
"Mendiang guruku tidak pernah merasa menjadi musuh orang tuamu, apa lagi musuhmu, Nona. Dan aku pun tidak pernah merasa menjadi musuh keluarga Tan-piauwsu, karena itu bagiku tidak ada perhitungan apa-apa yang harus dibereskan. Dan aku merasa yakin bahwa seorang gadis perkasa seperti Nona tidak akan membunuh orang yang tidak mau melawannya, apa lagi kalau orang itu selama hidupnya tidak pernah ada urusan dengan Nona mau pun orang tua Nona. Akan tetapi apa bila dugaanku keliru dan ternyata Nona adalah seorang wanita yang berhati keji dan haus darah, boleh saja Nona tusuk dada ini sampai tembus, aku pun tidak akan melawanmu!"
Pedang di tangan gadis itu nampak menggigil, akan tetapi tidak turun dari depan hidung Keng Hong. "Aku mendengar penuturan dari orang tuaku bahwa Sin-jiu Kim-ong adalah seorang laki-laki yang bermulut tajam, pandai membujuk dan menipu. Siapa tahu kalau muridnya pun mewarisi kepandaian itu!"
Keng Hong bukanlah seorang bodoh yang membiarkan dirinya terancam maut begitu saja sehingga dia mengeluarkan ucapan tadi. Melihat sikap gadis itu dan mendengar ucapan-ucapannya, dia merasa yakin bahwa gadis ini tidak mungkin mau membunuhnya begitu saja kalau dia tidak mau melawan. Kini dia tertawa dan menjawab,
"Nona, biar pun kau buka dada ini, engkau takkan mendapatkan niat buruk dalam hatiku terhadapmu. Aku tidak membujuk, hanya bicara sesungguhnya bahwa aku tidak pernah memusuhimu dan tidak suka bermusuhan denganu karena memang tidak ada sebab yang mengharuskan kita saling bermusuhan. Apa lagi setelah sekarang suhu tidak ada, juga kedua orang tuamu tidak ada, mengapa kita harus melanjutkan sikap bermusuhan orang tuamu? Percayalah bahwa kelak apa bila aku berhasil menemukan simpanan suhu, tentu benda-benda itu akan kukembalikan kepadamu. Bukan hanya benda-benda dari orang tuamu, bahkan benda milik semua orang yang pernah diambil suhu akan kukembalikan. Dengan jalan itu aku hendak menebus semua perbuatan suhu yang sudah menimbulkan sikap bermusuhan dari orang-orang gagah terhadap suhu."
Ujung pedang yang menodong itu menurun, perlahan-lahan. Kemudian tubuh gadis yang menegang itu menjadi agak lemas ketika dia berkata perlahan, seperti mengeluh.
"Ahh, mengapa engkau tidak mau bangkit melawan saja? Supaya terpenuhi kebaktianku kepada kedua orang tuaku. Kenapa engkau tidak menjadi murid berbakti dari gurumu dan mempertahankan nama gurumu dengan menghadapi musuhnya?"
Keng Hong menggelengkan kepalanya. "Engkau keliru dalam mengartikan sikap berbakti, Nona. Melanjutkan perbuatan orang tua baru dapat dikatkan berbakti kalau perbuatan itu sendiri benar. Akan tetapi bila perbuatan itu tidak benar, maka kewajiban seorang berbakti adalah membetulkan perbuatan itu, tidak melanjutkannya. Mengerti engkau, Nona?"
Gadis itu menunduk, perlahan-lahan menyimpan kembali pedangnya. "Biar pun aku tidak suka mengakui, namun aku percaya kepadamu."
Tiba-tiba Keng Hong mengangkat muka memandang ke kanan dan terdengarlah suara. "Siancai..! Bocah keparat ini sama sekali tidak boleh dipercaya!"
__ADS_1
Tan Hun Bwee cepat memutar tubuh memandang ke arah suara itu dan tahu-tahu di situ muncul dua tosu yang usianya sekitar lima puluh tahun. Mereka ini bukan lain adalah Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, dua orang tokoh Kun-lun-pai yang ditugaskan untuk mencari dan menangkap Keng Hong yang telah menipu Kun-lun-pai dengan menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam palsu.
