala dan tubuh, lantas secepat kilat dia menangkis tamparan itu sambil terus menangkap tangan Keng Hong yang terbuka.
Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang telah mempunyai tingkat kepandaian amat tinggi, juga mempunyai tenaga sinkang yang sukar dicari bandingannya. Maka sangatlah mengherankan kalau sekarang menghadapi seorang muda yang baru belajar selama lima tahun dia terpaksa harus berhati-hati dan mengerahkan tenaganya.
"Plakk...! Aihhhh....!"
Kiang Tojin berseru kaget bukan main. Ketika ia menangkis tamparan Keng Hong dengan telapak tangannya, dia merasa seolah-olah lengannya tertindih oleh tenaga yang sangat kuat dan berat sehingga hampir tak kuat dia menahannya, yang membuat seluruh lengan sampai setengah dada terasa ngilu! Sebagai seorang yang sakti, tentu saja dia terkejut namun tidak kehilangan akal. Cepat dia memutar telapak tangannya bergerak, membuat tubuh Keng Hong terbanting ke bawah.
Akan tetapi, karena pemuda itu memiliki ginkang yang luar biasa, dia terbanting dalam keadaan berdiri sungguh pun bantingan itu membuat dia berdiri setengah berlutut dengan tangan masih menempel dengan tangan Kiang Tojin yang menangkapnya.
"Heeiiiitttt...!" Kembali Kiang Tojin memekik kaget dan megerahkan tenaga sinkang untuk melepaskan pegangannya.
Akan tetapi sungguh aneh sekali, dia tidak dapat melepaskan pegangannya pada tangan Keng Hong! Dapat dibayangkan betapa terkejut dan herannya ketika dia merasa betapa semakin dia mengerahkan sinkang, maka hawa sakti itu seakan-akan air dituangkan ke dalam laut, amblas dan hanyut tanpa bekas, bahkan kini tidak dapat lagi dia menahan sinkang-nya yang terus mengalir keluar melalui lengannya dan tersedot masuk ke dalam tubuh Keng Hong melalui tangan!
"Iiiiihhhh..., ehhhh...!"
__ADS_1
Kiang Tojin menjadi pucat, matanya terbelalak dan ia meronta-ronta hendak melepaskan pegangannya. Namun sia-sia belaka, karena seperti ada tenaga mukjijat yang membuat tangannya lekat dan dia pun tak dapat menahan sinkang-nya yang menerobos keluar.
Tentu saja Kiang Tojin tidak mengerti bahwa kalau tadi dia hampir kalah kuat oleh Keng Hong adalah akibat pemuda itu telah menerima pengoperan sinkang dari Sin-jiu Kiam-ong dalam saat terakhir sehingga dapat dikatakan bahwa yang dia lawan bukan sinkang asli Keng Hong, melainkan sama dengan melawan Sin-jiu Kiam-ong! Dan kini, baik dia sendiri mau pun Keng Hong tidak mengerti betapa ada tenaga ‘menyedot’ luar biasa pada diri Keng Hong sehingga hawa sakti dari tubuh tosu itu mengalir keluar dan pindah ke dalam tubuh pemuda itu!
Pada saat Keng Hong merasa betapa ada hawa panas mengalir dari tangan tosu itu dan menerobos memasuki tubuhnya melalui tangannya tanpa dapat dicegah lagi, dia pun tahu apa yang sedang terjadi dan dia menjadi terkejut sekali. Mula-mula dia mengira bahwa seperti apa yang sudah dilakukan mendiang suhu-nya, tosu penolongnya ini pun hendak mengoperkan sinkang kepadanya, akan tetapi saat melihat wajah tosu itu menjadi pucat, sikapnya yang gugup dan betapa tosu itu dengan sia-sia hendak melepaskan pegangan, dia menjadi kaget bukan main.
Tanpa dia ketahui sendiri, dalam dirinya telah timbul semacam ‘penyakit’ yang tak mampu diobatinya sendiri, yaitu telah timbul semacam daya sedot yang amat hebat dan yang tak dikuasainya. Hal ini terjadi diluar di luar kehendaknya. Dia tidak tahu bahwa ketika Sin-jiu Kiam-ong memaksakan sinkang-nya berpindah ke tubuh muridnya, paksaan yang tidak wajar ini telah mengacau hawa sakti di tubuh Keng Hong dan telah merusak susunannya sehingga menimbulkan kekuatan daya sedot yang amat luar biasa ini.
Dalam bingungnya, Keng Hong juga membetot-betot tangannya sambil mulutnya berkata gagap, "Totiang... lepaskan..., lepaskan tanganku...!"
"Bocah jahat, lepaskan!"
Empat buah lengan yang kuat dan mengandung penuh tenaga lweekang lalu menyentuh tubuh Keng Hong. Dua orang memegang tangannya, dua orang lagi memegang kedua pundaknya. Keng Hong tidak melawan dan dia masih dalam keadaan setengah berlutut.
Namun begitu empat buah tangan itu menyentuh Keng Hong, terdengar seruan-seruan kaget, bukan hanya empat orang tosu itu yang berseru kaget, bahkan Keng Hong juga mengeluh dan berteriak.
__ADS_1
"Lepaskan...!"
Ternyata bahwa kini empat orang tosu itu tak dapat melepaskan lagi tangan mereka yang menempel tubuh Keng Hong dan seperti tempat air bocor, sinkang di tubuh mereka juga mengalir dan disedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!
"Bocah berilmu iblis!" Seorang di antara tosu itu memaki dan dia memukul dengan tangan lain ke punggung Keng Hong.
“Plakkk!” terdengar suara keras, akan tetapi upayanya sia-sia belaka.
Kini tangannya yang sebelah lagi itu pun melekat, maka makin hebatlah tenaga tosu ini tersedot sehingga dia menjadi pucat dan lemas seketika!
Keliru besar kalau mengira bahwa Keng Hong merasa senang menerima terobosan hawa sakti yang berkelimpahan memasuki tubuhnya ini. Tubuhnya menjadi makin panas, tidak karuan rasanya, seolah-olah sebuah bola karet yang terisi angin, tubuhnya terasa seperti akan meledak, dadanya penuh hawa, pusarnya penuh hawa yang menekan-nekan dan memberontak hendak keluar, kepalanya pening sekali dan mukanya menjadi merah bagai udang rebus!
Dia merasa tersiksa sekali, apa lagi karena dia maklum bahwa lima orang tosu itu bisa tewas kalau mereka tidak lekas-lekas dapat melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Namun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar dapat terlepas dari mereka! Kalau tadinya dia masih dapat berteriak-teriak minta mereka supaya melepaskan tangan sambil meronta-ronta, kini dia hanya mampu mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh" bagaikan orang gagu.
Keadaan Kiang Tojin beserta empat orang tosu itu lebih menderita lagi. Mereka merasa betapa tenaga sinkang mereka makin lama semakin menipis, tersedot secara ajaib tanpa mereka dapat mencegahnya. Tubuh mereka menjadi lemas, kepala menjadi pening dan pikiran tak dapat dipergunakan dengan baik lagi, membuat mereka menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"Siancai... siancai...!" Seruan ini keluar dari mulut Thian Seng Cinjin, seruan yang halus saja dan tahu-tahu tubuh kakek ini sudah melayang mendekat.