
Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.
Terimakasih.
_______________________________________
Mendengar jawaban dari salah satu pengawalnya, semua yang berada di ruang makan berfikir keras. Maksudnya, apa yang sedang dilakukan Reyhan ? Bakar-bakaran ?
"Bakar-bakaran ?" sahut Raja Wan.
"Benar yang Mulia." jawab pengawal itu menunduk kepalanya.
Raja Wan terdiam, lalu melihat pengawal itu dan menyuruhnya untuk pergi. Setelah pengawal itu pergi, akhirnya Raja Wan menyuruh keluarganya untuk melanjutkan makan malamnya meski pikirannya merasa tidak tenang. Dia khawatir jika Reyhan membakar istananya.
Permaisuri dan kedua Selir Raja, juga masih kepikiran, mereka ingin sekali melihat apa yang dilakukan Reyhan. Karena seingat mereka, Reyhan biasanya paling senang jika makan bersama, tapi ini Reyhan tidak ikut, malahan bakar-bakaran sendirian. Mereka berencana akan mendatanginya setelah makan malam, karena jika mendatanginya sekarang, dianggap tidak sopan menurut peraturan keluarga Kerajaan. Dan satu lagi, pikiran mereka masih bertanya-tanya, apa maksudnya bakar-bakaran ?
Putri Mahkota Lin Wei dan ketiga saudarinya penasaran apa yang dilakukan oleh Reyhan. Mereka bertiga juga berencana mendatangi Reyhan setelah makan malam. Disisi Pangeran Jian Heeng tidak peduli apa yang dilakukan oleh Reyhan. Dirinya tetap fokus makan malamnya, meskipun tidak berselera karena dirinya masih memikirkan cara supaya impian menjadi Putra Mahkota terwujud.
.
.
.
.....
Sedangkan orang yang sedang dibicarakan, sedang sibuk membolak-balik daging hewan dibawah kayu bakar. Reyhan sedang membakar daging hewan untuk makan malamnya. Sebenarnya dia sudah tau kalau Permaisuri Xia menyuruhnya untuk ikut makan malam, hanya saja dirinya menolak. Menolak bukan karena rasa masakan istana tidak enak, melainkan dirinya kini sedang ingin makan masakan daging buatannya.
.
.
Flashback.
Reyhan baru bangun dari tidurnya, dan melihat hari sudah akan malam. Dirinya segera membersihkan dirinya. Dirinya memang tak membutuhkan pelayan dan pengawal, untuk membantunya. Jadi dirinya memerintah pelayan dan pengawal untuk berjaga di depan pintu kediamannya.
Setelah selesai, perutnya terasa lapar. Pelayan dan pengawal memberitahukan untuk ikut makan malam. Reyhan hanya mengabaikannya, karena Reyhan menginginkan daging bakar. Dan segera ia mencari tempat untuk memasak. Ingin merasakan suasana yang berbeda, Reyhan berencana ingin memasak di taman sekitaran istana. Apalagi saat melihat pohon besar.
__ADS_1
Dirinya teringat waktu dirinya hidup di hutan terlarang selama setahun, dirinya selalu masakan sendiri menggunakan api yang ia buat, dengan rempah-rempah yang ada di hutan itu. Ditambah pengalaman dari waktu dirinya hidup di zaman modernnya, dirinya pernah menjadi tentara dan pernah hidup di tengah hutan saat bertugas. Saat lapar, ada tumbuh-tumbuhan yang sekiranya bisa dimakan, maka ia makan. Jika ada hewan yang juga bisa untuk diolah untuk dimakan, maka ia memburunya.
Jadi selama dirinya telah pulang dirinya selalu makan sendiri di luar istana di tempat makan berada di kota Kerajaan. Dan kini dirinya menginginkan daging bakar. Dari mana ia dapat dagingnya ? Jawabnya, waktu Reyhan masih tinggal di hutan terlarang. Reyhan memburu hewan dan memotongnya, lalu ia masukan ke dalam cahaya portalnya/ruang kekayaannya. Ternyata di dalam ruang kekayaannya, jenis bahan makanan yang ia simpan selalu awet, karena jalan waktu di dalam ruang kekayaannya tidak belaku.
.
.
Reyhan telah menyiapkan kayu dan api yang ia keluarkan dari ruang kekayaannya. Dan segera menyalakan apinya. Reyhan juga siap dengan bahan-bahan untuk membuat makanannya. Tiba-tiba ada salah satu pengawal datang menghampirinya dan mengatakam bahwa Raja memerintahkan dirinya untuk ikut makan malam, Reyhan menolaknya. Saat akan kembali pengawal menatap kearah kayu yang sedang dibakar oleh Reyhan.
"Maaf, jika lancang yang Mulia, hamba ingin bertanya, yang Mulia sedang melakukan apa ?" tanya pengawal itu.
