
Kekecewaan dan pukulan batin yang amat hebat agaknya telah membuat jalan pikiran Sie Cun Hong menjadi tidak normal, tidak lumrah seperti manusia biasanya, bahkan menjadi berlawanan dengan pendapat umum! Pada saat itu timbul pendapat dalam hatinya bahwa dia tidak perlu marah karena kalau isterinya sampai mau melakukan hubungan kelamin dengan pria lain, tentu ini didasari hati suka kepada si pria itu. Kenapa dia akan melarang orang yang mencinta? Kedua orang itu, biar pun isterinya dan sahabatnya namun tetap orang, saling mencinta dan menumpahkan rasa cinta mereka dalam hubungan kelamin. Mengapa dia harus marah dan membunuh mereka?
Sie Cun Hong tertawa, suara ketawanya meninggi dan melengking sehingga mengejutkan isterinya dan sahabatnya yang baru saja mengakhiri perbuatan mereka. Isterinya terkejut setengah mati, begitu pula sahabatnya, sehingga kedua orang ini dengan tubuh menggigil menjatuhkan diri berlutut di atas lantai sambil memejamkan mata, siap menanti datangnya maut sebab mereka kenal suara ketawa di luar jendela itu. Bila pendekar itu turun tangan, mereka berdua tak akan dapat tertolong lagi. Akan tetapi Sie Cun Hong tidak pernah lagi memasuki kamarnya itu, bahkan tidak pernah lagi berjumpa dengan bekas isterinya dan bekas sahabatnya itu.
Peristiwa itulah yang menjadi sebab munculnya seorang pendekar aneh yang kemudian menggegerkan dunia persilatan. Sie Cun Hong melakukan banyak hal yang bagi manusia biasa dianggap jahat dan keji, tidak lumrah dan dia dikutuk oleh banyak tokoh kang-ouw. Bermain cinta dengan wanita mana pun juga, bahkan wanita-wanita yang sudah menjadi isteri orang lain, kalau dasarnya suka sama suka, dia tidak segan melakukannya. Banyak sekali wanita yang tergila-gila kepadanya karena memang pada waktu mudanya Sie Cun Hong merupakan seorang pria yang gagah perkasa dan tampan.
Sekarang Sie Cun Hong sudah tidak ada lagi, akan tetapi dia sudah mewariskan seluruh miliknya kepada murid tunggalnya, yaitu Cia Keng Hong. Seluruh sinkang-nya dia berikan, seluruh pusakanya dia tinggalkan untuk muridnya, bahkan sebagian wataknya juga dia wariskan sehingga kini, dalam usia delapan belas tahun, Keng Hong telah melayani nafsu birahi Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im, dan sekarang, untuk kedua kalinya dia bermain cinta dengan seorang gadis Hoa-san-pai yang mengaguminya dan jatuh hati kepadanya.
__ADS_1
Apa bila gurunya tidak peduli akan hukum susila karena pernah patah hati menyaksikan isterinya berjinah dengan sahabatnya, adalah Keng Hong melakukan hal itu semata-mata karena dia menganggap hal itu benar dan wajar saja, sesuai dengan nasehat-nasehat dari mendiang gurunya! Dia tidak memperkosa, dia juga tidak memaksa, dia dan Ciang Bi sama-sama mau, cocok sudah dengan pesan suhu-nya, maka tentu saja hal itu sudah benar dan baik!
Sim Ciang Bi, gadis remaja yang dikuasai nafsu birahinya sendiri, sudah seperti mabuk dan buta bahwa dia telah melakukan pelanggaran garis hukum. Lupa bahwa garis hukum susila itu diadakan oleh manusia semata-mata agar dapat melindungi dan membela nasib hidup dan kebahagiaan wanita. Lupa bahwa hubungan kelamin di luar pernikahan, maka si wanitalah yang akan menanggung akibat-akibat pahit getir, bahkan yang akan dapat menyeretnya ke lembah kesengsaraan, mungkin ke lembah kehinaan.
Manusia tidak dapat membebaskan dirinya dari pada hukum-hukum manusia yang sudah tersusun dan bertumpuk ribuan tahun lamanya. Apa lagi, dalam hubungan kelamin, alam sendiri sudah menjatuhkan kodrat bahwa si wanitalah yang akan menanggung akibatnya, yaitu kehamilan.
Setiap gadis yang bijaksana, yang sadar betapa satu kali saja salah langkah melanggar garis hukum kesusilaan ini maka bisa mengakibatkan mala petaka sepanjang hidup, akan selalu pandai mengekang nafsu, pandai menjaga diri tidak terseret oleh gelombang yang memabukkan, tentu akan menjaga kesusilaan dan kehormatannya yang dia junjung lebih tinggi dan berharga dari pada nyawa! Kehilangan nyawa hanya berarti mati. Akan tetapi kehilangan kehormatan sebagai gadis ternoda, berarti akan hidup terhina oleh manusia-manusia lain yang sudah melekatkan batinnya pada hukum.
__ADS_1
Sejenak dia terbelalak, mukanya berubah merah, akan tetapi dia lalu menarik diri lagi dan rebah di dalam gubuk, napasnya sedikit terengah dan diam-diam dia menangis, berdoa semoga cici-nya yang telah tersesat itu akan menjadi isteri yang sah dari Cia Keng Hong. Mengingat ini lenyaplah kemarahan dan kedukaan hatinya, terganti rasa girang karena dia memang suka sekali dan amat kagum pada penolongnya yang demikian gagah perkasa. Kalau dia dapat mempunyai Cihu (kakak ipar) seperti itu, betapa senangnya dan dia akan memperdalam ilmu silatnya, belajar dari cihu-nya. Kelegaan hati inilah yang membuat Lai Sek tertidur kembali, lupa akan perutnya yang lapar.
Lewat tengah malam, Keng Hong tertidur nyenyak, sedangkan Ciang Bi pulas pula di atas dadanya. Mereka tidur berdekapan, pipi Ciang Bi terletak di atas dada Keng Hong, rambut gadis itu terurai lepas menutupi dada, leher dan sebagian muka Keng Hong. Mereka tidur dengan nikmat, karena badan lelah hati pun bahagia.
Mereka tidak sadar dan tidak tahu bahwa tak jauh dari tempat itu tampak sepasang mata yang bening dan jeli memandang ke arah mereka dengan sinar berkilat-kilat. Mulut yang manis dengan bibir merah itu bergerak-gerak, tampak giginya berderet rapi putih laksana mutiara. Kemudian, tangan yang halus itu merogoh kantong di dalam baju, mengambil sesuatu, tangan digerakkan dan sinar putih meluncur ke arah Ciang Bi yang masih tidur pulas berbantal dada Keng Hong.
Jerit melengking yang keluar dari mulut Ciang Bi adalah jerit kematian, ada pun bayangan putih itu berkelebat cepat sekali, lenyap ditelan kegelapan malam. Keng Hong tersentak bangun, secara otomatis lengannya memeluk leher Ciang Bi. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangannya menjadi basah oleh darah yang mengucur keluar dari pelipis itu!
__ADS_1
Di bawah cahaya api unggun yang masih menyala sedikit, dia memandang dan merasa kerongkongannya tercekik ketika dia melihat sebuah benda bulat berduri menancap pada pelipis gadis itu. Senjata rahasia Biauw Eng yang tadi sudah menolongnya merobohkan pengeroyokan para penjahat. Sekarang sebuah di antara senjata rahasia itu menancap di pelipis kiri Ciang Bi, merenggut nyawa dari tubuh yang masih hangat itu.
"Biauw Eng...!" Seruan Keng Hong ini seperti jerit tangis.