
PEDANG ini terbuat dari kayu yang jarang terdapat di dunia ini, karena kayu itu adalah kayu harum yang terdapat di dekat Puncak Pegunungan Himalaya di dunia barat. Dalam perantauannya Sin-jiu Kiam-ong mendapatkan pedang itu sebagai anugerah dari seorang pertapa India yang sudah mendekati saat terakhir.
Kayu dari sebatang pohon yang mungkin hanya tersisa beberapa batang saja di seluruh puncak Himalaya. Kayu yang sangat harum baunya, dan keras laksana baja. Akan tetapi di samping harum kayu ini juga merupakan obat penolak segala pengaruh racun. Barang beracun apa saja apa bila tersentuh kayu ini seakan-akan terhisap racunnya dan tidak berbahaya lagi.
"Siang-bhok-kiam ini adalah sahabatku selama puluhan tahun," ia berkata sambil menarik napas panjang dan mencium pedang itu dengan ujung hidung. "Bukan hanya merupakan pedang wasiat yang amat keramat, juga pemilik pedang ini akan dapat membuka rahasia tempat simpanan seluruh milikku, mulai dari kitab-kitab pusaka berisi pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi sampai simpanan perhiasan-perhiasan berharga dan senjata-senjata mustika. Betapa pun juga hanya dia yang berjodoh saja agaknya yang akan dapat memiliki semua itu melalui pedang ini. Akan tetapi kalian juga harus ingat baik-baik, karena kalian semua menghendaki pedang ini, maka kurasa siapa pun di antara kalian tidak akan mudah dapat membunuhku sungguh pun aku berjanji tak akan melawan dengan sebuah jari tanganku. Nah, aku sudah siap, siapa mau turun tangan merampas pedang, lakukanlah, aku tidak akan menghalangi!"
Setelah berkata demikian, Sin-jiu Kiam-ong segera menaruh pedang itu kembali ke depan kakinya di atas tanah lalu bersedekap dan memejamkan matanya. Mulutnya tersenyum ikhlas, sama ikhlasnya dengan hatinya yang telah bulat menyambut datangnya maut.
"Sie Cun Hong, aku maafkan dosamu asal kau mau memberikan pedang itu kepadaku!" terdengar teriakan Kiu-bwe Toanio Lu Sian Cu.
Teriakan itu disusul bunyi bergeletar nyaring sekali. Sinar-sinar hitam manyambar karena sembilan ujung cambuk yang memiliki kaitan-kaitan itu telah menyambar ke arah pedang kayu di depan Sin-jiu Kiam-ong.
"Trang-trang-trang...!" Bunga api berpijar dan kesembilan ‘ekor’ cambuk terpental.
"Kalian mau apa?" bentak Kiu-bwe Toanio marah dan mukanya menjadi merah. Matanya mendelik memandang ke arah delapan orang lain yang sudah serentak maju menangkis cambuknya.
__ADS_1
"Hemm, bukan kau seorang saja yang membutuhkan pedang Siang-bhok-kiam, Kiu-bwe Toanio, kami pun memerlukannya!" Ucapan ini keluar dari mulut Coa Kiu kakek tokoh Hoa-san-pai dan secepat kilat Coa Kiu dan Coa Bu, kedua Hoa-san Siang-sin-kiam telah menggerakkan pedang mereka menjadi sebuah cahaya panjang dan kuat menuju ke arah Siang-bhok-kiam dengan maksud mendahului dan merampas pedang kayu itu sebelum yang lain sempat bergerak.
"Trang-trang...!" Kembali sinar pedang yang kuat ini terpental akibat ditangkis oleh banyak senjata.
"Ho-ho-ho, Hoa-san Siang-sin-kiam, jangan tergesa-gesa! Pinceng juga butuh…!" Thian Kek Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang berkulit hitam itu mengejek.
