
_______________________________________
Hari telah malam. Di sebuah tempat makan, Terlihat seorang gadis cantik yang duduk di kursinya. Teh hangat yang ada di dalam tekonya yang menemani kesendiriannya. Dua cangkir di mejanya, hanya saja, cuma satu yang terisi, dan yang satunya kosong.
Alice menatap arah kota Kerajaan. Dia duduk di atap bangunan penginapannya. Ia Tengah menunggu kedatangan seorang laki-laki yang belum datang kembali.
Padahal beberapa jam yang lalu mereka saling mengutarakan perasaan, dan sekarang mereka terpisah jarak.
Wsst !!
Tiba-tiba Alice mendengar suara di telinganya. Dan terasa sentuhan tangan di pundaknya. Alice menoleh, ternyata Reynal tengah berdiri sambil tersenyum padanya. Alice berdiri, dan langsung memeluk laki-laki itu. Reynal pun membalas pelukannya.
Banyak pengunjung tersenyum yang melihat mereka berdua. Bahkan para pelayan juga tersenyum.
Alice melepas pelukannya.
"Kau baik-baik saja ?"
Reynal tersenyum. "Ya, aku baik-baik saja."
Reynal pun duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Alice. Alice pun menuangkan teh yang ada di dalam tekonya ke cangkir yang kosong. Setelah terisi, Alice memberikan cangkirnya ke Reynal.
Reynal terdiam melihat Alice yang memberikannya secangkir teh hangat. Alice pun duduk di kursinya. Alice melihat Reynal yang terdiam menatapnya.
"Kenapa kau diam ?" tanya Alice.
"Aku hanya terkejut, seharusnya kau tidak perlu melayaniku seperti barusan." jawab Reynal.
Alice mengerut dahinya heran. "Aku hanya ingin menyenangkanmu."
Reynal pun tersenyum. "Terimakasih."
Alice pun membalasnya dengan angggukan kepalanya dan senyumannya.
Reynal pun meminum tehnya. Lalu meletakkan kembali cangkirnya di meja. Reynal memijit pelipisnya. "Pamanku berhasil lepas dariku lagi ?"
"Bukankah seharusnya kau bisa melawannya ?" tanya Alice.
"Aku belum sepenuhnya mengendalikan Kekuatanku dan kedua Sihirku secara bersamaan." jawab Reynal.
"Kalau kau banyak berlatih, pasti kau bisa, dan aku percaya itu." balas Alice memberi semangat.
Reynal mengangguk kepalanya.
"Tapi yang membuatku heran, pamanku menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
"Mungkin saja pamanmu juga latihan, dan kau juga harus banyak latihan." jawab Alice.
__ADS_1
"Ya mungkin saja begitu." balas Reynal.
Alice pun menatap tajam ke arah laki-laki yang ia sayang. "Kenapa tadi kau mengirimku kembali ke penginapan."
Reynal berusaha tetap tenang.
Ternyata Alice masih ingat saat ia mengirim dirinya menggunakan teleportnya.
"Aku hanya tak ingin kau terlibat denganku." jawab Reynal.
"Tapi aku bisa membantumu." balas Alice.
"Justru itu yang membuatku khawatir jika kau terlibat. Bisa saja pamanku menjadikanmu sanderanya." jawab Reynal.
"Aku akui kalau kau memang hebat, tapi aku juga ingin berguna untukmu." ucap Alice.
"Tidak Alice, aku tak ingin terluka jika terlibat. Bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau pamanku menjadi lebih kuat. Bahkan aku dibuat kesulitan olehnya." jawab Reynal.
"Sekuat apapun musuh, jangan kau lawan dengan hanya kekuatanmu dan Sihirmu. Tapi gunakanlah pikiran. Kita bisa mengalahkan lawan yang kuat, jika kita bisa membuat rencana untuk mengalahkannya." kata Alice.
Reynal mengangkat alis sebelahnya. "Rencana ? Kita tak bisa membuat rencana secara langsung saat tengah melawan lawan kita."
"Bisa, aku dulu bersama Putri Elena saat melawanan musuh yang lebih kuat, kita masih bisa membuat rencana baru saat di tengah-tengah pertarungan. Pada akhirnya aku dan Elena bisa mengalahkannya." jawab Alice.
"Alice, mungkin perkataanmu ada benarnya. Tapi tidak semua rencana bisa dijalankan dengan sempurna." kata Reynal.
