Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 1


__ADS_3

Cui Im tidak bicara lagi, hanya terdengar dia ketawa dan mencambuk empat ekor kuda itu sehingga jalannya kereta makin kencang. Kembali Keng Hong tergoncang-goncang, akan tetapi dia segera dapat mengerahkan sinkang-nya dan kini dia duduk diam tidak bergerak seperti nona di depannya.


Mulailah nona itu memandangnya, dan sungguh pun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, akan tetapi pandang matanya penuh pengertian bahwa pemuda di depannya ini memiliki sinkang yang hebat.


"Nona, jangan perhatikan omongan Cui... ehhh, dia itu. Aku sama sekali tidak membujuk rayu, Nona, melainkan hendak bertanya kenapa setelah Nona menyelamatkan nyawaku, kini malah menawanku."


"Ibuku yang menyuruhku, aku hanya pelaksana saja," jawabnya sederhana. "Dan jangan mengira aku sudi menolongmu. Apa bila tidak ingin memenuhi perintah ibu, biar suci mau membunuh seribu orang macam engkau, aku tidak akan peduli."


Wahhh, pahit benar ucapan ini, pikir Keng Hong. Akan tetapi tak mungkin dia bisa marah menghadapi seorang gadis seperti ini. "Ibumu? Siapakah dia, Nona?"


"Lam-hai Sin-ni!"


"Ohhhh...!" Tadinya Keng Hong mengira bahwa sebagai sumoi dari Cui Im tentu nona ini merupakan murid ke dua Lam-hai Sin-ni. Kiranya bukan hanya muridnya, malah puterinya! Pantas saja, biar pun disebut sumoi oleh Cui Im, akan tetapi nona ini memiliki tingkat ilmu kepandaian yang lebih tinggi dan juga disegani oleh suci-nya itu.


"Kau sudah mengenal nama ibuku?"


"Sudah, Nona, Ibumu adalah datuk pertama dari Bu-tek Su-kwi, bukan?"


"Hemm, kau hanya mendengar saja dari suci tentu."


"Aku sudah pernah bertemu dengan tiga orang dari Bu-tek Su-kwi yang semuanya kalah oleh suhu."

__ADS_1


"Hemm..., sombong! Kalau bertemu ibu, suhu-mu akan mampus sampai seratus kali."


"Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"


Alis yang indah itu terangkat, mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi dan mulut yang segar itu membentak, "Kau...! Selain hidung belang, juga ceriwis sekali!"


"Hi-hi-hik, Sumoi. Tidak benarkah kata-kataku bahwa dia pandai merayu?"


"Suci, berhenti dulu!"


Kereta berhenti secara tiba-tiba dan hal ini saja membuktikan betapa pandainya Cui Im menguasai empat ekor kuda yg menarik kereta, dan betapa kuat kedua lengan yang kecil itu. Alis nona baju putih itu masih berdiri ketika dia melolos sabuknya yang putih panjang, lalu tanpa banyak cakap dia mengikat kedua kaki Keng Hong dengan ujung sabuk dan setelah itu dia melempar tubuh pemuda itu ke belakang kereta!


"Jalan terus, Suci!"


"Diam, suci!" bentak gadis itu sambil merenggut, dan kereta dijalankan cepat oleh Cui Im yang terkekeh-kekeh.


Kini tubuh Keng Hong yang rebah terlentang di belakang kereta, diseret di atas tanah berbatu! Kedua tangannya dibelenggu, kedua kakinya diikat ujung sabuk, ada pun ujung sabuk lainnya oleh gadis itu diikatkan pada tiang kereta. Sabuk itu cukup panjang hingga tubuh Keng Hong terpisah empat meter dari kereta.


Pemuda ini cepat-cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi tubuh belakangnya yang terseret. Apa bila tidak kuat sinkang-nya, tentu kulit tubuh belakangnya akan habis babak bundas. Biar pun kini hawa sakti di tubuhnya melindungi kulitnya, akan tetapi tidak dapat melindungi pakaiannya sehingga sebentar saja habislah pakaiannya di bagian belakang, compang-camping tidak karuan.


