
_______________________________________
Setelah melihat kepergian Putra Bungsunya, Reyhan memilih untuk duduk di teras. Ia duduk santai sambil menunggu 2 gadis yang akan pulang. Beberapa lama kemudian yang ditunggu akhirnya datang.
Reynalda dan Elena pulang setelah membeli bahan untuk makanan. Elena terkejut melihat ayah muda itu tengah duduk santai di depan teras.
Reynalda hanya biasa saja, karena ia sudah terbiasa perilaku ayahnya yang terkadang tidak mencerminkan seorang Raja.
"Tuan, kenapa kau duduk disini ?" tanya Elena sopan.
"Aku sedang menunggu kalian pulang." jawab Reyhan santai.
"Tapi lebih baik tuan menunggu di dalam." kata Elena.
Reynalda pun bersuara. "Ayah, kalau sampai bunda tau, pasti ayah akan kena marah."
"Hahaha.." Reyhan tertawa.
"Selagi tidak ada bundamu, ayah ingin bersantai. Melepaskan tekanan pikiran dari pekerjaan." lanjutnya.
"Terserah ayah saja." sahut Reynalda sambil masuk ke dalam rumah sederhananya.
Elena pun ikut masuk mengekori Reynalda. Tapi pikirannya masih tak menyangka sosok Reyhan yang merupakan Raja, tapi perilakunya kadang susah di tebak.
"Apa semua Raja dari dunia lain seperti ini ?" batin Elena.
Setelah Reynalda dan Elena masuk, Reyhan pun berdiri, ia juga akan masuk ke dalam rumah sederhananya. Baru saja selangkah, ia terhenti. Tiba-tiba ia merasakan tekanan yang kuat.
Reyhan menoleh ke arah luar rumah. Meski jauh, tapi ia bisa meraskan tekanan itu. Ingin sekali pergi ke sumber asal tekanan barusan, tapi Reyhan percaya, Putra Bungsunya pasti bisa mengatasinya.
.....
Disisi Lain.
Reyhan yang sedang terbang pergi ke arah utara, ia juga merasakan tekanan yang tiba-tiba datang, dan sumbernya jauh, ia yakin sekali.
Tekanan itu dari arah utara. Reyhan segera mempercepatkan terbangnya. Dengan paksaan, ia takkan menahannya lagi, ia akan melepaskannya.
Api biru yang membantu mendorongnya untuk terbang, menghilang. Tubuhnya di selimuti Api merah darah, dan gerakan terbangnya semakin cepat.
Reynal pun segera mempercepatkan terbangnya lagi. Ia tak ingin datang terlambat jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
.....
Disisi Lainnya Lagi.
__ADS_1
Telihat seorang gadis muda, dan pria dewasa yang tengah bertarung di salah satu tempat runtuhan bangunan yang sudah lama. Mereka berdua terlihat tidak saling mengalah dalam bertarung.
Alice tengah terbang di udara, dan Jian Heeng berdiri di permukaan tanah.
Alice mengeluarkan Bola sihir berwarna merah. Awalnya bola itu kecil, namun beberapa detik kemudian menjadi besar.
Jian Heeng sampai terbelalak melihatnya. Bola sihir milik lawannya memiliki tekanan yang kuat. Alice pun mengarahkannya ke Jian Heeng.
Bola Sihirnya pun bergerak. Jian Heeng yang menjadi targetnya pun harus mundur agar tidak terkena bola Sihir itu. Jian Heeng berhasil menghindari, namun tak terduga.
Bola Sihir itu mengikutinya dan mengenainya.
DUAR !!
Jian Heeng terpental jauh. Tubuhnya terdorong dan berputar-putar di udara.
BUGH !!
Tubuhnya menghantam sebuah batu besar yang ada di dalam hutan. Jian Heeng merasakan sakit itu. Jian Heeng pun menggunakan regenerasinya untuk menyembuhkan lukannya.
Saat regenerasinya sedang menyembuhkannya, tiba-tiba Alice sudah bergerak cepat dan ada dihadapannya. Leher Jian Heeng pun dicekik, dan tubuhnya terangkat.
Jian Heeng tergeletak di tanah, saat ia mencoba lagi menggunakan regenerasinya, Alice sudah datang dan mencekiknya lagi. Lagi-lagi tubuh Jian Heeng terangkat.
"Kematianmu akan membawanya pulang kembali ke dunia asalnya." ucap Alice datar.
