
_______________________________________
Perlahan-lahan sekelompok goblin maju mendekati 3 manusia itu. Alice dan Elena sudah siap dengan senjata mereka masing-masing. Alice menatap tajam ke semua para goblin itu.
"Aku tak mengira mereka datang dengan jumlah yang sangat banyak." ucap Alice setelah melihat keseluruh goblin yang ada di depannya.
"Aku akan melindungimu, kak." ucap Elena yang sudah siap dengan pedang besar miliknya.
"Jangan bodoh, kau yang harus kulindungi. Jangan pedulikan aku." balas Alice, ia langsung melepaskan anak panahnya setelah para goblin itu mulai berlari ke arah mereka.
Wusss... Wusss... Wusss... Wusss...
Wusss... Wusss... Wusss... Wusss...
Wusss... Wusss... Wusss... Wusss...
Dengan gerakan cepat, Alice meluncurkan anak panahnya ke arah semua goblin yang maju. Semua anak panahnya yang diluncurkan Alice, tepat sasarannya. Tertusuk di dada goblin-goblin itu, dan akhirnya mati.
Dan untuk Elena, ia berlari mendekati mereka, ia melompat dan langsung melayangkan pedang besarnya.
Boomm....!!
Hantaman besar pedang besar yang dilayangkan oleh Elena, membuat belasan goblin itu mati.
Mereka berdua tengah sibuk melawan puluhan para goblin itu. Sedangkan Reynal, ia masih diam berdiri. Tatapan dinginnya menuju para goblin yang sedang bertarung dengan Alice dan Elena.
Perlahan, Reynal menarik pedangnya. Pedangnya pun bercahaya. Lalu ia berjalan ke arah mereka. Dengan santai dan tatapan dingin ia mengayunkan pedangnya dengan lihai.
Ada beberapa goblin maju menyerangnya. Tapi dengan santainya, Reynal hanya menghindar kecil dan menunduk, lalu ia mengayunakan pedangnya.
Sambil berjalan kaki, ia seperti bermain pedangnya, dan kadang ia memutarnya saat tengah-tengah ia mengayunkan pedangnya le arah para goblin.
Dengan santai Reynal melewati Alice dan Elena yang sibuk dengan pertarungannya. Bahkan para goblin bagian Alice dan Elena pun diambil olehnya, sehingga mereka berdua berhenti bertarung.
__ADS_1
Alice dan Elena hanya melongo tak percaya. Terutama Elena, karena sebelumnya ia bertarung dengan Reynal. Memang saat bertarung, Reynal terlihat gila.
Tapi kali ini yang Elena lihat, Reynal cukup tenang maju berjalan santai sambil mengayunakan pedangnya ke arah goblin yang mendekatinya.
Sedangkan Alice hanya diam melihat aksi santainya Reynal. Lalu ia tersenyum tipis melihat Reynal yang cukup tenang menghadapi para goblin itu.
Tinggal 15 goblin yang tersisa, mereka sedikit mundur berjaga jarak dengan Reynal. Reynal berhenti melangkah. Lalu ia mengayunkan pedangnya untuk membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di pedangnya.
Setelah itu ia memasukan pedangnya ke sarungnya. Salah satu tangannya mengarahkan 15 goblin itu. Muncullah bola Api biru miliknya. Dan langsung saja ia lancarkan Api birunya.
Seketika terciptalah ledakan besar dari bola Api biru miliknya dan membunuh semua goblin itu. Reynal menghela nafasnya. Ya, ia mencoba bertarung dengan tenang yang pernah diajarkan oleh ayahnya.
Meski Ayahnya tak pernah tenang saat bertarung, dan lebih memilih menggila. Tapi Reyhan memilih mengajarkan Reynal untuk bertarung dengan tenang dan santai, karena ia tak ingin Putra menggila saat bertarung.
Reynal kembali berjalan ke arah Alice dan Elena yang diam melongo. "Hei.., kalian kenapa diam ?"
Alice dan Elena tersadar.
"Dari mana kau bisa bertarung dengan tenang, sebelumnya kau terlihat gila saat melawanku." ucap Elena.
Elena melotot tak terima. Alice pun menenagkan Elena agar berhenti berbicara. "Sudah, yang terpenting semua goblin telah mati."
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Kita masih di tengah perjalanan ke Kerajaan." lanjutnya.
