
"Harap tenang dan biarkan Twa-suheng bicara!" Lian Ci Tojin berseru keras, dan tosu ini sudah merasa girang dengan keputusan Kiang Tojin.
"Keputusan ini harus diambil oleh Kun-lun-pai mengingat bahwa kelak Siang-bhok-kiam akan selalu menimbulkan kegemparan di dunia kang-ouw, menjadi perebutan yang akan mengorbankan banyak nyawa secara sia-sia dan karena pedang yang selalu berada di Kiam-kok-san itu menjadi hak kami, maka kamilah yang harus menyimpannya dengan janji bahwa kami Kun-lun-pai tidaklah tamak terhadap pusaka orang lain dan tidak akan menggunakan pedang untuk mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!"
Ucapan terakhir ini melegakan hati para tamu akan tetapi sebaliknya mengecewakan para tosu Kun-lun-pai terutama Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin.
"Nah, pinto rasa sudah jelas bagi dunia kang-ouw umumnya bahwa Kun-lun-pai memiliki alasan-alasan kuat untuk menyimpan Siang-bhok-kiam dan kini persoalan Cia Keng Hong dengan Kun-lun-pai telah selesai. Kini kami persilakan cu-wi yang ingin menuntut pemuda ini agar mengajukan tuntutannya."
Kiang Tojin bersikap cerdik di dalam sikapnya membela Keng Hong. Dia tidak mendesak atau bertanya kepada Keng Hong untuk pelaksanaan keputusan itu karena dia khawatir kalau-kalau Keng Hong secara berterang menolak dan menimbulkan pula kemarahan di pihak para tosu Kun-lun-pai. Kelak dia akan menggunakan pengaruhnya untuk memaksa pemuda itu menyerahkan Siang-bhok-kiam secara baik-baik. Kemudian, dengan memberi kesempatan kepada para tamu untuk mengajukan tuduhan, maka para sute-nya tidak ada kesempatan untuk mendesak Keng Hong.
"Cia Keng Hong sudah memperkosa murid Hoa-san-pai yang bernama Sim Ciang Bi dan kemudian membunuhnya, disaksikan oleh adik korban yang kini hadir, Sim Lai Sek," kata Coa Kiu tokoh Hoa-san-pai. "Dosa yang keji itu harus ditebus dengan hukuman kematian bagi pemuda jahat ini!"
__ADS_1
"Cia Keng Hong sudah memperkosa dua orang murid wanita Hoa-san-pai lalu membunuh mereka, tetapi juga membunuh sute kami Kok Cin Cu serta beberapa orang anak murid Kong-thong-pai. Dosanya lebih besar lagi terhadap kami dan walau pun dia mati sepuluh kali masih belum dapat menebus dosanya!" kata Kok Sian Cu.
"Dia juga telah membunuh banyak anak murid kami dari Tiat-ciang-pang. Dia harus kami hukum mati demi menjaga nama besar kami yang diinjak-injaknya!"
Hening sejenak setelah tiga orang wakil tiga partai besar ini menjatuhkan tuduhannya dan semua mata memandang Keng Hong yang masih menundukkan muka.
"Cia Keng Hong, bagaimana engkau hendak menjawab tuduhan-tuduhan para Locianpwe ini?" Kiang Tojin bertanya, suaranya mengandung getaran sebab hatinya merasa berduka sekali.
Dia merasa khawatir sekali karena kalau yang dituduhkan itu benar-benar, alangkah berat dosa pemuda ini dan sangat tidak baik kalau dia atau Kun-lun-pai hendak melindunginya. Andai kata tokoh-tokoh kang-ouw hendak mengganggu Keng Hong karena perbuatan-perbuatan Sin-jiu Kiam-ong, tentu dia akan membela Keng Hong. Akan tetapi kalau yang dituntut adalah semua perbuatan pemuda ini sendiri, tak mungkin dia dapat mencampuri.
Cia Keng Hong menggeleng kepalanya dan menjawab dengan suara tenang akan tetapi tegas, "Semua tuduhan yang dijatuhkan kepada saya itu adalah fitnah yang tidak benar! Saya tidak memperkosa Sim Ciang Bi anak murid Hoa-san-pai itu sebab hubungan antara kami adalah atas dasar suka rela, dan saya pun tidak membunuhnya, biar pun ada saksi yang menjatuhkan fitnah palsu. Saya tidak membunuh Sim Ciang Bi! Mengenai urusan dengan Kong-thong-pai, Kok Cin Cu totiang tidak mati oleh tangan saya. Dua orang murid wanita Kong-thong-pai yang dimaksudkan tentulah Kiu Bwee Ceng dan Tang Swat Si. Seperti juga Sim Ciang Bi murid Hoa-san-pai, mereka berdua ini pun amat baik kepada saya dan hubungan di antara kami berdasarkan suka sama suka, tidak ada perkosaan sama sekali. Yang membunuh mereka dan para saudara seperguruan mereka dengan para saudara seperguruan mereka dengan racun juga bukan saya. Demikian pula urusan dengan Tiat-ciang-pang. Mereka itu mengeroyok saya yang hanya membela diri, dan sebagian di antara mereka tewas oleh senjata rahasia juga bukan oleh tangan saya!"
__ADS_1
"Wah-wah-wah, pengecut! Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab!" bentak Coa Kiu, seorang di antara Hoa-san Siang-sin-kiam marah. "Jika engkau tidak mengaku telah membunuh mereka semua, akan tetapi buktinya mereka itu mati, habis apakah hendak kau katakan bahwa mereka itu telah membunuh diri mereka sendiri?"
"Keng Hong! Hendakkah engkau menyangkal bahwa cici-ku mati dalam pelukanmu?" Sim Lai Sek membentak marah.
"Semua penduduk dusun melihat betapa anak murid kami yang wanita engkau perkosa dan kemudian semua anak murid kami itu kau beri racun!" bentak pula Kok Sian Cu.
Keng Hong melirik ke kiri dan kini dia melihat Sie Biauw Eng yang sejak tadi telah siuman dan mendengar semua persidangan yang mengadili Keng Hong itu. Dia melihat betapa Biauw Eng menundukkan muka dengan alis berkerut, wajah jelita itu kelihatan berduka sekali.
Hemmm, wajah palsu, pikirnya! Engkaulah yang mendatangkan semua mala petaka ini kepadaku, dan engkau masih berpura-pura dengan sikap alim berpura-pura seperti orang berduka!
Teringat betapa Sim Ciang Bi mengejang dengan tubuh masih hangat dalam pelukannya, terbunuh secara keji oleh Biauw Eng, dan teringat pula betapa Kiu Bwee Ceng dan Tang Swat Si yang amat mencintainya juga mati oleh racun Biauw Eng, seketika kemarahan Keng Hong melenyapkan rasa kasihnya yang aneh terhadap gadis itu dan dia menjadi benci, benci sekali! Tiba-tiba Keng Hong meloncat ke kiri dan menyambar tubuh Biauw Eng, dipegangnya lengan gadis itu dan diseretnya ke hadapan Kiang Tojin sambil berseru keras,
__ADS_1
"Inilah dia manusianya yang membunuh mereka semua! Inilah Song-bun Siu-li puteri Lam-hai Sin-ni yang berkepandaian tinggi dan berwajah jelita namun berhati iblis! Dialah yang sudah membunuh Sim Ciang Bi dengan darah dingin, juga meracuni murid-murid Tiat-ciang-pang dengan senjata rahasianya! Dia melakukan semua itu karena cemburu, karena iri hati, karena... karena hatinya yang ganas liar dan kejam!"