Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 172 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Di Penginapan, dan hari sudah siang.


Reynal berdiri sambil bersiap akan keluar dari kamarnya, namun dirinya masih ragu untuk keluar dari kamarnya. Ia jadi teringat tadi malam.


Reynal terlihat menghela nafasnya.


Tak ingin ragu dengan diri sendiri. Ia pun siap, dan yakin kalau dirinya akan baik-baik saja. Ia pun siap untuk keluar dari kamarnya.


Reynal memilih pergi ke atap, seperti biasa, ia akan makan dulu. Karena ia juga belum sarapan. Reynal duduk ke kursi yang kosong.


Lalu Reynal menunggu pesanan yang sudah ia pesan sebelumnya. Tak lama kemudian makanannya pun datang. Ia pun segera memakan makanannya.


Setelah selesai, Reynal segera membayarnya. Lalu ia pergi. Reyanl memilih berjalan kaki, lebih baik ia menikmati perjalanannya untuk menyusul Alice di istana.


*****


Di Dunia Lain Dan Di Waktu Yang Berbeda. Di dalam sebuah hutan, muncullah sebuah portal. Kemudian, dari dalam portal itu, keluarlah seseorang yang tak asing.


Dia datang sendiri. Reyhan berjalan ke dalam hutan setelah ia keluar dari portalnya. Ia melihat sekelilingnya. "Hutan ini." Lalu ia menelusuri di dalam hutan itu, ia menemukan goa, ia pun masuk ke dalamnya.


"Aku merasa nostalgia dengan tempat ini."


Tepat sesuai dugaannya, Reyhan menemukan batu emas di dalam goa itu. Ia pun langsung menyentuhnya dengan tangannya yang diselimuti cahaya.


Reynal pun membelah batu emas itu menjadi dua. Setengahnya ia bawa, dan setengahnya lagi, ia tinggalkan di tempat. Setelah itu, ia keluar dari goa itu, sambil membawa setengah batu emas yang sudah ia belah.


Setelah keluar, ia pun langsung memecahkan batu emas itu. Pecahan batu emas itu menjadi debu keemasan. Lalu Reyhan menyerapnya dengan bantuan Sihir Gelapnya. Lalu ia tersenyum sambil manatap langit.


"Maafkan aku. Karena aku menginginkan Kekuatanmu, Raja Gil." batin Reyhan.


Lalu ia mendengar suara suara langkah kaki dari jauh. Reyhan pun segera melompat ke arah pohon untuk tempat bersembunyi. Reyhan berdiri di tangkai pohon, ia bersembunyi sambil melihat seseorang yang masuk ke dalam goa.


Ya, orang yang masuk ke dalam goa itu adalah dirinya saat berusia 18 tahun. Reyhan melihat dirinya yang masih remaja, tepatnya saat pertama kali bereinkarnasi dan mendapat kekuatan baru. (BAB 02)


Reyhan pergi ke masa lalu.


Ternyata ia juga bisa pergi ke masa lalu. Dengan gabungan darahnya, Sihir Gelap dan Sihir Cahayanya. Ia ingin menggunakan kekuatan Raja Gil lagi.


Karena, ia sangat yakin kekuatan Raja Gil pasti berguna nantinya. Segala cara ia lakukan saat ia ingin pergi ke dunia tempat Putra Bungsunya saat ini. Percobaan pertama, ia menggunakan darahnya, lalu ia gabungkan dengan Sihir Cahaya dan Sihir Gelapnya.


Pada akhirnya ia membuka portal untuk pergi ke masa lalu saat ia remaja. Reyhan pun terkejut, saat ia teringat pertama kali bereinkarnasi sebagai Putra Mahkota. Lalu ia teringat kekuatan yang pernah ia dapatnya.

__ADS_1


Maka dari itu, Reyhan pergi ke masa lalu, untuk menemukan batu emas itu yang entah dari mana munculnya. Dan ia membelah batu emas itu menjadi dua. Yang yang setengah untuknya, dan yang setengahnya lagi untuk dirinya dari masa lalu.


"Tunggulah Reynal. Ayah akan datang untukmu."


Reyhan pun pergi dari tempat itu, ia mencari tempat yang aman untuk membuka portalnya untuk kembali ke masanya, dan setelah itu, ia akan pergi lagi untuk membantu sekaligus menjemput Putra Bungsunya.


*****


Disisi Lain.


Di taman belakang istana. Ada Elena, dan Alice yang bersantai di gazebo. Aland masih belum kembali, ia sedang menemui ayahnya, sang Raja Arlie.