"Bakar-bakaran." jawab Reyhan, dan pengawal tak ingin bertanya dan berlama-lama, pengawal itu segera pergi dan melaporkan kepada Raja Wan.
Flashback end.
.
.
Reyhan sebenarnya sudah mengajak mereka untuk ikut bergabung, kebetulan dirinya membuat daging bakar yang cukup banyak. Tapi yang ada, para pengawal dan pelayan menolak dan langsung pergi begitu saja. Reyhan menatap mereka kebingungan, tapi ya sudahlah, tak ingin banyak berfikir, ia kembali fokus memasak dagingnya.
.
.
Beberapa saat kemudian, akhirnya daging bakarnya matang. Saat Reyhan menatap makanannya telah siap untuk disantap, tiba-tiba telinganya mendengar langkah kaki mendekati kegiatannya. Reyhan sudah menebak siapa yang datang menghampirinya.
Semuanya telah datang ke taman di sekitaran istana. Permaisuri Xia, Selir May, Selir Bao, Putri Mahkota Lin Wei, Putri Jing Mi, Putri kembar An Niu dan Zhu Niu. Mereka melihat Reyhan sedang membakar sesuatu di dekat sebuah pohon besar. Saat mendekati Reyhan, hidung mereka mencium aroma masakan yang sangat enak. Mereka terkejut ternyata Reyhan sedang membakar daging.
Hanya Raja Wan dan Pangeran Jian Heeng yang tidak ikut dengan mereka. Sebenarnya Raja Wan ingin ikut melihat Reyhan, hanya saja ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sedangkan Pangeran Jian Heeng, dirinya memang tidak ikut, karena tidak tertarik sama sekali. Karena Pangeran Jian Heeng memang tidak menyukai kehadiran Reyhan di Kerajaan.
.
.
"Adik, kau memasak ?" tanya Putri Mahkota Lin Wei tak percaya melihat apa yang dilakukan Reyhan, begitu juga dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Putraku kenapa kau tidak ikut makan malam ? Dan kenapa kau memasak disini ?" tanya Permaisuri Xia terkejut melihat Reyhan membuat makanannya sendiri.
"Aku sedang ingin memakan daging untuk makan malamku." jawab Reyhan.
"Kau bisa meminta pelayan untuk memasak makanan yang kau mau, putraku. Jadi kita bisa makan malam bersama tadi." ucap Selir May, Permaisuri Xia dan Selir Bao mengangguk kepalanya.
"Tidak ibundaku, aku hanya ingin makan masakanku sendiri." jawab Reyhan tersenyum.
"Kau bisa memasak, putraku ?" tanya Permaisuri Xia, dan dijawab anggukkan oleh Reyhan.
"Dari mana kau belajar masak ?" tanya Selir May.
"Waktu itu, sebelum aku kembali, aku tinggal di hujan. Jadi aku harus bisa memasak agar perutku tidak lapar." jawab Reyhan, Permaisuri, kedua Selir Raja, dan keempat saudarinya merasa kasihan tentang kehidupan selama setahun ini yang menimpa kepada Reyhan.
"Kau memasak apa ?" tanya Putri Mahkota Lin Wei.
"Daging bakar." jawab Reyhan.
"Kalian mau mencobanya ?" lanjutnya bertanya.
Belum dijawab, Reyhan langsung memunculkan cahaya portalnya dan keluarlah tikar. Segeralah Reyhan menggelar tikarnya. "Ayo duduk, tak perlu takut kotor tikar ini bersih kok."
Semuanya terkejut melihat tikar yang disediakan oleh Reyhan dengan mudah. Akhirnya semua duduk di tikar yang telah digelar oleh Reyhan. Reyhan menaruh piring besar yang berisi daging bakarnya yang sudah dipotong kecil-kecil. Reyhan juga menyediakan sambal buatannya.
"Ayo dicicipi, ini enak sekali." ucap Reyhan setelah memakan potongan kecil daging bakarnya.
Akhirnya semua ikut mencicipinya. Mata mereka melebar tak percaya setelah mangunyah daging buatan Reyhan.
"Adik, ini enak sekali." ucap Putri Mahkota Lin Wei, dan yang lainnya mengangguk kepalanya seakan mereka juga merasakan rasa lezat di lidah mereka.
Rasanya ingin menambah lagi, tapi karena mereka telah makan malam sebelumnya. Jadi mereka hanya memakan beberapa potongan daging bakar yang kecil.
"Ini enak sekali, Putraku." ucap Permaisuri Xia dan lainnya mengangguk setuju.
"Adik, ini daging hewan apa, kenapa bisa enak sekali ?" tanya Putri Mahkota Lin Wei menatap ke arah Reyhan, dan lainnya juga menatapnya karena juga ingin tau.
"Daging hewan biawak."
__ADS_1