
THIAN SENG CINJIN yang biasanya tenang itu kini harus menarik napas panjang agar dapat menekan guncangan hatinya, sedangkan para muridnya, kecuali Kiang Tojin yang masih tenang pula seperti gurunya, semua menjadi pucat wajahnya. Tiga orang datuk golongan hitam telah hadir di situ, berarti bahwa urusan ini bukan main-main lagi!
Tidak hanya para tosu Kun-lun-pai yang menjadi gelisah, bahkan pasukan-pasukan dari utara dan selatan juga tercengang menyaksikan munculnya banyak orang-orang aneh ini, ada pun dua orang perwira yang memimpin pasukan masing-masing, tak berani bergerak. Mereka maklum bahwa sekali ini mereka sedang bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang biasanya aneh-aneh wataknya dan kejam-kejam sekali perbuatanya, maka mereka menjadi berhati-hati dan tidak ada yang berani bergerak.
"Pak-san Kwi-ong," kata Thian Seng Cinjin dengan suara sabar, "kiranya engkau ikut pula mengunjungi Kun-lun-pai! Kata-katamu tadi kurang jelas bagi pinto, harap kau ulangi lagi, apakah benar kedatanganmu ini untuk meminta pedang Siang-bhok-kiam ini?" Dia lalu mengangkat lagi pedang kayu itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Kiang Tojin melihat dengan hati geli betapa semua mata ditujukan ke arah pedang kayu itu, mengingatkan dia akan mata segerombolan anjing kelaparan yang melihat sepotong tulang!
"Ha-ha-ha, benar sekali! Kalau bukan untuk pedang itu, apa kau kira aku datang karena kangen kepadamu? Ha-ha-ha!" jawab Pak-san Kwi-ong.
"Baik sekali. Kalau begitu akan kutanya pula yang lain. Ang-bin Kwi-bo, sekarang engkau juga ikut muncul, jauh-jauh datang dari timur. Apakah kehendakmu mengunjungi pinto dan perkumpulan pinto?"
"Cih, tosu bau! Siapa sudi mengunjungimu? Aku datang hanya untuk mengambil Siang-bhok-kiam dari tanganmu!" Ang-bin Kwi-bo menjawab sambil memandang dengan mulut mengilar ke arah pedang kayu di tangan ketua Kun-lun-pai itu.
"Jika begitu kehendakmu sama dengan Pak-san Kwi-ong. Dan bagaimana dengan engkau Pat-jiu Sian-ong? Apakah engkau pun menginginkan pedang kayu yang tak berharga ini?"
__ADS_1
"Hemm, kalau tidak berharga masa diperebutkan, Totiang?" jawab kakek ini dengan suara yang halus dan ramah, akan tetapi kehalusan ini malah menimbulkan sesuatu yang amat menyeramkan. "Kalau tidak berharga, engkau pun jangan terlalu pelit, lebih baik diberikan saja kepadaku."
"Bagaimana dengan para enghiong yang hadir di sini? Apakah kedatangan Cu-wi ini pun untuk memiliki Siang-bhok-kiam?"
"Benar, serahkan kepadaku!"
"Padaku saja!"
"Padaku...!"
Ribut sekali suara mereka itu sehingga sambil tersenyum pahit Thian Seng Cinjin segera mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar mereka tidak berteriak-teriak. Keadaan mereka itu bagi kakek ketua Kun-lun-pai ini seperti anak-anak kecli yang patut dikasihani. Ia lalu berkata dengan penuh kesabaran,
Walau pun tokoh-tokoh besar yang menjadi datuk kaum sesat seperti tiga orang Bu-tek Sam-kwi (Tiga Iblis Tak Terlawan) ini pun menjadi gentar. Mereka itu maklum bahwa bila seorang di antara mereka menggunakan kekerasan lalu dikeroyok oleh semua yang hadir, biar pun mereka itu ditambah tiga kepala dan enam tangan pun takkan menang!
Apa lagi kakek ketua Kun-lun-pai bersama tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang hadir itu, adalah lawan-lawan yang takkan mudah dikalahkan. Karena itulah, tiga orang datuk ini kemudian mengangguk-ngangguk dan semua menyatakan setuju sambil berteriak-teriak,
__ADS_1
"Akur, akur!"
"Syukur kalau Cu-wi sekalian setuju. Nah, sekarang pedang Siang-bhok-kiam berada di tanganku. Bila mana di antara Cu-wi ada yang mampu mengambilnya dari tanganku, tidak menggunakan penyerangan kasar tapi hanya menggunakan tenaga untuk merampasnya, berarti pedang ini berjodoh dengannya."
Setelah berkata demikian, tubuh kakek ini melayang turun dari atas batu besar itu, diikuti lima orang muridnya yang lain karena dua orang muridnya sudah turun. Kini kakek ini berdiri di tempat yang luas, dan ketujuh orang muridnya, dikepalai oleh Kiang Tojin, siap melindungi guru mereka, berdiri di belakang guru ini membentuk setengah lingkaran.
Sikap ini saja sudah memberi tahu kepada semua yang hadir bahwa siapa yang hendak menggunakan kecurangan, atau untuk memiliki pedang itu menyerang tubuh Tian Seng Cinjin, tentu tujuh orang tokoh Kun-lun-pai ini sekaligus akan turun tangan melindungi guru mereka dan menyerang dia yang bermain curang!
"Nah, silakan!" kata pula Thian Seng Cinjin yang sudah memegang gagang pedang kayu itu erat-erat dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka ditempelkan di pusarnya sendiri, sikap yang amat baik untuk mengerahkan sinkang yang disalurkan ke tangan kanan untuk mempertahankan pedang itu.
Sebagian besar para tokoh kang-ouw yang hadir di situ sudah mengenal, atau setidaknya sudah mendengar akan kehebatan kakek yang menjadi ketua Kun-lun-pai ini, seorang di antara para lo-cianpwe yang sukar dicari tandingangannya di waktu itu, maka mereka ini menjadi jeri.
"Maafkan aku!" Tiba-tiba Han-ciangkun pemimpin pasukan utara sudah melangkah maju dan pada saat yang sama perwira tinggi besar yang memimpin pasukan selatan juga sudah maju. Akan tetapi mereka ini sama sekali bukan bermaksud mencoba kekuatan Thian Seng Cinjin, karena Han-ciangkun berkata, "Kalau berhasil merampas pedang kayu ini, apakah akan bisa mendapatkan Thai-yang Tin-keng?"
"Kalau bisa, aku pun akan mencoba!" kata perwira selatan tak mau kalah.
__ADS_1
Kiang Tojin mewakili suhu-nya menjawab, "Sudah kami katakan bahwa kami tidak tahu menahu tentang kitab itu. Siapa berhasil merebut pedang menggunakan kekuatan hanya akan memiliki pedang Siang-bhok-kiam ini dan selebihnya kami tidak akan mencampuri urusan lainya!"
"Kalau begitu, buat apa pedang kayu bagi kami?" Perwira selatan berkata kecewa sambil mundur, lantas diturut pula oleh perwira utara yang melihat bahwa tak akan ada gunanya merampas pedang kayu.