Elena pun bangkit dari duduknya.


Ia berjalan, dan melihat sekelilingnya.


Alice pun juga berdiri, dan mendekati Elena. Terlihat Elena sedang memandangi sekelilingnya.


"Apa yang kau pikirkan Putri Elena ?" tanya Alice.


"Kak Alice, aku merasa tempat ini tak hanya bersantai, tapi juga bisa tempat untuk berlatih." jawab Elena.


Alice menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau akan menikah, seharusnya kau jangan terus berfikir latihan terus."


"Lalu bagaimana denganmu, jika suatu saat kau dan Reynal menikah, apa kau akan menjadi pengawal pribadiku terus ?"


Alice pun terdiam. Lalu ia bersuara. "Entahlah, mungkin akan tetap seperti ini seterusnya."


Elena menatap tajam ke arah Alice. "Kak Alice, tidak selamanya kau akan menjadi pengawal pribadiku. Bila saat nanti Reynal melamarmu...."


Alice memotong ucapan Elena.


"Putri Elena, jangan berbicara tentang hal ini dulu, aku dan Reynal baru memulai hubungan. Aku rasa terlalu jauh untuk membahas hal ini."


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Alice dan Elena terdiam melihat orang itu.


"Ternyata kau disini Alice." ucap Delbert yang datang mendekati adik perempuannya dan gadis pujaannya.


"Kakak ?" sahut Elena.


"Putra Mahkota ?" sahut Alice.


"Kenapa ? Aku hanya datang." ucap Delbert tersenyum sesuatu.

__ADS_1


Tiba-tiba Delbert menaburkan sesuatu kepada kedua gadis itu. Elena dan Alice pun jatuh pingsan. Delbert pun membawa keduanya.


Baginya berat kedua gadis yang ia bawa, tidak ada apa-apanya, karena ia sudah sering latihan membawa beban berat.


Delbert melompat tinggi, ia membawa pergi adik perempuannya dan gadis pujaannya ke suatu tempat, selagi situasinya aman tak ada yang melihat.


.....


Setelah beberapa lama kemudian Delbert menemukan tempat yang aman. Di dalam rumah tua yang sudah tidak ada penghuninya.


Elena dan Alice membuka Matanya. Mereka terbangun, tak lama kemudian mereka berdua teringat dan langsung panik melihat sekelilingnya.


"Kakak, kenapa kau lakukan ini ?" tanya Elena.


"Aku hanya tak suka kau dekat dengan laki-laki asing itu." jawab Delbert.


"Kak, dia adalah temanku." jawan Elena.


"Otakmu mungkin telah diracuni olehnya sepertinya." balas Delbert.


Delbert mendekati Alice yang dari tadi diam. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Delbert.


"Jangan mendekatinya !!"


Delbert berhenti mendekati Alice, ia pun membalikkan tubuhnya. Begitu juga dengan Alice dan Elena, mereka berdua menoleh ke arah sumber suara yang tak asing di indra pendengaran mereka.


Ternyata Aland sudah ada datang, dan ia tak sendiri, di belakangnya, ada Reynal yang juga datang. Delbert tentu saja terkejut. "Bagaimana caranya dia bisa tau tempat ini ?"


Reynal menatap tajam me arah Delbert. Meski marah ia berusaha untuk tetap tenang.


Padahal awalnya ia datang ke istana, dan bertemu Aland yang baru saja bertemu dengan Ayahnya. Mereka pun berjalan bersama menuju taman yang ada di belakang istana.


Namun mereka tak melihat Elena dan Alice. Aland panik. Reynal pun teringat saat ia memberi tanda segel di pundak Alice kemarin. Tentu saja, dengan berteleport ia bisa langsung menemukan Alice, meskipun kondisi tubuhnya tidak seperti biasanya.


Aland pun ikut dengannya.


Pada akhirnya, mereka telah sampai di sebuah rumah kosong. Aland pun tau rumah kosong itu. Tepatnya ada di hutan yang berada di belakang kota.


Elena segera menarik Alice.


Mereka berdua berlari mendekati laki-laki tercinta mereka masing-masing. Delbert tak suka melihat itu.


"Wah, jadi adikku dan calon adik iparku ada dipihak laki-laki asing ini." ucap Delbert.

__ADS_1


Delbert langsung maju dengan gerakan secepat kilat ke arah Reynal. Delbert menyeretnya setelah menyentuh dan memegang leher Reynal.


__ADS_2