Jian Heeng masih tak mengerti apa yang ucapkan oleh Alice. Alice semakin erat mencekik leher Jian Heeng, dan tentu saja itu sangat sakit.
Jian Heeng merasakan sesuatu yang perlahan menyusut. Ternyata kekuatan dan Sihirnya diserap oleh Alice. Jiang Heeng panik, pasalnya Sihir Gelapnya jika direbut semua maka ia akan mati.
Jiwanya akan dimakan sosok iblis yang menetap di tubuhnya. Bisa-bisa tubuhnya akan dikendalikan olehnya. Karena tak ingin hal itu, Jian Heeng berusaha melawan.
Ia mengumpulkan energi di tangannya. Lalu jadilah sebuah Api biru di kepalan tangannya. Lalu ia layangkan pukulannya ke arah wajah Alice.
BUGH !!
Jian Heeng pun terlepas dari cekikan Alice. Ia pun jatuh ke permukaan tanah. Dan Alice terdorong, dan ia jatuh juga ke permukaan tanah.
"Sial, dia terlalu kuat." batin Jian Heeng.
"Andai saja dulu Sihirku tidak diserap oleh saudaraku, aku pasti tidak akan bernasib seperti ini." lanjutnya, Jian Heeng pun bangun berdiri.
Wuusssss !!
__ADS_1
Jian Heeng terbelalak.
Padahal ia sudah yakin kalau gadis yang ia lawan sudah terdorong jauh setelah ia memukulnya.
Namun kini gadis itu sudah ada di hadapannya. Alice pun juga melayangkan pukulannya tepat di perut lawannya. Tubuh Jian Heeng pun terdorong kuat ke belakang.
Jian Heeng terbatuk, lalu keluarlah darah dari mulutnya. Disisi Alice, ia berjalan mendekati Jian Heeng. Saat sudah dihadapannya, Alice mengangkat pedangnya ke udara.
"Dengan begini, selesai sudah." ucap Alice datar, lalu ia layangkan pedangnya ke arah kepala Jian Heeng.
Tiang !!
Pedang Alice tertangkis. Alice pun melompat ke belakang. Ia pun menatap ke arah seseorang yang sudah menghentikan aksinya. Ternyata Reynal, ia datang menangkis pedangnya.
Reynal melihat Pamannya yanh sudah tak berdaya. Lalu beralih ke arah gadis yang manatapnya dengan tatapan datar. Reynal pun berlutut, dan tangannya menyentuh kulit pamannya.
Wsst !!
Reynal mengirim pamannya kepada ayahnya dengan teleportnya. Lalu ia kembali berdiri sambil menatap Alice. Entah percaya atau tidak, Alice yang ia kenal benar-benar berubah.
Masih sama seperti terakhir saat Alice pergi meninggalkannya, wajahnya datar, dan tatapannya dingin. Reynal pun perlahan berjalan mwndelatinya.
"Jangan mendekat." ucap Alice datar.
"Aku akan tetap mendekat." ucap Reynal.
"Aku sudah membereskan Pamanmu, dan kau baru saja menerimanya, dan sekarang kau kembalilah pulang ke dunia asalmu." ucap Alice datar.
"Aku akan kembali pulang, jika kau ikut denganku." jawan Reynal, ia terus mendekat.
"Aku takkan ikut denganmu." ucap Alice, ia perlahan terbang.
Melihat Alice yanh sudah akan menghindarinya, Reynal melalukan seperti sebelumnya. Tubuhnya diselimuti Api merah darah, tubuhnya pun ikut terbang.
Reynal langsung memegang lengan Alice yang sudah berbalik dan akan pergi. "Jangan menghindariku, Alice."
Alice tak menjawab, ia menoleh, lalu ia melayangkan pedangnya untuk menyerang Reynal.
Reynal memilih diam, dan memenjam matanya. Namun pada akhirnya ia tak merasakan apa-apa. Reynal pun membuka matanya.
Ia melihat Alice yang tengah menahan layangan pedangnya. Alice tak jadi menyerang Reynal. Perlahan ia menurunkan pedangnya.
Terlihat air mata yang mulai keluar dari sudut mata Alice. Reynal melihatnya. Tiba-tiba Alice menepis tangan Reynal yang terus memegang lengannya.
Alice pun pergi, ia terbang meninggalkan Reynal. Reynal yang tak ingin Alice pergi, ia pun segera tebang dan mengejarnya.
"Aku takkan melepaskanmu, Alice."
__ADS_1