Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 109


__ADS_3

Setelah pergi meninggalkan orang tuanya, Reyhan berjalan ke arah pintu gerbang istana. Ia berniat menjemput istrinya, ia tak ingin istrinya kelelahan karena kondisi kini tengah mengandung calon anak mereka berdua.


Jarak tinggal 20 meter lagi ia sampai di pintu gerbang, tiba-tiba ada 10 orang pengawal mendekatinya, dan berjalan mengekorinya. Reyhan mengangakat alis sebelahnya.


"Ada apa dengan kalian ?" tanya Reyhan.


"Kami sebagai pengawal sudah bertugas melindungi yang Mulia, jadi kami mendampingi yang Mulia pergi kemana pun."


Ucap salah satu pengawal.


Reyhan terkekeh mendengarnya. Lalu ia tersenyum. "Tidak perlu, aku tidak perlu didampingi. Kalian cukup kesibukan lain seperti berkeliling berpencar di sekitaran Kerajaan agar kalian tidak jenuh sekaligus untuk memperketat keadaan agar lebih aman terkendali."


"Tapi...,"


"Ini adalah perintah, bukankah perintah Raja adalah mutlak. Kalian tau, jika kalian tidak patuh dengan perintah Raja kalian, maka kalian akan mendapat hukuman ?" ucap Reyhan tersenyum menyeringai.


Semua pengawal terdiam. Memang benar perintah Raja adalah mutlak, padahal niat mereka baik, untuk pendampingi dan melindungi Raja mereka. Tapi kenapa sang Raja menolak dan menyuruh mereka berkeliling Kerajaan, bukankah itu sama saja dengan jalan-jalan ?


Padahal di Kerajaan, dan setiap tempat tertentu sudah ada pos keamanan yang berjaga. Sekaligus setiap pos sudah ada 2 pengawal yang berjaga. Mereka paham niat Raja baru mereka terlalu baik, memberikan waktu untuk jalan-jalan sekaligus berjaga. Karena perintah itu tidak pernah dilontarkan oleh Raja-Raja mereka terdahulu.


Tak mendapat jawaban apapun, Reyhan segera pergi meninggalkan mereka. Tapi baru satu langkah, ia berhenti.


"Bukankah aku memerintahkan kalian untuk berkeliling Kerajaan, bukan untuk diam ditempat."


Reyhan berucap tanpa membalikkan tubuhnya. Semua pengawalnya langsung bergerak berpencar setelah mendengar kata-kata Raja mereka.


Reyhan tersenyum, lalu ia melanjutkan lagi jalannya untuk mencari istrinya. Namun saat akan melewati pintu gerbang, ia melihat 4 gadis berjalan ke arah pintu gerbang. 4 gadis itu tertawa damai seakan tidak ada beban. Ya, salah satu gadis itu adalah istrinya. (Oh iya, Xiu Juan sudah gak gadis lagi ya, kan sudah dibobol sama Reyhan)


Reyhan berjalan mendekati mereka. "Kalian sudah pulang ?"


"Eh..., kak Rey akan kemana ?" tanya Xiu Juan sedikit terkejut melihat suaminya sudab ada dihadapannya.


"Aku berencana mencarimu dan mengajakmu pulang." jawab Reyhan sambil mengelus lembut kepala istrinya.


"Kakak, tenang saja, ada kita yang menjaga kakak ipar." ucap Putri Jing Mi, dan diangguki oleh Putri An Niu dan Putri Zhu Niu.


"Baiklah, Terimakasih." balas Reyhan.


"Ayo.., aku tak mau kamu kelelahan." lanjutnya sambil merangkul istrinya.


"Kakak, jangan membuat kita iri. Setiap hari kau membuat kami iri melihat keromantisan kalian berdua." ucap Putri Zhu Niu.


"Oh ya ? Maka dari itu, segeralah kalian menikah." balas Reyhan enteng dan segera berlalu bersama istrinya.


Xiu Juan hanya tersenyum mendengarnya dan pasrah akan ajakan suaminya. Sedangkan ketiga adik perempuannya dari suaminya hanya mendengus kesal, dan berdecak pinggang mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.....


Hari terus berjalan, tak terasa 3 bulan berlalu, Reyhan semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai Raja. Meski sibuk ia tetap mengutamakan keadaan Xiu Juan dan kandungannya. Ia memilih tidak mengerjakan pekerjaannya, demi mendampingi istrinya yang tengah hamil.


Bersamaan itu ia juga mendapat berita heboh dan membuatnya senang. Karena sahabatnya telah resmi menjadi Raja Kerajaan Wong, siapa lagi kalau, KunLi Wong, yang kini telah menjadi kakak iparnya yang kini tengah mengandung. Ia akan menjadi calon Paman untuk keponakannya nanti.


.


.


.


.


.....


Waktu terus berjalan.


Kehamilan sang Istri sudah memasuki bulan ke-6 dan perutnya telihat membesar. Kini Reyhan memutuskan mencari tangan kanan (kita sebut saja asistennya), dan ia menemukannya, yaitu pemuda yang bernama Chen.


Reyhan 'lah yang memilihnya secara pribadi. Ia percaya kalau Chen dapat dipercaya, karena ia bisa melihat niat kebaikan dirinya. Dan ternyata Chen adalah pemuda yang jujur, cerdas dan sangat berani dalam memberi pendapat dan melapor jika demi kebenaran. Meski kemampuannya dibawah tingkat Bangsawan.


