Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 02 part 8


__ADS_3

Sejenak Kiang Tojin memandang pada Keng Hong dengan heran, kemudian dia menjura penuh hormat kepada Sian-jiu Kiam-ong dan berkata, "Mohon maaf kepada Sie-taihiap (pendekar besar she Sie) bila mana pinto dan saudara-saudara mengganggu. Kehadiran banyak sahabat kang-ouw di Kun-lun-san masih dapat kami biarkan mengingat bahwa mereka itu adalah tamu-tamu Taihiap, Hanya kehadiran tiga Bu-tek Sam-kwi benar-benar tak dapat kami biarkan begitu saja. Tokoh-tokoh datuk hitam macam mereka tidak berhak mengotori bumi Kun-lun! Harap Taihiap maklum dan maafkan pinto yang datang karena memenuhi perintah suhu."


Sin-jiu Kiam-ong tertawa, dan menarik napas panjang. "Thian Seng Cinjin bersikap amat sabar, sungguh patut dipuji." Kemudian dia menoleh ke arah sembilan orang tokoh yang mengganggunya dan berkata, "Apa bila kalian sembilan orang masih tidak hendak lekas pergi, aku tidak akan menganggap kalian sebagai tamu lagi dan terserah kepada pihak Kun-lun-pai akan menganggap kalian bagaimana."


Kiang Tojin memutar tubuhnya memandang sembilan orang itu, keningnya dikerutkan lalu ia berkata, suaranya penuh wibawa dan kereng. "Di antara cu-wi (tuan sekalian) terdapat tokoh-tokoh partai persilatan besar, tentu cukup tahu akan kedaulatan tuan rumah. Cu-wi datang tanpa memberi tahu Kun-lun-pai, hal ini berarti pelanggaran kedaulatan dan tidak memandang mata kepada kami. Sungguh kami tidak dapat dikatakan keterlaluan kalau terpaksa mengusir cu-wi."


Sikap Kiang Tojin amat kereng dan sembilan orang itu sudah cukup mengenal siapa tosu ini, maklum bahwa selain tingkat ilmu kepandaiannya sangat tinggi, juga saudara-saudara Kiang Tojin yang berjumlah tiga puluh orang dan telah mengurung tempat itu merupakan kekuatan yang tak mungkin sanggup dilawan oleh mereka yang sudah terluka. Belum lagi diperhitungkan kalau Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai sendiri yang datang!


Maka setelah menjura dan menggumamkan kata-kata maaf, mereka segera membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu. Karena mereka merupakan orang-orang pandai, maka gerakan-gerakan mereka amat cepat sehingga dalam sekejap mata saja tempat itu menjadi sunyi dan bayangan mereka tak tampak lagi.

__ADS_1


Kiang Tojin sudah menyimpan kembali pedangnya, ditiru oleh saudara-saudaranya yang tetap berdiri menjauh karena mereka itu semuanya merupakan tokoh-tokoh yang sangat menghormati si raja pedang yang pernah melepas budi kepada Kun-lun-pai. Hal itu terjadi belasan tahun yang lalu ketika Kun-lun-pai diserbu oleh kaum sesat yang dipimpin oleh seorang datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, sehingga Kun-lun-pai mengalami bencana hebat dan terancam kedudukannya.


Semua tokoh Kun-lun-pai, termasuk Thian Seng Cinjin, telah terdesak dan hanya setelah Sin-jiu Kiam-ong yang secara kebetulan mendengar akan serbuan ini kemudian datang membantu, maka pihak musuh dapat dihalau dan si datuk sesat tewas di tangan Sin-jiu Kiam-ong dan Thian Seng Cinjin. Sin-jiu Kiam-ong lalu dianggap sebagai penolong dan diperbolehkan menggunakan Kiam-kok-san, tempat yang tadinya dianggap keramat oleh golongan Kun-lun-pai karena dahulu menjadi tempat bertapa sucouw mereka.