...

__ADS_1


...


Diam-diam Keng Hong mengutuk, "Wah, gadis setan! Dua orang gadis itu benar-benar seperti iblis-iblis betina, sungguh pun kekejian mereka itu agak berbeda. Cui Im cabul dan pengejar kepuasan hawa nafsu, sebaliknya sumoi-nya ini alim dan pendiam, akan tetapi keduanya mempunyai kekejaman yang sama. Bahkan boleh jadi gadis baju putih ini lebih kejam lagi."


Keng Hong yang rebah terlentang dan terseret di belakang kereta sekarang dapat melihat keadaan di kanan kiri kereta sampai jauh di depan. Mereka sedang melalui jalan sunyi di pegunungan, jauh dari dusun-dusun. Diam-diam dia berpikir dan ingin sekali mengetahui apakah dua orang gadis iblis itu akan tetap menyeretnya seperti ini kalau melalui dusun dan kota? Apakah mereka akan membiarkan dia terseret dan menjadi tontonan? Tentu penguasa setempat akan turun tangan kalau melihat peristiwa ini, akan tetapi penguasa manakah yang sanggup melarang dua orang gadis iblis itu?


Tiba-tiba Keng Hong melihat di depan sebelah kiri muncul dua orang penunggang kuda, yakni dua orang laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun yang menghadang kereta dengan senjata golok di tangan, memberi isyarat dengan tangan agar kereta dihentikan. Cui Im menghentikan kereta itu dan memandang dengan alis berkerut marah.


"Kalian ini mau apakah? Apakah perampok-perampok buta?"


"Hemm, Ang-kiam Tok-sian-li! Masih berpura-pura tidak mengenal kami Thian-te Siang-to (Sepasang Golok Bumi Langit)? Kami memenuhi perintah suhu untuk minta tawananmu, murid Sin-jiu Kiam-ong. Memandang muka suhu kami, harap kau suka mengalah kepada kami!" Jawaban ini keluar dari mulut kakek yang sebelah kiri.


Setelah kini berhadapan, barulah Cui Im melihat jelas betapa muka kedua orang kakek itu serupa benar. Teringatlah dia akan murid kembar dari Pat-jiu Sian-ong, maka dia tertawa mengejek.


"Hi-hi-hik, jangan hanya kalian Thian-te Siang-to yang maju meminta tawanan, walau pun gurumu sendiri yang datang takkan kuberikan. Kalian mau apa?"


"Hah, Ang-kiam Tok-sian-li! Kami masih memandang muka gurumu maka masih bicara dengan baik-baik, akan tetapi engkau sombong. Turunlah dan mari kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita. Yang unggul berhak membawa pergi murid Sian-jiu Kiam-ong!"


"Bagus, kalian sudah bosan hidup!"


Cui Im meloncat turun dari kereta sambil mencabut pedang merahnya. Akan tetapi begitu meloncat dan menerjang, Cui Im mengeluh karena dia baru teringat akan keadaannya, akan tenaga sinkang yang sebagian besar telah lenyap semenjak malam tadi dia bermain cinta dengan Keng Hong. Apa lagi sekarang yang dihadapinya adalah dua orang murid Pat-jiu Sian-ong yang merupakan seorang di antara empat datuk Bu-tek Su-kwi!

__ADS_1


Kalau dalam keadaan normal sekali pun, tak mungkin ia dapat menangkan pengeroyokan dua orang ini dan mungkin hanya akan sanggup mengalahkan seorang di antara mereka. Akan tetapi sekarang, dengan sinkang-nya habis setengahnya lebih, melawan seorang di antara mereka sekali pun dia tak akan menang.


Keng Hong yang sekarang sudah bangkit duduk karena kereta itu tidak menyeretnya lagi.


__ADS_2