
Keesokan Harinya.
Siang ini, Reyhan dan istrinya tengah jalan-jalan di Kota, itu pun atas permintaan Xiu Juan, dan Reyhan dengan senang hati menemaninya. Karena Reyhan juga tidak ada pekerjaan dari Raja Wan, ia memilih menemani istrinya.
Dari selesai sarapan mereka pergi ke kota Kerajaan. Tak terasa mereka berdua jalan-jalan hingga siang, tak lupa mereka makan siang di rumah makan. Tak tanggung-tanggung Xiu Juan memakan makanan yang banyak, tapi bagi Reyhan itu tidak masalah.
Reyhan tidak sempat berfikir kalau ada perubahan dari istrinya tidak seperti biasanya. Karena, memang menurutnya sendiri, jika perut lapar tinggal makan. Perut kenyang, hati pun senang. Melihat Xiu Juan tersenyum, hatinya merasa damai. "Bahagia itu sederhana."
Setelah selesai makan, Reyhan mengajak istrinya untuk pulang. Akhirnya mereka kembali pulang ke istana, Reyhan tak ingin melihat istrinya kelelahan. Dari wajahnya juga sedikit pucat, Reyhan hanya menyimpulkan kalau istrinya kelelahan.
Baru saja masuk gerbang istana, Xiu Juan meminta Reyhan menemaninya duduk bersama di taman. Dengan senang hati Reyhan menurutinya.
Reyhan yang kini tengah bersantai di taman bersama istri tercintanya. Para pelayan datang membawa cemilan kue bulan dan meletakkannya di meja kayu di dekat pasangan suami istri itu.
Dan tak lupa dilengkapi dengan 2 cangkir teh. Mereka terus menikmati kebersamaan mereka.
Tiba-tiba ada satu pengawal berlari ke arah mereka. Lalu berlutut di hadapan Reyhan dan Xiu Juan. "Salam yang Mulia."
Reyhan mengangkat alis sebelahnya melihat pengawal itu tiba-tiba datang dan berlutut di depannya. "Ada apa ?"
"Hamba mendapat perintah dari yang Mulia Raja, untuk memanggil yang Mulia Putra Mahkota di ruang kerjanya."
Reyhan mengangguk kepalanya, dan mempersilahkan pengawal itu pergi. Reyhan menghela nafasnya, karena waktu berduanya bersama istrinya terganggu.
"Astaga, bisakah dia membiarkanku berduaan dengan istriku." ucap Reyhan kesal kepada Raja Wan.
"Maafkan aku, aku harus menemui ayah." lanjutnya sambil menyentuh tangan istrinya.
"Iya, aku tidak apa-apa, kita kan masih ada waktu lain, tidak hanya sekarang." jawab Xiu Juan tersenyum.
"Baiklah, aku pergi dulu." balas Reyhan, lalu ia mencium kening istrinya. Reyhan berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Xiu Juan.
Xiu Juan menatap suaminya yang perlahan-lahan sudah menjauh dari tempatnya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusinh dan pandangannya memudar lalu menggelap. Dan ditambah ia tak kuat menahan tubuhnya berdiri.
Para pelayan yang menyadari itu, segera memengang dan menahan tubuh Xiu Juan agar tidak terjatuh. Xiu Juan jatuh di pelukan pelayannya. Sang pelayan khawatir kondisi tuannya. Dan para pelayan lainnya datang membantu dan membawa Xiu Juan ke kediamannya.
.
.
.
.
.
.
.....
Reyhan yang baru sampai di ruang kerja Raja. Ia segera masuk, terlihat Raja Wan yang tengah sibuk dengan kumpulan kertas laporan dari berbagai macam.
__ADS_1
"Ada apa ?" tanya Reyhan to the point.
Raja Wan menoleh, ia melihat Reyhan yang sudah berdiri di depannya. Ia segera mempersilahkan Reyhan untuk segera duduk.
"Apa ayah bisa meminta pendapatmu ?" tanya Raja Wan, di dalam hatinya ia tertawa, tapi ia juga merasa kesal karena sifat Putranya yang to the point.
"Apa itu ?" sahut Reyhan bertanya.
"Ayah baru saja mendapat laporan dari salah satu warga kita, baru-baru ini ada sebuah sekelompok dimana mereka melakukan perdagangan budak di suatu desa." jawab Raja Wan.
"Dimana desa itu ?" tanya Reyhan.
"Letaknya mash di dalam wilayah Kerajaan kita. Tepatnya desa itu terletak di bagian timur Kerajaan kita." jawab Raja Wan.