"Kiang-toyu, harap sampaikan kepada Thian Seng Cinjin guru kalian, bahwa aku meminta perkenannya untuk memperpanjang penggunaan Kiam-kok-san sampai beberapa tahun lagi, atau lebih jelasnya sampai matiku karena aku ingin menggunakan sisa usiaku untuk menggembleng muridku ini." Sin-jiu Kiam-ong meraba kepala Keng Hong yang semenjak tadi sudah berlutut ketika melihat Kiang Tojin dan saudara-saudaranya muncul.


Kiang Tojin dan saudara-saudaranya tercengang hingga terdengar seruan-seruan kaget dan heran.


Sin-jiu Kiam-ong mengerutkan alisnya dan pandang matanya berubah kecewa. Selama hidupnya dia selalu membawa kehendak sendiri dan tidak mempedulikan peraturan orang lain, akan tetapi terhadap Kun-lun-pai dia merasa sungkan dan dia tahu benar bahwa jika memang anak ini adalah seorang murid Kun-lun-pai, amat tidak baik kalau dia memaksa dan mengambilnya sebagai murid, betapa pun sukanya dia terhadap anak ini. Dia lalu menunduk dan bertanya kepada Keng Hong.

__ADS_1


"Hong-ji (anak Hong), benarkah engkau seorang anak murid Kun-lun-pai?"


Keng Hong tadinya terheran, bingung dan juga diam-diam merasa tegang ketika secara tiba-tiba dia diangkat murid Sin-jiu Kiam-ong, dijadikan ahli waris kakek yang luar biasa itu. Namun, perasaan yang aneh sekali membuat hatinya menjadi besar dan bahagia dan timbul tekad di hatinya bahwa dia harus menjadi murid kakek ini, harus menjadi seorang pandai agar bisa menghadapi manusia-manusia jahat, terutama sekali manusia-manusia munafik yang banyak terdapat di jagat ini. Sekarang mendengar percakapan antara tosu penolongnya dan Sin-jiu Kiam-ong, dia pun cepat berkata,


"Bukan, aku bukan murid Kun-lun-pai! Memang sekarang aku bekerja menjadi kacung di Kun-lun-pai, akan tetapi aku sama sekali bukan anak muridnya dan sama sekali belum pernah mempelajari ilmu silat di Kun-lun-pai!"


"Kiang Tojin! apa artinya keterangan yang bertentangan ini?" Sin-jiu Kiam-ong menoleh kepada tosu itu dengan pandang mata penuh teguran.


"Maaf, harap Taihiap suka mendengarkan penjelasan pinto. Tadi pinto sama sekali tidak mengatakan bahwa Keng Hong adalah anak murid Kun-lun-pai, tetapi hanya mengatakan bahwa dia adalah orang Kun-lun-pai. Hendaknya Taihiap ketahui bahwa anak ini berasal dari sebuah dusun yang dilanda bencana perampokan, seluruh keluarganya musnah dan secara kebetulan pinto dapat menyelamatkan dia kemudianmembawanya ke Kun-lun-pai. Semula kami hendak menjadikannya murid Kun-lun-pai, akan tetapi kami terbentur oleh peraturan baru. Belum lama ini suhu membuat peraturan baru bahwa setiap orang anak murid dari Kun-lun-pai harus seorang penganut agama To. Karena Keng Hong tidak mau menjadi calon tosu, maka hingga kini dia berada di Kun-lun-pai dan selama dua tahun ini bekerja sebagai pembantu. Namun, kami telah menganggapnya sebagai orang sendiri."

__ADS_1


"Hemm, begitukah? Kalau begitu, dia bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya kacung, tiada halangan bagiku untuk mengambilnya sebagai murid. Ehhh, Kiang-toyu, apakah engkau berkeberatan kalau dia kuambil murid?"


"Mana pinto berani, Taihiap? Hanya saja, hal ini tergantung kepada si bocah ini sendiri. Keng Hong, pinto sudah menyelamatkanmu dari pada bencana. Apakah sekarang kau begitu tak ingat budi dan hendak meninggalkan pinto? Apakah benar-benar engkau suka menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong?"


__ADS_2