Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 105


__ADS_3

Bangunan yang di buat untuk toko pakaian, kini terlihat berantakan. Toko itu memang dibangun mewah, dan banyak penduduk yang datang untuk membeli. Tapi mereka tidak tau kalau bangunan itu ternyata menyembunyikan yang tidak pernah mereka duga.


Di bawah bangunan tersebut, lebih tepatnya ruang bawah tanah. Cukup luas ruangan itu, banyak sekali meja-meja, beserta kursinya digunakan para pengunjung untuk menikmati minuman berakhohol. Bahkan ada beberapa ruangan khusus, atau sebut saja kamar, lebih parahnya kamar itu digunakan untuk melakukan hal yang menjijikan, lebih tepatnya tempat dimana para pengunjung ingin memuaskan nafsunya.


Dan para pengunjungnya adalah kalangan dari Bangsawan. Tapi firasat Reyhan sangat yakin kalau orang-orang yang memiliki gelar Bangsawan yang ada di depannya adalah bukan dari Kerajaannya.


.


.


.


.


.


.


Reyhan kini tengah berkelahi ke semua laki-laki yang ada di dalam toko pakaian, tepatnya di ruang bawah tanah.


Ternyata benar, ia melihat dimana 6 gadis yang diculik kini dijadikan budak. Lebih tepatnya budak pemuas nafsu.


Sebelumnya ia menghancurkan bangunan beserta dagangan mereka. Reyhan menghancurkan semua pakaian yang dijualkan oleh toko itu. Setelah menghancurkan dan berkelahi dengan penjaga toko, ia memaksa masuk ke arah pintu rahasia, tepatnya jalan menuju ke ruang bawah tanah.


.


.


.


.


.


.


.


20 laki-laki, ya 20 orang laki-laki yang dilihat Reyhan, semua laki-laki yang dilihatnya adalah seusianya . Mereka semua dari kalangan Bangsawan berbeda-beda.


Kini telah bersisa 5 orang yang sudah tak telihat tak berdaya di buat Reyhan. Tinggal 19 orang lagi. Semua yang tersisa segera menarik pedang mereka.


Mereka semua masih belum tau siapa pemuda yang tiba-tiba datang mengacau kesenangan mereka. Yang nyatanya pemuda yang mereka lihat adalah Putra Mahkota dari wilayah Kerajaan yang mereka tinggal.


Mereka terlalu asik dengan dunia mereka. Mereka tidak pernah datang ke berbagai macam pertemuan. Yang mereka yakini adalah bersenang senang dari hasil kerja keras orang tua mereka. Mereka masa bodo dan tak ingin berurusan dengan Kekerajaan.


.


.


.


.


.


Reyhan masih belum memunculkan pedangnya. Dengan tinju dan tendangan hebat miliknya ia telah membuat 5 orang terjatuh dan tak berdaya untuk berdiri dan melawan.


Salah satu dari mereka maju dengan mengarahkan pedangnya, padahal kondisinya setengah mabuk.


"Kau ingin mati ?"

__ADS_1


Reyhan tidak menjawab, tapi ia tersenyum dan menyeringai. Lalu ia berjalan mendekati pemuda mabuk itu.


"Wah dia ingin mati Ternyata. Hahahaha."


Ucap salah satu teman pemuda itu sambil tertawa. Dan teman-teman lainnya juga ikut tertawa.


Reyhan hanya diam, dengan tatap datar. Ia sedikit melirik kearah 6 wanita yang sedang terduduk di lantai, dengan pakaian terbuka, dengan memperlihatkan bagian perut dan telihat belahan dada. Tepatnya pakaian kekurangan bahan.


Meski begitu, terlihat jelas wajah dari ke-6 wanita itu, seakan minta kebebasan dari penderitaan. Dan terlihat juga beberapa warna memar di kulit mereka seperti bekas pukulan.


Reyhan menatap pemuda yang masih tertawa di hadapannya. "Apa kalian yang menculik mereka ?"


Pemuda itu dan teman-teman lainnya mengembalikan pedang mereka ke sarungnya.


"Ya, tepat. Mereka adalah gadis pujaan di desa ini. Kita menyewa seseorang untuk menculik mereka. Dengan ini kami bisa mendapat kepuasan nafsu kita."


"Sepertinya kau bukanlah Bangsawan dari Kerajaan ini." kata Reyhan, ia mencoba menggalih jawaban, karena setahu dirinya bagi orang mabuk, biasanya tanpa sadar akan terang-terangan.


