Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 161 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Alice berjalan mendekati laki-laki itu.


Laki-laki itu tengah duduk bersantai sambil melihat pemandangan suasana malam kota Kerajaan Arlie, dan tak lupa di temani dengan secangkir teh.


"Kau sedang apa disini ?" tanya Alice.


Laki-laki itu mendengar suara Alice, lalu ia menoleh. "Ah, Alice. Kau belum tidur ?"


"Aku belum mengantuk Reynal." jawab Alice.


"Duduklah." ucap Reynal, ia memersilahkan gadis itu duduk di kursi kosong yang ada di depannya.


Alice pun mengangguk kepalanya. Lalu ia puj duduk. Reynal memanggil pelayan. Datanglah seorang gadis Ras demi-human kucing, terlihat jelas dari telinganya yang ada di kepalanya.


"Ada yang bisa hamba bantu tuan ?"


Reynal menatap Alice. "Kau ingin apa ?"


"Teh hangat saja, seperti milikmu." jawab Alice.


Pelayan demi-human itu mengangguk kepalanya. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua untuk membuat teh pesanan Alice.


Suasana hening. Tak lama kemudian, pelayan datang membawa teh hangat untuk Alice. Setelah itu pelayan pun pergi.


Alice meminum tehnya. Lalu ia meletakan kembali cangkirnya tehnya setelah meminumnya. Suasana kembali hening.


Mereka diam.


Reynal menatap ke samping, ia kembali melihta pemandangan kota. Begitu juga dengan Alice, ia ikut memandang suasana kota Kerajaan.


"Kotanya indah." ucap Reynal.


Alice mengangguk kepalanya. "Benar."


Entah kebetulan atau sengaja, pandangan Alice dan Reynal bersamaan beralih kedapan dan mereka saling menatap.


Dada laki-laki itu berdebar-debar. Begitu juga dengan Alice.


"Ehem.., aku tak menyangka, ternyata dunia ini sangat berbeda dari dunia asalku." ucap Reynal, meski ada yang aneh pada dirinya, ia masih bisa tetap untuk tenang.


"Selama kita berteman dekat, kau belum menceritakan kehidupan duniamu." balas Alice.


"Teman ?" entah kenapa sesak yang di rasakan laki-laki itu.


Reynal tersenyum. "Yang jelas duniaku berbeda. Bedanya di dunia ini memiliki mahluk hidup yang bermacam-macam Ras. Sedangkan di dunia asalku, tidak ada."

__ADS_1


"Seperti aku lupa. Dan sekarang aku ingin memberitahumu." ucap Alice..


"Apa ?"


"Beberapa hari yang lalu, aku mencari tau tentang Sihir Cahaya dan Sihir Gelap di dunia ini. Dan ternyata dunia ini juga ada beberapa orang yang bisa memiliki antara kedua Sihir itu." jawab Alice.


"Jika seperti itu aku harus mencari orang itu. Dan meminta mengajariku." kata Reynal.


"Tapi, sepertinya itu sulit." balas Alice.


"Kenapa ?" sahut Reynal bertanya.


"Karena di dunia ini tidak semua orang bisa memiliki antara 2 jenis Sihir itu. Jika ada, orang itu pasti hanya bisa memiliki Sihir Cahaya. Tapi sangat jarang sekali. Bisa dikatakan, orang yang memilikinya hanyalah dari keturunan tertentu atau hanya orang yang beruntung." jawab Alice.


Reynal menghela nafasnya, lalu menoleh kepalanya dan menatap ke arah kota sambil tersenyum. "Ternyata sama seperti di dunia asalku. Hanya saja setiap orang yang bisa mendapatkan Sihir Cahaya, itupun itupun hanya sedikit yang memilikinya. Hanya aku dan ayahku yang memiliki kedua Sihir ini."


Alice mengangguk-angguk kepalanya. Suasana kembali hening lagi. Ia melihat Reynal yang masih tersenyum memandang ke arah kota.


"Aku ingin pulang." ucap Reynal, ia masih tersenyum, pandangannya masih melihat arah kota.


Melihat senyuman Reynal, Alice terdiam. Terpesona, dia menyukai laki-laki itu. Baru kali ini ia melihat senyuman indah dari laki-laki itu.


Dia semakin tak kuasa mengendalikan, jantungnya berdebar hebat. Alice pun berdiri. "Seperti aku sudah mengantuk, aku harus kembali ke kamarku."


Alice pun segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Reynal yang masih duduk diam di tempat.


Ucapan Reynal terhenti. Ia tak berharap lebih. Ia teringat kalau dirinya harus mencari dan menangkap pamannya.