Sebenarnya, Alice ditugaskan oleh Raja Dorothy untuk memberitahu kalau lamaran dari Putra Mahkota dari Kerajaan Arlie diterima. Ya Putra Mahkota Kerajaan Arlie melamar Putri Elena.
Maka, saat Alice berangkat untuk memberi kabar, Elena diharuskan ikut. Sekaligus untuk pedekatan dengan Putra Mahkota dari Kerajaan itu. Mereka menginap selama seminggu.
Awalnya mereka berangkat menggunakan kereta kuda. Tapi pada saat pulang, Elena nakal keluar dan melompat dari kereta kudanya. Dengan terpaksa Alice pun ikut melompat.
Meski Elena adalah Putri Raja sekaligus juniornya Alice, tapi Elena menyayanginya, dan menganggapnya sebagai kakak. Bahkan begitu dekatnya, Raja Dorothy memutuskan Alice sebagai pengawal pribadinya Elena.
Jadi saat Elena seenaknya saja kabur dari kereta kudanya. Alice pun mengikutinya dan menegurnya. Elena menolak karena ia ingin melatih dirinya melawan monster saat perjalanan pulangnya.
__ADS_1
Nasi sudah menjadi bubur, kereta kudanya telah berjalan jauh. Mungkin kedua kusir tak tau jika Elena dan Alice tak ada di dalam kereta kuda mereka.
Akhirnya mereka berdua berjalan kaki untuk pulang. Dan siap mendapat amarah dari Raja Dorothy karena Elena selalu melakukan apapun seenaknya sendiri.
.....
Hari sudah mulai medekati gelap. Alice, dan Elena tetap terus berjalan. Sedangkan Reynal, ia hanya mengikuti saja, karena ia benar-benar tak tau arah dunia asing yang ia tempati.
Dari jarak jauh mereka melihat sebuah cahaya, seperti sebuah api unggun. Alice tersenyum, lalu segera menarik lengan Elena dan berlari mendekati api unggun itu, dan meninggalkan Reynal begitu saja.
Dan benar saja, ada 2 orang berpenampilan seperti dari orang anggota Kerajaan. Mereka seperti tengah frustasi. Dan di dekat mereka ada 2 kuda yang tengah duduk di rumput.
"Kalian tidak apa-apa ?" tanya Alice saat sudah mendekati 2 orang itu.
2 orang itu menoleh dan terbelalak, dan salah satu dari mereka berucap. "Astaga Alice, kau dan tuan Putri dari mana ? Kita khawatir kalian tiba-tiba tak ada di dalam kereta kuda."
Ternyata 2 orang itu adalah pengawal sekaligus kusir kereta kuda yang mengantar Elena pergi.
"Aku mengejar anak nakal ini, dia selalu melakukan hal-hal yang gila, sehingga aku harus ikut dan menjaganya." jawab Alice sambil melirik ke arah Elena.
2 pengawal itu hanya mengangguk-angguk kepalanya. Mereka paham kedekatan Alice dengan Putri Elena. Lalu pandangan mereka ke arah laki-laki muda yang berdiri dan terlihat berusia 17 tahun di belakang 2 gadis itu dengan sedikit jauh dari mereka.
"Dia siapa ?" tanya salah satu pengawal.
Alice membalikan tubuhnya. "Hei kau, kemari !!"
Reynal hanya mengela nafasnya. Padahal ia sudah memberi tahu namanya, tapi tetap saja kedua gadis itu enggan menyebut atau memanggil namanya.
Bahkan kedua gadis itu tak memkenalkan namanya, meski ia sudah tau nama kedua gadis, karena tak sengaja Reynal mendengar mereka saling memanggil nama mereka saat saling berbicara, dan bertarung dengan sekelompok goblin.
Reynal melangkah maju mendekati mereka. Alice pun memperkenalkan Reynal kepada kedua pengawal itu. Kedua pengawal itu pun berjaga-jaga, dan menarik pedang mereka.
Karena Reynal adalah orang asing. Mereka harus siaga dan menjaga Putri Elena dari orang asing. Alice sudah berusaha meyakinkan kalau Reynal adalah orang baik dan tengah tersesat.
__ADS_1
Dan Akhirnya kedua pengawal itu percaya, tapi mereka tetap berjaga-jaga, dan melempar tatapan dan lirikan tajam kepada laki-laki asing itu. Sedangkan Reynal yang terkena pandangan mereka hanya menghela nafasnya.