"Ya kau benar, kami dari Kerajaan Kai, Negara Tengah. Hahahaha."


Reyhan mengangkat alis sebelahnya. "Kerajaan Kai, apa mereka atas perintah Jiazhen ?" batinnya.


"Ahhh, sial, dia terlalu mabuk, kita ketahuan. Hahahahaha."


Ucap salah satu temannya lagi, dan teman-teman lainnya malah tetawa.


"Apa ini ada kaitannya dengan anggota Kerajaan kalian ?" tanya Reyhan.


"Tidak !! Ini kami tak suka disana. Lebih baik disini, hidup damai dengan ke-6 wanita-wanita ini. Hahahahaha."


Reyhan mengangguk-angguk kepalanya. Seakan ia mengerti bahwa pihak Kerajaan Kai juga tidak tau kalau ada penduduk Bangsawannya sedang mencari masalah di Kerajaan lain.


Reyhan yang tadinya terdiam, kini perlahan-lahan ia menunjukan senyumannya dan ia menyeringai.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.....


Disisi Lain.


Seorang laki-laki sedang terlihat menaiki kudanya. Ia mengendarai kudanya dengan kecepatan maksimal. Ia harus cepat-cepat sampai tempat tujuannya.


Dia adalah pengawal utusan Raja Wan untuk memeberi kabar keadaan Xiu Juan ke Reyhan.


Hari memang sudah sore, tapi semangatnya tetap tak goyah demi tugasnya sebagai salah satu pengawal di Kerajaan Wan.

__ADS_1


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, ia telah sampai di desa yang dimana Reyhan berada. Ia masih duduk di punggung kudanya. Kepalanya tengok sana sini, untuk mencari seseorang yang ia cari.


Masih menemukan hasil, ia mengendarai kudanya dengan berjalan pelan untuk berkeliling di desa tersebut.


Hampir 1 jam berlalu.


Ia sudah berkeliling tapi masih nihil.


Ia mencoba berkeliling lebih jauh lagi, karena di desa tersebut cukup luas.


.


.


.


.


.....


Disisi Reyhan.


Kini ia tengah mengelap noda darah yang menempel di tangannya. Ia tersenyum puas melihat semua mayat yang sudah benar tak bernyawa.


Tanpa mengeluarkan sihirnya, hanya dengan kekuatan fisiknya, ia membunuh lawannya tanpa ampun. Ia memotong semua kedua tangan, kedua kaki dan kepala hingga terputus dari tubuhnya.


Ia meninggal tempat menjijikan itu begitu saja. Tapi ia juga tak lupa membawa dan menyelamatkan ke-6 wanita yang telah di jadikan korban pelampiasan nafsu dari sang para pelaku.


Reyhan menggunakan sihir cahayanya untuk mengobati luka-luka siksaan yang ada pada tubuh mereka ber-6.


Sesudah keluar dari bangunan itu. Reyhan langsung melenyapkannya dengan sihir Api merah darah miliknya. Semua terkejut dan kagum melihat kehebatan yang dimiliki oleh Reyhan.


Ditambah ke-6 wanita muda yang dinyatakan hilang, kini telah ditemukan. Perlahan Reyhan tersenyum melihat ke-6 wanita yang ia selamatkan tengah berpelukkan dengan keluarga mereka masing-masing.


Reyhan pun segera undur diri. Tapi salah satu keluarga korban datang di hadapannya.


"Terimakasih tuan, telah menyelamatkan Putriku."


Reyhan hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya.


Melihat senyuman Reyhan, ke-6 wanita itu terdiam seakan terpesona. Tak hanya mereka tapi, wanita-wanita lainnya yang juga ikut berkumpul di sana.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kuda terhenti di dekat segerombolan itu. Ia turun kudanya dan melangkah maju, lalu berlutut di hadapan Reyhan. Semua warga desa terkejut dan memasang wajah bingung.


"Salam Yang Mulia Putra Mahkota."


Seketika semua warga desa terdiam dan melihat Reyhan dengan orang itu bergantian.


"Ya, ada apa ?" tanya Reyhan, ia sudah paham bahwa orang yang ada dihadapannya kini pasti pengawal utusan Raja Wan.


"Hamba dari utusan Yang Mulia Raja Wan, ingin menyampaikan keadaan Permaisuri Xiu Juan."


Kedua mata Reyhan membulat. "Ada apa dengan istriku ?"

__ADS_1


__ADS_2