
Putri Mahkota Xiu Juan terus berlari dan melompat dari pohon ke pohon sambil menggendong Putri Jing Mi di punggungnya. Hari sudah mulai mamasuki malam hari. Dari belakang jauh, ada Pangeran Jian Heeng, ia mengejar Xiu Juan dan Jing Mi agar rahasianya besarnya terbongkar.
Xiu Juan terus berusaha menjauh dari kejaran Jian Heeng. Digendongannya, Jing Mi menggunakan sihir elemen tanahnya untuk menyerang Jian Heeng. Tapi Jian Heeng bisa menghindarinya.
Jian Heeng berhenti berlari, ia berteriak ke arah langit, rasanya, ingin segera membunuh 2 gadia itu. Setan apa yang telah merasukinya, hingga kini ia menjadi marah dan tak bisa mengontrol emosi amarahnya. Apapun ia lakukan demi rahasia besarnya tidak terbongkar.
Disisi Putri Mahkota Xiu Juan, ia masih berlari dan menggendong Jing Mi. Mereka berdua telah kembali di wilayah terbuka perbatasan. Jing Mi menoleh kepalanya ke arah belakang. Ternyata Jian Heeng sudah tak terlihat. Jing Mi merasa lega.
"Putri Xiu Juan, sepertinya kita sudah aman, dan kak Jian Heeng sudah terlihat tidak mengejar kita lagi." ucap Jing Mi.
"Benarkah ?" sahut Xiu Juan si tengah-tengah lariannya.
"Iya Putri, sebaiknya kau turunkan aku. Aku tak ingin kau kelelahan." jawab Jing Mi.
Putri Mahkota Xiu Juan mencari batu besar. Setelah ketemu ua berhenti berlari, lalu ia menurunkan Putri Jing Mi dari gendongannya. Xiu Juan terduduk di tanah sambil mengatur nafasnya dan besandar di batu besar itu. Jing Mi pun juga ikut duduk di sebelahnya.
"Terimakasih Putri, kau telah datang menolongku." ucap Jing Mi.
Xiu Juan mengangguk kepalanya. "Tidak masalah, hanya saja, aku masih kepirkiran tentang pembicaraan kalian, apa itu benar."
Sesuai dugaan, Xiu Juan mendengar pembicaraannya dengan Pangeran Jian Heeng. Jing Mi mengangguk kepalanya. "Kak Rey Hann pernah dituduh meracuni ibunda Permaisuri, lalu ia asingkan selama setahun. Tapi beberapa hari kemudian, kami mendapat kabar, bahwa rombongan yang membawa kakak Rey Hann telah di bunuh. Dan hanya jasad Kakak Rey Hann tidak ada. Disitulah kakak Rey Hann dinyatakan telah tewas."
Lalu Putri Jing Mi juga menceritakan kejadian-kejadian yang pernah dialami Reyhan sebelum dituduh, hingga dipertemukan kembali dalam wujud Reyhan yang sudah jauh berbeda. Dari segi penampilan dan kemampuannya.
Putri Mahkota Xiu Juan meneteskan air matanya saat mendengar cerita tentang kehidupan Reyhan. Ia pun kembali teringat awal pertemuannya dengan Rehyan. Ternyata itulah dimana Reyhan yang baru saja selesai dari masa pengasingannya.
..
Tiba-tiba kulit Putri Mahkota Xiu Juan merasakan hembusan angin yang berbeda. Perasaannya pun tak enak. Lalu ia berdiri mencoba melihat sekelilingnya. Jing Mi pun juga ikut berdiri, ia mengira mereka berdua akan melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Tiba-tiba Xiu Juan mendorong Jing Mi hingga tubuhnya terjatuh dan duduk di tanah.
JLEB !!
Dalam diamnya Putri Jing Mi tak bisa bergerak. Cipratan darah mengenai pakaiannya dan terlihat sedikit noda darah di wajahnya.
Dirinya telah telah diselamatkan Putri Mahkota Xiu Juan. Ternyata ada pedang yang datang ke arah mereka. Tapi, Xiu Juan mendorong Jing Mi, dan akhirnya, pedang itu menusuk perut Xiu Juan hingga tembus kebelakang. Xiu Juan pun terjatuh dan berlutut di tanah.
Dari kejauhan terdengar suara tertawa. "Hahahahaha.." Pangeran Jian Heeng lah yang melakukan itu. "Hahaha... Kenapa kau tidak ikut kena adikku. Padahal sebelum aku melempar pedangku, aku telah mengolesnya dengan racun yang kubawa. Agar kalian sama tertusuk pedangku dan mati bersama, hahaha..."