(Chen, pemuda yang pernah muncul di BAB 104)


Meski tampan, tapi masih jauh tampan dari Reyhan dan KunLi Wong.


Reyhan membawa Chen ke istana dan memperkenalkannya di ruang rapat. Di dalam ruangan, semua para perdana mentri sudah berkumpul. Semua terkejut mendengar penjelasan Reyhan karena mengangkat rakyat biasa menjadi asistennya.


Para perdana mentri menolaknya, karena Chen adalah rakyat biasa, bukan dari keluarga yang memiliki gelar Bangsawan. Namun Reyhan tetaplah Reyhan, meski didesak ia takkan tunduk kepada para perdana mentrinya.


Mereka semua semakin bingung dengan kelakuan Raja yang baru yang ini. Karena Raja-Raja sebelumnya tidak pernah melakukan apa yang Reyhan lakukan.


Bahkan ada salah satu perdana mentri berontak karena tak setuju jika Reyhan mengangkat Chen sebagai asistennya, dan menghinanya. Reyhan tersenyum menyeringai mendengar perdana mentri itu yang sedang berjalan ke arahnya dan Chen.


Chen hanya memilih diam, hatinya sedih. Ia sadar akan dirinya memang dari kalangan rakyat biasa. Rasanya ingin sekali pergi dari tempat itu, tapi mau gimana lagi, demi menghormati Reyhan sang Raja, ia memilih berdiri diam.


Karena memang ada benarnya, keseluruhan semua orang yang menjadi perdana mentri adalah bagian dari keluarga Bangsawan.


"Dia adalah rakyat tak tau aturan Kerajaan, dia tidak pantas menjadi bagian Kerajaan, dan dia belum tentu bisa dipercaya."


"Lalu ?" sahut Reyhan.


"Jika yang Mulia ingin mencari orang kepercayaan, hamba bisa mencarinya."


"Benarkah ? Lalu siapa menurutmu ?" tanya Reyhan.


"Hamba menawarkan Putra-Putri hamba yang mulia."

__ADS_1


Perdana Mentri itu sebenarnya memiliki rencana, ia menginginkan Putranya dekat dengan salah satu adik sang Raja dan menikahinya. Dan untuk Putrinya, ia berharap sang Raja bisa dekat dengan Putrinya, lalu menjadikan menjadikannya sebagai Selir.


"Hahahahahahahah..."


Semua terkejut sekaligus merinding mendengar tawa Reyhan bagaikan orang jahat. Lalu ia berhenti tertawa.


"Aku menolak." ucap Reyhan dingin menatap tajam, ia sudah bisa menebak tujuan dari perdana mentri itu.


"Coba pikirkan kembali Yang Mulia, hamba tidak bisa percaya dengan rakyat miskin ini sebagai orang kepercayaan Yang Mulia."


"Jika kau tidak terima dan berbicara lagi, aku akan menebas salah satu tanganmu." ucap Reyhan santai sambil tersenyum menyeringai.


Semua orang yang mendengar terkejut. Mereka memilih diam, karena merasakan hawa membunuh di dalam ruangan itu.


"Tapi Yang Mu.."


DUK....


Ucapan Perdana Mentri itu terpotong, dan tidak melanjutkan kata-katanya. Tangannya terjatuh ke lantai, lalu disusul tubuhnya yang ikut terjatuh, dan berlutut.


"Aaaagggrrrrhhh !!"


Semua terkejut melihat adegan yang benar-benar sadis. Mereka terdiam membeku melihat tangan perdana mentri itu terputus dari tubuhnya. Dan terlihat darah yang sudah mengalir banyak.


Mereka hanya diam melihat perdana mentri itu yang berteriak kesakitan. Mereka tak berani mengucapkan kata-kata. Mereka memilih diam dari pada harus mengalami hal sadis yang sama atau lebih.


"Aku tidak bermain dengan kata-kataku, jadi siapa yang tidak menerima, jika aku mengangkat Chen sebagai orang kepercayaanku ?" ucap Reyhan sambil mengelap belatinya dari noda darah, lalu memasukan kembali ke dalam pakaiannya.


"Kami menerimanya Yang Mulia."


Jawab semua perdana mentri serempak. Mereka benar-benar tak ingin seperti salah satu rekannya.


"Bagus."


Reyhan mendekat lalu berlutut dan mengambil tangan perdana mentri yang tergeletak di lantai. Ia menyambungkan dan menyembuhkannya.


Perdana mentri itu sudah terlihat tidak kesakitan, dan lukanya sudah sembuh dan tangannya kembali menyatu.


.


.


.


.


"Maafkan hamba yang mulia." ucapnya sambil berlutut dan tubuhnya bergetar.


"Sudah kubuktikan, aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kataku. Dan aku tidak salah mengambil keputusan." ucap Reyhan dingin.


"Baiklah, rapat ini kita sudahi. Sekarang kalian kembali ke aktifitas kalian."

__ADS_1


Semua perdana mentri pergi meninggalkan ruangan rapat. Setelah semua perdana mentri keluar, Reyhan berjalan lalu ia mengajak Chen dan meninggalkan ruangan itu.


Kali ini ia akan mengajarkan Chen sebagai asistennya untuk mengerjakan tugasnya. Dan setelah Chen benar-benar mampu, ia akan melatihnya bertarung, karena meski Chen cerdas, dan jujur, tapi tingkat kemampuan bertarungnya sangatlah rendah.


__ADS_2