"Huhh,, dasar paman gila. Kemana kau pergi ? Setelah menemukanmu aku takkan melepaskanmu" guman Reynal, ia kembali kesal dan benci kepada paman.


Reynal bangkit dari duduknya.


Ia pun berjalan meninggalkan tempatnya setelah meletakkan 1 koin emas untuk membayar tehnya dan tehnya Alice.


Reynal pun pergi ke dalam.


Tapi tanpa disadari, ada seseorang yang mengawasi dan mendengarnya semenjak pembicaraan mereka berdua.


"Kalian sebenarnya saling jatuh cinta, tapi rumit." ucap gadis yang diam duduk pojok di dekat tempatnya Reynal dan Alice sebelumnya.


Elena segera berdiri, dan pergu kembali ke kamarnya untuk istirahat dan tidur.


Awalnya ia ingin mengajak Alice keluar, tapi saat ia melihat Alice berdiri diam di depan kamar Reynal, ia mengintipnya. Lalu diam-diam ia mengikutinya. Dari pembicaraan mereka berdua, hingga selesai.


.....


Hari sudah pagi.

__ADS_1


Alice dan Elena sudah bersiap untuk pergi ke istana Kerajaan Arlie. Reynal menolak ikut, ia memilih untuk tetap tinggal di penginapannya saja dan menunggu kedua gadis itu.


Alice dan Elena tidak bisa memaksa laki-laki itu. Mereka segera pergi bersama dengan kusirnya dan pengawal-pengawalnya. Karena keluarga Kerajaan Arlie pasti sudah menunggu kedatangannya.


Reynal memilih untuk duduk diam di atap tempat makan di banguan penginapan. Berdiri diam sambil menatap kota Kerajaan Arlie.


Banyak sekali demi-human yang berterbangan untuk menjadi aktifitas mereka sehari-hari. Pandangannya tetap ke arah kota.


Reynal yang masih diam duduk di kursi. Tempatnya sampinh pinggir pagar, tempatnya sangat nyaman. Tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolnya.


"Hei !! Kau pindahlah rakyat jelata !!"


Reynal hanya hanya meliriknya. Ternyata hanya seorang pria muda, mungkin umurnya beberapa tahun diatasnya. Dari Penampilan, sepertinya dari Bangsawan kelas atas.


Pria itu sambil merangkul 2 gadis cantik dan aduhai di samping kanan kirinya, tapi ternyata demi-human. Kelinci dan Serigala.


Reynal kembali menatap ke arah kota. "Ck, jelas-jelas halaman luas begini, banyak sekali tempat yang kosong."


Lalu pikirannya menjadi buruk. "Tunggu, pria ini merangkul 2 gadis demi-human ? Apa mereka berdua j4l4ngnya ? Entahlah itu bukan urusanku."


"Hei !! Apa kau tuli ? Minggir disinilah tempatku !!" ucap Pria itu membentak.


Reynal masih diam. "Huhh, aku ingin sekali tenang saat ini."


Pria itu melepas rangkulannya dari kedua gadisnya. Lalu menggebrak meja, tepat di depan Reynal.


Brakk !!


Suara itu menjadi pemicu para pengunjung dan pelayan. Semua pandangan melihat. Tak hanya manusia, dari berbagai Ras, pun menatapnya.


"Kau tak tau siapa aku ?" tanya pria itu sinis.


"Tau." jawab Reynal santai.


"Berarti kau harus menyingkir dari tempatku. Carilah tempat lain."


"Kau saja, aku sudah disini sejak lebih awal. Siapa cepat, dia yang dapat." jawab Reynal masih santai.


"Kau sepertinya orang baru. Kau tak tau siapa aku." ucap pria itu.


"Kau hanyalah pria yang memiliki penglihatan yang sempit. Kenapa tidak memilih tempat lain, jelas-jelas sudah ada banyak tempat kosong. Apa kau buta ?" jawab Reynal dengan santainya tanpa dosa.


"Apa kau bilang ?!!" teriak pria itu. Lalu menarik pedangnya dari sarungnya.


Lalu mengarahkannya ke arah Reynal. Seketika suasana di tempat itu menjadi heboh. Semua menghindar, entah mereka taku terkena serangan 2 laki-laki itu atau kena amukan pria itu.


Reynal menatap tajam ke arah pria itu, ia berdiri. Ia juga ingin menarik pedangnya. Rasa kesal karena ketenangannya terganggu. Tapi Ia urungkan untuk menarik pedangnya, karena ia teringat, kalau pedangnya ia simpan di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2