Jian Heeng sudah terlihat seperti kehilangan kewarasannya, ia sangat terobsesi membunuh 2 gadis itu. Tapi sayangnya hanya satu yang mengenai serangannya. Jing Mi menangis tanpa suara saat melihat Xiu Juan tersenyum kepadanya.
.
.
"APA YANG KAU LAKUKAN PANGERAN JIAN HEENG !!!?"
Raja tak sendiri, ia berada di tempat itu bersama Raja Xie, dan Reyhan. Mereka ber-3 datang menggunakan sihir perpindahan tempat, saat sampai, mereka terpaku melihat Jian Heeng tengah melempar pedangnya ke arah Putri Mahkota Xiu Juan dan Putri Jing Mi.
Raja Wan marah besar kepada Jian Heeng, Pangeran yang selama ini ia sayangi. Ia tak percaya, Jian Heeng, salah satu Putranya yang ia kenal pendiam dan penurut, tega berniat membunuh 2 gadis, salah satunya Putrinya. Jian Heeng tak bisa berkata-kata apa-apa.
Jian Heeng tak punya pilihan lain, semua sudah terbongkar sudah, ia segera berlari melarikan diri sejauh mungkin, yang pasti ia sudah dicap buronan. Raja Wan ingin mengejarnya, tapi tertahan saat melihat Putrinya, Jing Mi telihat seperti ketakutan. Ia pun segera menghampiri.
Reyhan dan Raja Xie suda duluan medekati 2 gadis itu.
Reyhan lebih dulu sampai, ia khawatir kepada Putri Mahkota Xiu Juan. Ia pun mencabut pedang itu dari perut Xiu Juan. Dan menyuruh Raja Xie mentidurkan kepala Xiu Juan dipahanya. Reyhan berusaha menyembuhkan luka tusukan di perut Xiu Juan dengan kekuatan regenerasi miliknya.
Reyhan sudah tidak peduli lagi dengan stamina dan keadaannya sendiri yang sudah benar-benar terkuras banyak, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Raja Wan malihat Reyhan yang sedang berusaha menyembuhkan Xiu Juan sambil memeluk Jing Mi yang menangis tanpa suara.
__ADS_1
Luka sudah tertutup, hanya saja efek racun itu tidak menghilang. Reyhan tetap terus menyalurkan kekuatan regenerasinya kepada Xiu Juan. Sialnya kekuatan regenerasinya masih saja tidak sepenuhnya mendukung apa yang dilakukannya.
Reyhan terus berusaha dan tiba-tiba air matanya keluar menetes. Xiu Juan tersenyum indah kepada Reyhan. Tangannya menyentuh pipi laki-laki yang sudah menetap di hatinya. Reyhan terlihat sedikit panik, Raja Xie terdiam, dalam sedihnya, ia bisa melihat cinta diantara Reyhan dengan Putrinya.
"A-aku mencintaimu." ucap Xiu Juan lalu ia kembali tersenyum indah lagi.
Reyhan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan mengatakan seakan-akan kau akan pergi."
Xiu Juan perlahan memenjam mata dan tangannya pun terjatuh ke tanah. Raja Xie hanya bisa menangis. Reyhan juga menangis, ia tak menyerah dan terus-terusan menyalurkan kekuatan regenerasinya, ia tak ingin kehilangan Xiu Juan.
Reyhan belum sempat membalas ungkapan cinta Xiu Juan kepadanya. Raja Wan hanya melihat dengan tatapan kesedihan yang mendalam kepada Reyhan yang terus berusaha menyembuhkan Xiu Juan.
.
.
.
.
*******************
Di Dunia Masa Depan.
Ada sebuah mobil sedan hitam yang baru saja berhenti di parkiran. Terlihat ada sepasang laki-laki dan perempuan yang baru saja keluar dari mobil itu. Mereka pun berjalan memasuki salah satu Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Mereka berdua berhenti berjalan tepat di sisi salah satu kuburan sahabat mereka. Dan telihat jelas, tertulis nama 'Reyhan Gunawan' di batu nisan. Mereka berdua pun berlutut hingga kedua lututnya menyentuh permukaan tanah.
"Kak Rey..." lirih suara perempuan berumur 27 tahun itu, sambil mengusap batu nisan.
__ADS_1
"MasBro, aku dan adikku minta maaf, karena kita berdua baru bisa mengunjungimu disini." ucap laki-laki yang sudah berumur 40 tahun.