
_______________________________________
Beberapa lama kemudian.
Setelah lama berjalan menunggangi kuda, akhirnya Alice dan Delbert telah sampai di istana. Delbert lebih dulu turun dari kudanya, lalu ia membantu Alice.
Mereka berdua masuk ke dalam istana.
Di dalam Alice telah disambut oleh Permaisuri Ella dan pelayannya. Delbert berpamitan untuk pergi, karena ia telah memiliki janji untuk menemui Raja Dorothy.
Kini Alice dan Permaisuri Ella jalan bersama menuju kediaman Elena, lalu diikuti oleh beberapa pelayan dari Permaisuri itu.
"Alice apa rencanamu ke depan ?" tanya Permaisuri Ella.
"Rencana ? Apa maksud Yang Mulia ?" tanya Alice ramah.
"Apa kau akan terus seperti ini. Menjadi penjaga Putriku." jawab Permaisuri Ella.
"Tapi itu memang tugasku Yang Mulia." jawab Alice.
"Tidak selamanya kau harus seperti ini." balas Permaisuri Ella.
"Kau harus menikah." lanjutnya.
Alice terkejut mendengarnya. "Menikah ?"
"Ya, menikah. Apa kau kepikiran untuk menikah ?" sahut Permaisuri bertanya.
"Belum Yang Mulia." jawab Alice.
Permaisuri Ella tersenyum. "Semua terserah padamu. Putriku sudah menerima lamaran Putra Mahkota Arlie. Sedangkan Putraku juga ingin menikah, tapi ia ingin menikahi Gadis pujaaannya."
Permaisuri Ella menatap Alice. "Alice apakah kau mau menjadi menantuku ?"
"Eh ?" Alice terkejut.
"Apa kau mau menikah dengan Putraku, Alice ?" tanya Permaisuri Ella.
Alice terdiam, ia tak bisa menjawab. Ia ingin menolak, karena hatinya berkata kalau dirinya telah menyukai laki-laki lain. Ingin sekali berkata seperti itu, tapi jika ia menolak, sama saja menyakiti perasaan Permaisuri Ella.
Permaisuri Ella tersenyum melihat Alice yang tak menjawab, dia bisa melihat kalau gadis ini tidak menyukai Putranya. "Alice aku tak memaksamu. Aku hanya menawarkanmu. Anggap saja pertenyaanku tadi adalah candaan."
__ADS_1
Alice tersenyum canggung. Ia merasa tak enak. Permaisuri Ella tetap tersenyum walau hatinya sedikit kecewa Karena gadis itu tak menyukai Putranya.
Permaisuri Ella menghela nafasnya. Dia paham, hati itu tak bisa dipaksakan. Dan entahlah hati gadis ini tidak ingin menyukai hubungan istimewa atau telah menyukai laki-laki lain.
Mereka berdua berjalan menuju kediaman Elena. Tak ada pembicaraan lagi. Dari jarak mereka, bisa dilihat Elena yang telah menunggu kedatangan mereka berdua.
Perempuan Ella berpamitan untuk meninggalkan mereka, lalu diikuti oleh pelayan-pelayannya.
Seperti biasa Elena berjalan lebih dulu, dan Alice berjalan di belakangnya. Mereka beruda menuju ke taman istana.
"Kita ngapai ya enaknya ?" ucap Elena bertanya-tanya.
"Latihan ?" tebak Alice. Seperti biasa, Elena kalau sudah bersama dengan Alice, pasti mengajaknya untuk latihan.
"Aku lagi tak ingin latihan dulu, apa kita jalan-jalan ke kota ?" jawab Elena meminta saran.
Alice terkejut. Tal biasanya Elena sepeti itu. "Tak ingin latihan", itu bukan Elena yang dia kenal. Alice sudah paham sifat Elena yang selalu memintanya untuk latihan bersama.
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan." kata Elena, tak menunggu Alice memberi saran lebih dulu. Elena pun berjalan capat lebih dulu.
Alice menghela nafasnya. Lalu ia segera menyusul Elena yang sudah berjalan cepat di depan.
"Kau ingin jalan-jalan ? Lalu di kota kau mau apa selain jalan-jalan. Aku tak ingin kau berbuat keributan." ucap Alice, yang sudah berjalan di samping Elena.
Baru saja akan keluar dari istana, terdengar suara yang membuat langkah kaki mereka berdua berhenti.
"Kalian akan kemana ?" tanya Permaisuri Ella. Ua berjalan mendekati kedua gadis itu, dan diikuti oleh pelayan-pelayannya.