Reynal langsung memotongnya. "Cukup Alice, aku tak ingin debat dulu denganmu."
"Aku heran, perasaan kita baru menjadi sepasang kekasih tadi sore, kenapa debat coba ?" ucap Reynal sambil terkekeh.
Alice menghela nafasnya, ia juga terkekeh. "Maafkan aku yang berlebihan. Aku hanya khawatir kepadamu."
Reynal tersenyum. "Kapan kita kembali pulang ?" tanyanya, seakan mengalihkan pembicaraan.
"Pulang kemana ?" Alice berbalik bertanya.
"Pulang kembali ke Kerajaan Dorothy." jawab Reynal.
"Putri Elena bilang padaku, kita akan pulang kembali 2 hari lagi setelah hari ini." jawab Alice.
Reynal mengangguk-angguk kepalanya. Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu yabg tidak nyaman pada tubuhnya.
"Ayo kita masuk, ini sudah malam, kita harus beristirahat. Lagian pekerjaanmu sebagai pengawal Elena pasti membutuhkan istirahat yang cukup." ajak Reynal. Alice pun mengiyakan.
Mereka pun pergi dari meja mereka, dan tak lupa membayar munuman mereka. Alice dan Reynal saling bergandengan tangan. Mereka berjalan bersama.
Selama perjalanan menuju kamar. Reynal masih merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Tapi ia harus menahannya, ia tak ingin Alice khawatir padanya.
__ADS_1
Reynal mengantar Alice sampai depan pintu kamar penginapannya. Setelah Alice masuk dan menutup pintu kamarnya, baru Reynal berjalan menuju ke kamar penginapannya.
Setelah masuk, Reynal langsung cepat-cepat mengunci pintu kamarnya. Setelah sudah, seketika ia juga duduk jatuh di lantai.
Penglihatan Reynal pun sedikit buram dan darah perlahan keluar dari salah satu lubang hidungnya. "Ada apa denganku ?"
Reyna terlihat panik, ia cepat-cepat mengelap darahnya. Ia berusaha untuk tetap tenang. Dengan perlahan ia berdiri, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai, Reynal langsung merebahkan tubuhnya. Sepertinya ia harus benar-benar beristirahat. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.
.....
Keesokan Harinya.
Alice kembali pergi ke istana Kerajaan Arlie. Seperti biasa, tugasnya sebagai pengawal Elena adalah tugasnya. Namun ia juga tak lupa sebelum berangkat, ia juga berpamitan kepada Reynal.
Selama perjalan melewati kota, Alice memikirkan kondisi Reynal. Hari ini menurutnya, Reynal sedikit berbeda. Ia juga menanyakan kondisi kekasihnya.
Tapi Reynal menjawab kalau dirinya baik-baik saja. Tidak seperti yang sedang berbohong. Tapi ia bisa merasakan aura tak enak dari Reynal.
"Semoga dia baik-baik saja." batin Alice.
Alice kembali fokus dengan perjalanannya menuju istana. Tanpa disadarinya, ada laki-laki yang tengah mengikutinya sambil bersembunyi.
.....
Beberapa lama kemudian Alice telah sampai di istana Kerajaan Arlie. Ia pun masuk dan langsung mendapat sambutan dari Elena dan Aland.
Elena dan Aland langsung mengajak Alice pergi ke belakang istana. Mereka pergi menuju gazebo, seperti biasanya tempat mereka nongkrong.
"Bagaimana ?" tanya Elena.
"Bagaimana apanya ?" jawab Alice berbalik bertanya.
"Kemarin, kemarin kan kalian berkencan bukan ?" ucap Aland.
Alice menghela nafasnya, ia pun menceritakan semua hal yang telah terjadi kemarin. Tak dikurangi atau dilebihkan. Aland dan Elena pun terkejut mendengarnya.
Elena menghela nafasnya. "Tak kusangka, hari dimana yang seharusnya kalian berkencan, menjadi kacau karena pamannya."
Aland pun teringat. "Bukankah kemarin Reynal bilang, kalau dirinya harus cepat mencari pamannya."
Lalu Aland berdiri. "Kalian tunggu disini, aku harus bertemu dengan ayahku."
"Kau mau bilang semuanya ?" tanya Elena.
"Tenang, aku hanya meminta ayahku untuk meningkatkan keamanan Kerajaan ini." jawab Aland, dan pergi berlalu.
__ADS_1