Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 146 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Begitu tegang melihat 2 laki-laki sedang bertarung. Hanya saja laki-laki asing itu hanya menangkis segala semua serangan pedang dari Putra Mahkota Delbert.


Elena sudah bisa menebak kalau kakak laki-lakinya cemburu melihat kedekatan Alice dengan Reynal. Terkadang Elena juga heran, padahal belum ada 4 hari, Alice dan Reynal saling bertemu, tapi mereka sudah begitu dekat.


Sehingga, kakak laki-lakinya bisa cemburu. Ia tau kalau Delbert menyukai Alice dari dulu. Tapi baru kali ini Delbert tak bisa menahan rasa cemburu. Lagian hubungan keduanya masih sebatas tuan dan pengawal sekaligus sahabat.


Delbert terlihat hebat dalam pertarungannya, tapi sayang, lawannya tak memberi perlawanan melainkam hanya menghindar dan menangkis.


Sedangkan Reynal, ia tak habis pikir, kenapa nasibnya tidak mengenakkan. Sudah berpindah ke dunia lain, dan sekarang tiba-tiba diserang oleh seorang Putra Mahkota tanpa alasan.


Reynal pun melompat mundur, Delbert maju dengan Sihir Apinya. Alice yang tak tahan, ia segera maju untuk menghentikan mereka berdua, begitu juga dengan Elena.


"Berhenti !!" ucap Alice dan Elena bersamaan.


Alice dan Elena menghentikan Delbert dan memegang kedua tangan laki-laki itu. Sedangkan Reynal, ia hanya bisa diam dan memasukkan kembali pedangnya ke sarungnya.


Alice menatap Delbert. "Kau kenapa tiba-tiba menyerangnya ?"


"Aku hanya ingin mengujinya saja." jawab Delbert.


Alice dan Elena melepas kedua tangannya Delbert. Alice kembali berkata. "Ingin mengujinya, seharusnya kau berbicara padanya. Dia mau menerimanya atau tidak."


"Aku lebih suka memilih caraku sendiri." jawab Delbert, ia tak mungkin mengatakan kalau dirinya cemburu.


Lalu Delbert memegang kedua pundak gadis pujaannya. "Dan juga untuk berjaga-jaga, kalau dia punya niat jahat."


"Tidak, dia tidak begitu." Alice mengelak.


"Kau yakin ? Padahal kalian baru saling mengenal." kata Delbert.


Alice tak menjawab, ia hanya bisa diam. Delbert tersenyum, lalu mengusap kepala Alice dengan lembut.


Disisi Reynal, melihat pemandangan itu, tiba-tiba dada sesak. "Ada apa denganku ?"


Delbert pergi meninggal mereka, dan para prajurit yang tadinya diam menonton, mereka pergi untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Alice hanya menghela nafasnya. Lalu berjalan meninggalkan Elena dan mendekati Reynal yang masih diam berdiri melihatnya. "Kau tidak apa-apa ?"


Reynal hanya memasang wajah dinginnya. "Aku hanya orang asing. Tidak perlu peduli padaku."

__ADS_1


Reynal pergi meninggalkan Alice dan Elena. Alice diam sambil memandang kepergian Reynal.


Elena memutar bola matanya, ia tak habis pikir, seakan dirinya kini melihat pemandangan 1 gadis terjebak antara 2 laki-laki.


"Ayo kita pergi, aku ingin pergi ke rumahmu, kak." ucap Elena, Alice hanya mengangguk kepalanya.


Alice tak tau Reynal akan pergi kemana. Tapi ia berfikir Reynal akan pergi ke rumahnya. Secara Reynal hanya mengenal dirinya.


Alice dan Elena berjalan untuk kembali masuk ke dalam istana. Mereka mau berpamitan kepada Raja Dorothy dan Permaisuri Ella.


.....


Reynal pergi meninggal istana tanpa pamitan sama sekali. Dirinya merasa kesal. Tiba-tiba diserang ? Yang benar saja, apa salahnya. Apa karena dia orang asing ?


Kalau memang seperti itu tidak perlu menyerang. Tinggal bicara dengan baik-baik. Reynal bisa bernafas lega, karena setidaknya ia masih mampu mengontrol emosinya.


Beruntung tidak seperti ayahnya. Kalau ayahnya diposisinya, pasti ayahnya tidak segan-segan membunuh lawannya. Tidak bukan membunuhnya, melainkan membuat lawannya menjadi mainan siksaannya.