Melihat kedua orang tosu ini, Keng Hong terkejut sekali dan cepat dia maju, menjatuhkan diri berlutut.
"Kiranya Ji-wi Totiang yang datang, harap menerima penghormatan teecu," kata Keng Hong penuh hormat.
Sejak kecil Keng Hong hidup di Kun-lun-pai dan tidak pernah dia kehilangan rasa terima kasihnya kepada Kun-lun-pai, terutama kepada Kiang Tojin yang telah menolong jiwanya dan telah memeliharanya. Dua orang tosu ini adalah adik seperguruan Kiang Tojin, tentu saja dia bersikap amat hormat.
"Cia Keng Hong! Tahukah engkau akan dosamu terhadap Kun-lun-pai?" bentak Sian Ti Tojin sambil menggerakkan ujung lengannya yang panjang dan sikapnya kereng.
"Tidak usah memutar lidah!" bentak Lian Ci Tojin yang seperti suheng-nya, sangat marah kalau mengingat betapa Kun-lun-pai sampai bentrok antara saudara sendiri, dan betapa Kun-lun-pai didatangi oleh banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang menganggu. Apa lagi bila teringat akan penipuan pedang palsu.
"Engkau telah menipu kami dan menipu guru kami dengan menyerahkan Siang-bhok-kiam palsu. Apakah kau hendak menyangkal dosa besar ini?"
Keng Hong menundukkan mukanya dalam keadaan masih berlutut. "Teecu tidak pernah menyangkal, karena memang hal itu benar telah teecu lakukan. Kini teecu bersedia untuk menghadap Kiang Tojin serta para locianpwe di Kun-lun-pai untuk mohon pengampunan atas perbuatan teecu yang tidak patut itu."
"Enak saja kau bicara tentang minta ampun setelah kekacauan yang dulu kau ciptakan di Kun-lun-pai!" bentak Sian Ti Tojin sambil melangkah maju dan tangan kirinya menampar.
__ADS_1
"Plakk!"
Pipi kanan Keng Hong ditamparnya keras sekali sehingga tubuh pemuda itu terguncang miring dan hampir roboh.
"Kalau kami tidak menerima perintah untuk menangkapmu hidup-hidup dan menyeretmu ke depan kaki suhu, tentu sekarang juga pinto membunuhmu, bocah keparat!" ucapan ini keluar dari mulut Lian Ci Tojin yang juga menggerakkan tangan ke depan, menampar pipi kiri Keng Hong.
"Plakkk!"
Tamparan ini lebih keras lagi, sesuai dengan watak Lian Ci Tojin yang berangasan. Apa lagi karena tosu ini amat benci kepada Kiang Tojin sehingga kemarahannya dia timpakan kepada anak yang dipungut dan ditolong oleh Kiang Tojin itu. Kembali tubuh Keng Hong terguncang dan dari kedua ujung bibirnya menitik darah.
"Pendeta-pendeta berhati kejam!" Tiba-tiba saja Tan Hun Bwee memaki sambil meloncat ke depan. "Kalian sungguh tidak tahu malu, memukul orang yang sama sekali tidak mau melawan."
Lian Ci Tojin dan suheng-nya mengangkat muka memandang gadis itu. Lian Ci Tojin tersenyum dan mengejek. "Cia Keng Hong, apakah engkau sudah mewarisi watak mata keranjang suhu-mu dan gadis ini menjadi seorang di antara pacarmu?"
"Lian Ci totiang harap jangan bicara sembarangan. Nona ini adalah seorang gadis yang terhormat, dia adalah puteri Tan-piauwsu dan sama sekali bukan pacar teecu."
"Tosu bau, mulutmu busuk!" Tan Hun Hwee sudah tidak dapat menahan kemarahannya dan pedangnya sudah dia cabut kemudian secepatnya kilat dia menyerang Lian Ci Tojin.
__ADS_1