Seketika Reyhan teringat sesuatu.
"Apa di desa itu memiliki sebuah kolam dan di tengahnya ada air mancur ?" tanya Reyhan.
"Benar, apa kau pernah kesana ?" jawab Raja Wan dan bertanya.
"Pernah, waktu awal-awal ayah ingin menjodohkanku, aku pergi melewati desa itu." jawab Reyhan terkekeh.
Raja Wan tersenyum. "Tapi akhirnya kalian menikah."
"Ya, karena jodoh tak ada yang tau." jawab Reyhan ikut tersenyum.
"Jadi bagaimana ? Apa kau punya solusi untuk mengatasi masalah ini. Ayah sudah mengirim pengawal untuk memeriksanya, tetapi tidak ada hal yang mencurigakan."
"Jadi apa rencanamu ? Ayah sudah mengerahkan pengawal untuk memeriksa di setiap rumah desa itu, tapi hasilnya nihil." balas Raja Wan.
"Tenang aku akan yang datang kesana, dan memeriksanya sendiri." kata Reyhan.
Raja Wan terbelalak. "Itu akan membahayakan dirimu, kita tidak tau akan ada penjahat yang membahayakan nantinya."
"Ayah tenang, aku akan mengatasinya masalah ini." balas Reyhan.
Raja Wan menghela nafasnya. "Jika kau ingin kesana kau harus membawa beberapa pengawal."
"Tidak, aku akan berangkat sendiri." sahut Reyhan tegas.
"Nak, ayah tidak bisa membiarkanmu untuk turun tangan sendiri." balas Raja Wan.
"Terimakasih ayah, benar kita memiliki pendukung itu sangatlah penting. Lebih baik semua pengawal di Kerajaan kita ditugaskan untuk memperketatkan keamanan di kota dan di istana agar semua terkendali." jawab Reyhan.
"Tapi untuk masalah perbudakan aku akan langsung turun tangan sendiri." lanjutnya.
"Tapi....."
Wsst !!
Baru awal Raja Wan menjawab, Reyhan langsung berteleport, dan pergi menghilang dari hadapannya. Raja Wan hanya mengehela nafasnya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk. Terlihat salah satu pengawal datang masuk dan berlutut di hadapan Raja Wan.
"Salam Yang Mulia."
"Ya, ada apa, kenapa kau terlihat buru-buru ?" tanya Raja Wan.
"Hamba ingin menyampaikan, bahwa Permaisuri Putra Mahkota tiba-tiba terjatuh dan kehilangan kesadaran dirinya."
Raja terkejut mendengar ucapan pengawal itu tentang keadaan menantunya. "Lalu bagaimana keadaannya ?"
"Sekarang beliau sudah dibawa para pelayannya ke Kediamannya. Dan sekarang seorang pelayan sedang memanggil tabib untuk datang."
Raja Wan berdiri, seketika ia teringat Putranya yang baru saja pergi menghilang entah kemana. Ia bingung untuk menghubungi Putra. Ia menduga kalau Putranya pasti pergi ke desa tersebut.
"Apa perlu aku mengirim pengawal ke desa itu ?" batin Raja Wan.
Raja Wan pun segera memerintahkan pengawal itu pergi ke desa yang ada di bagian timur untuk menemui Reyhan. Dan menyampaikan berita tentang kondisi Xiu Juan ke Putranya.
Pengawal itu mengangguk kepalanya, dan berpamitan, ia segera pergi ke desa tersebut.
.
.
.
.
.
.....
Raja baru saja sampai di Kediaman Putranya dan menantunya. Terlihat ada ketiga dan ketiga putrinya yang juga berada di dalam kediaman.
Terlihat juga ada seorang tabib yang kini masih tengah memeriksa keadaan Xiu Juan yang tertidur di ranjang dan masih belum sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, tabib itu menyudahi pemeriksaannya.
"Bagaimana keadaan menantuku ?" tanya Permaisuri Xia khawatir.
Tabib itu tersenyum. "Tidak perlu ada yang dikhawatirkan yang Mulia, dia hanya kelelahan saja."
"Kenapa bisa kau mengatakan itu, jika terjadi sesuatu pada menantuku, aku akan menghukummu." ucap Raja Wan marah.
"Tenang yang Mulia, maksud hamba, hamba ingin menyampaikan kabar bahagia."
Semua terdiam mendengar ucapan sang tabib. "Kabar bahagia ?" itulah isi pikiran mereka.
_______________________________________
Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.
__ADS_1
Terimakasih.