Reynal kini tengah berada di dalam kota. Ia berjalan-jalan di kota untuk melihat-lihat isi kota Kerajaan Dorothy. Ia melihat manusia dan elf di kota.


Lalu Reynal teringat sesuatu. Ya, ia bingung ia hanya memiliki koin emas asal dari dunianya. Tapi tidak salahnya ia untuk mencobanya.


Reynal mencoba mendekati pedagang makanan ringan. Ia langsung memberi 1 koin emasnya. Tak disangka pedagang itu terbelalak kaget tak main. Ternyata koin emasnya berlaku.


Reynal tersenyum. "Sekarang aku tanya. Apa koinku berlaku ?"


"Berlaku tuan. Tapi sangat mahal. Sedangkan makanan yang tuan beli tidak punya seharga makanan tuan."


"Maka ambillah, ini untukmu." jawab Reynal lalu pergi berlalu. Pedagang makana hanya menganga tak percaya.


Reynal segera pergi mencari penginapan sambil tersenyum puas, ternyata koin bawaan asal dunianya ternyata berlaku.


Tapi ia tiba-tiba teringat saat kejadian di istana, dan melihat Alice dan Delbert. Rasanya tak mengenakkan jika diingat. Reynal menepis pikirannya. Ia harus segera mencari penginapan.


.....


Disisi Lain.


Alice baru kembali pulang ke rumahnya. Ia tak sendiri, ia bersama Elena. Elena ingin datang ke rumahnya karena rumah Alice sangat nyaman. Elena sudah bosan suasana istana.


"Apa kau ingin makan sesuatu ?" tanya Alice.

__ADS_1


"Ya kak, ini sudah siang, kita pun belum makan." jawab Elena.


Alice pergi ke dapur. Dan Elena, ia duduk di kursi meka makan. Ia sudah biasa datang ke rumah Alice, jadi ia tak sungkan.


Lagian Alice, tak keberatan kalau Elena sering datang ke rumahnya. Elena sesekali menginap, itu pun kalau diizinkan oleh ayahnya.


"Baiklah, tunggu ya, aku akan memasak masakan menu baru di rumahku." balas Alice.


"Menu baru ? Kakak membuat makanan baru ?" sahut Elena bertanya.


"Ya, sebenarnya bukan menu baru buatanku, hanya saja, Reynal yang mengajariku." jawab Alice nyengir kuda.


Elena terbelalak. "Dia, bisa memasak ?"


"Ya, dia bisa memasak, awalnya aku tak menyaka. Tapi dan benar saja masakannya lezat. Dia pun mengajariku. Dalam semalam aku berhasil." jawab Alice.


"Ya, ya aku paham sekali, kakak dasarnya pandai memasak, dan tentu saja aku tak heran kakak bisa kerena memasak adalah hobimu, kak." balas Elena.


Alice segera menyiapkan alat-alat dapurnya. Lalu ia menyiapkan bahan-bahan makanan. Dan setelah itu, ia menyalakan api untuk membakar kayu.


Dan mulailah, ia memasak. Tak beberapa lama kemudiam masakannya jadi. Ya, dia memasak nasi goreng.


Alice menuangkan masakannya ke 2 piring, untuknya dan untuk Elena. Mereka segera memakan makanan mereka.


Dan benar saja, Elena begitu lahap memakan masakan Alice. "Ini lezat." ucapnya disela-sela mengunyah.


"Ya, tapi tidak selezat masakan Reynal." balas Alice sambil menyuap masakannya.


.....


Setelah beberapa lama, Alice dan Elena akhirnya menyelesaikan makan mereka. Setelah membersihkan sisa makanan, mereka pergi ke belakang rumah.


Seperti biasa, pasti mereka ingin menyapa kuda terbang milik Alice. Elena tersenyum saat ia memberi makan kepada kuda itu. Sedangkan Alice ia terdiam.


"Kau kenapa diam ?" tanya Elena, setelah memberi makan pada kuda terbang itu.


"Aku hanya terpikiran pada Reynal." jawab Alice.


Elena memutar bola matanya. "Kalian baru saling kenal, tapi kenapa kau dan dia bisa saling dekat. Atau jangan-jangan kalian sudah...."


"Tidak !! Kau jangan berfikir yang tidak-tidak." ucap Alice memotong Elena.

__ADS_1


Elena hanya menghela nafasnya. Ia tak mengerti kenapa semenjak bertemu dengan Reynal, dalam waktu singkat, sikap Alice tidak seperti biasanya.


__ADS_2