"Kita akan keluar jalan-jalan ke kota ibu." jawab Elena.
"Bukan untuk pergi lagi kah ?" tanya Permaisuri Ella, ia mencoba mencari kebohongan.
"Tidak, aku dan Kak Alice hanya pergi jalan-jalan ke kota, aku bosan latihan terus." jawab Elena.
Permaisuri Ella terkejut, baru kali ini mendengar ucapan Putrinya. "Bosan latihan" tak pernah ia dengar dari mulut Putrinya. Sebagai ibu, ia sangat paham sifat Putrinya.
Elena sangat menyukai latihan, sifatnya seperti laki-laki. Baru kali ini, Permaisuri Ella mendengar dari Putrinya sendiri. Ia juga melihay tak ada kebohongan dari Putrinya.
Lalu Permaisuri Ella menatap Alice. Seakan ia bertanya "apa yang terjadi ?" . Alice yang paham tatapan Permaisuri Ella padanya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa ibu boleh ikut ?" tanya Permaisuri Ella.
__ADS_1
"Tentu." jawab Elena.
Ternyata tek hanya Alice yang bingung dengan sikap Elena, tapi Permaisuri Ella juga heran. Tiba-tiba Permaisuri Ella teringat.
Ya, kemarin, setelah Elena pulang, ia memarahinya. Dan Permaisuri Ella mengancam ke Elena, ia akan menyegel Pedang besar miliknya kalau masih suka pergi ke hutan.
Dan benar, kini ia melihat Putri yang sudah mulai berubah. Mungkin ia terlalu keras kemarin, tapi tak apa-apa, setidaknya Putrinya perlahan-lahan membuang kebiasaannya yang buruk.
Lagi pula, Elena juga telah menerima lamaran Putra Mahkota Arlie. Tentu saja, Elena harus menghilangkan sifat jeleknya sebelum dirinya telah menikah.
Disisi Elena.
Sebenarnya ia ingin sekali latihan. Tapi kini dan seterusnya, ia terpaksa merubah sifatnya. Karena ia tak ingin pedang kesayangan di segel oleh ibunya.
Mereka telah melewati pintu gerbang istana. Mereka berjalan berjalan kaki menuju kota Kerajaan. Sesekali Elena dan Permaisuri Ella berbicara dan ketawa. Alice yang melihatnya pun hanya tersenyum.
.....
Disisi Lain.
Di kota Kerajaan Dorothy.
Reynal yang tengah jalan-jalan. Dia membeli makanan ringan di pinggir jalan. Sambil berjalan, ia memakan makanan ringannya.
Tak memiliki kegiatan apapun, lebih baik ia memilih untuk jalan-jalan di kota. Untuk mencari Pamannya, ia sampingkan dulu. Tidak ada salahnya, ia ingin jalan-jalan. Reynal jadi teringat, saat dirinya dan keluarganya jalan-jalan di kota Kerajaan Wan.
Kali ini, banyak sekali tatap-tatapan penduduk yang menatapnya. Tatapan mereka entah itu baik atau buruk. Mungkin ia sudah mudah dikenal semenjak di acara pertandingan sebelumnya saat bertarung dengan Delbert.
Reynal memilih masa bodoh dengan tatapan mereka. Baginya, mengurusi diri sendiri saja sudah pusing apalagi mengurusi urusan orang lain. Memikirkan cara untuk mencari dan menangkap pamannya juga sudah membuatnya pusing.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya. Reynal menoleh. Ia melihat 3 orang perempuan yang ia kenal, salah satunya yang memanggil namanya.
"Reynal, kemarilah !" panggil Alice.
Reynal tersenyum, lalu ia berjalan mendekati ketiga perempuan itu dan rombongannya.
"Kau jalan-jalan sendiri ?" tanya Elena.
"Ya, aku sedang ingin jalan-jalan saja." jawab Reynal.
Reynal, Alice, dan Elena sudah terlihat akrab. Mereka bertiga berbicara seakan sudah dekat. Itulah pandangan yang dilihat oleh Permaisuri Ella.
__ADS_1
Tapi disini Permaisuri bisa melihat tatapan Reynal dan Alice benar-benar berbeda. Permaisuri Ella bisa menebak ada sesuatu di antara Alice dan Reynal.
Tapi ia heran melihat Putrinya. Putrinya akrab dengan Reynal, sejak kapan ? Tapi pikirannya tertuju ke Alice dan Reynal. Mereka terlihat sangat dekat.