Senyum di bibir Sin-jiu Kiam-ong melebar dan kini sembilan orang yang saling pandang itu mengerutkan kening. Baru mereka ketahui apa artinya ucapan Sin-jiu Kiam-ong tadi yang mengatakan bahwa siapa pun di antara mereka takkan mudah membunuh kakek itu biar pun si kakek tidak melawannya. Kiranya kakek itu sudah dapat menduga lebih dulu bahwa di antara sembilan orang ini tentu akan terjadi perebutan!
Sementara itu, di balik sebatang pohon besar bersembunyi Keng Hong. Bocah ini tadinya meniup suling di atas punggung kerbau dan memasuki hutan sambil melanjutkan meniup sulingnya perlahan-lahan. Setelah tiba di tengah hutan, dia terpaksa menghentikan tiupan sulingnya yang tadi dilakukan hanya untuk menentramkan hatinya yang berdebar-debar.
Dan pada saat yang sama timbullah rasa tidak suka kepada mereka. Dia sudah banyak membaca tentang watak orang-orang budiman, bijaksana dan gagah perkasa, watak para pendekar yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan. Akan tetapi sembilan orang itu hendak mengeroyok seorang kakek tua renta yang sama sekali tidak mau melakukan perlawanan. Alangkah picik dan hina!
Sembilan orang itu kini saling berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan. Tak ada seorang pun di antara mereka mengeluarkan kata-kata, tetapi pandang mata mereka sudah menyatakan perasaan mereka dengan jelas dan seluruh urat syaraf di tubuh sudah menegang, siap menggempur lawan untuk memperebutkan pedang pusaka yang sangat mereka inginkan itu.
Akhirnya Kok Cin Cu, orang termuda dari Kong-thong Ngo-lojin, menghela napas panjang dan berkata, suaranya seperti biasa halus namun penuh wibawa.
__ADS_1
"Mencapai cita-cita tinggi tidaklah mudah, mendapatkan Siang-bhok-kiam benda pusaka tentu saja amat sukar. Memang patut ditempuh dengan mempertaruhkan nyawa. Baiklah, mari kita semua membuktikan, siapa di antara kita yang paling tepat dan berjodoh untuk memiliki Siang-bhok-kiam." Setelah berkata demikian, Kok Cin Cu meraba pinggangnya dan…
"Singgg…!" terdengar suara nyaring ketika tosu tua ini melolos sabuknya yang ternyata merupakan sabuk baja yang tipis dan halus.
Kiranya sabuk ini adalah senjata istimewa tosu itu, dimainkan seperti orang memegang sebuah pecut yang tajam. Sabuk ini mengeluarkan suara berdesing dan tampak sinarnya berkelebatan menyilaukan. Sambil memutar sabuk itu di atas kepala, lengan kiri tosu lihai ini mengeluarkan bunyi berkerotokan, terisi oleh Ilmu Ang-liong Jiauw-kang yang agaknya lebih mengerikan dan lihai dari pada sabuk baja itu sendiri!
"Omitohud! Terpaksa kita melanggar pantangan membunuh, Sute!" kata Thian Ti Hwesio yang beralis putih kepada sute-nya sambil memutar tongkat yang dibawanya.
Bukan tongkat sembarangan tongkat, karena tongkat itu adalah sebatang tongkat senjata yang disebut Liong-cu-pang (Tongkat Mustika Naga), tongkat yang ujungnya besar bulat seperti bola baja, dan beratnya tidak akan kurang dari dua ratus kati!
Sute-nya, si tinggi besar berkulit hitam Thian Kek Hwesio juga telah mengeluarkan suara gerengan dan segera dia menggerakkan tangan kanan.
"Wuuuuttt...!" terdengar suara dan angin keras menyambar.
Kiranya dia telah melolos jubah yang dipakainya tadi dan kini jubah itu sudah dia pegang ujungnya. Jangan anggap ringan senjata jubah ini, karena berada di tangan hwesio tinggi besar itu, jubah ini bisa berubah menjadi senjata yang kerasnya melebihi baja, lemasnya melebihi sutera dan tajamnya menandingi pedang!
__ADS_1