Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 153 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


"Aku menyerah." Ucap Reynal sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


Seketika semua penonton terdiam.


Dan akhirnya tersadar secara bersamaan. "HAH ??"


Reynal yang tak ingin menjadi pusat perhatian, ia memilih pergi dari tempat itu. Ia melompat tinggi dan mengeluarkan Api Birunya dari kedua tangan dan kedua kakinya.


Pergi meninggalkan area pertandingan. Tak peduli entah selesainya bagamana, baginya bukan urusannya.


Dikursi penonton, Alice menatap tak percaya tidakan laki-laki itu. Seharusnya jelas menang, tapi memilih untuk kalah. Lalu ia beralih pandangannya ke arah arena.


Terlihat Delber yang sedang berdiri diam di arena. Ia seperti harga dirinya terinjak-injak. Bagaimana tidak, sudah jelas ia akan kalah, tapi sang lawan mengalah dan pergi begitu saja.


Namun, tetap Kasim menyatakan Delbert adalah pemenangnya karena Reynal mengaku kalah dan pergi begitu saja dari arena pertarungan.


.....


Sementara, Disisi Reynal.


Ia tengah terbang dengan Api birunya. Ia akan kembali ke penginapannya. Ia tak ingin berurusan dengan Kerajaan dunia lain.


Ia tau, kalau Delbert akan mempermalukannya dengan cara mengalahkan dirinya. Tapi yang ada ia jauh lebih unggul. Jelas, karena kehebatan sang ayah telah terwariskan padanya.


Reynal telah sampai di bangunan tempat ia menginap. Semua pelayan dan pemilik bangunan sudah tak asing dengan laki-laki itu. Yang seenaknya pergi datang di lantai atas bangunan tempat kerja mereka.


"Selamat datang kembali tuan." sambut salah satu Elf perempuan cantik bernama Hana.


Reynal tersenyum dan mengangguk kepalanya.


"Apa tuan ingin makan ?" tanya Hana.


"Ya, disiapkan saja dulu, seperti biasa pesanannya, aku akan kembali kesini setelah mandi." ucap Reynal dan berlalu.


Hana pun segera menjalankan tugasnya sebagai pelayan. Dia sudah paham kebiasaan laki-laki itu. Karena sang pemilik tempat kerjanya meminta kepada semua pegawainya untuk melayani Reynal dengan baik


Reynal, yang sudah tak asing di tempat itu, selalu membalas sapaan para pelayan yang lewat, entah perempuan atau laki-laki. Ia tak membeda-bedakan hal itu.


Reynal melepas semua zirah, pakaian yang menempel pada tubuhnya. Dirinya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


.....


Setelah selesai, ia telah memakai pakaian yang biasa saja seperti rakyat umumnya. Namun pakaian, terlihat seperti pakaian sekelas Bangsawan. Reynal telah selesai persiapan, ia keluar dari kamar. Semua pelayan sudah hafal kebiasaan laki-laki itu.


Laki-laki itu berjalan ke lantai paling atas. Elf perempuan bernama Hana, menyambutnya. "Makanan untuk tuan sudah siap."

__ADS_1


"Baik, terima kasih, Hana." balas Reynal.


Hana tersenyum dan mengangguk dan pergi meninggalkan laki-laki itu untuk menikmati makanannya. Reynal memulai memakan makanannya sambil menikmati pemandangan kota Kerajaan dari atas bangunan itu.


Setelah selesai makan dan minum, ia masih diam di tempat duduknya. Reynal masih memikirkan kejadian tadi, saat bertarung dengan Delbert. Ya laki-laki yang ia benci.


Entah, apa yang dipikirkan Reynal. Tak peduli keadaan laki-laki itu dan pertarungan yang ia tinggal begitu saja. Menjadi pusat perhatian, ia tak suka.


Tak terasa hari telah sore.


Lalu Reynal bangkit dari duduknya. Ia berjalan menjauhi meja makannya untuk kembali ke kamar penginapannya. Tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang.


Beruntung, Reynal masih bisa mengimbangi tubuhnya, sehingga ia tak jatuh. Ia membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah menabraknnya.


Terlihat laki-laki dengan pakaian yang cukup sangat berkelas. "Kau jangan menghalangi jalanku. Dasat orang miskin."


Reynal tersenyum. "Aku tak menghalangi jalanmu, hanya saja matamu telah buta."


"Apa kau bilang ?" teriak orang itu.


Akibat teriakan orang itu, semua orang yang tengah makan pun menoleh ke orang itu dan ke arah Reynal. Bahkan beberapa pelayan pun juga sama menoleh ke 2 orang itu.


"Aku bilang, matamu telah buta." jawab Reynal santai.


Orang itu menarik pedangnya. "Kubunuh kau."


"Apa maksudmu ?" sahut laki-laki itu bertanya.


Wsst !!


BUGH..!!


Reynal menghilang, lalu ia muncul dan langsung memukul punggung orang itu hingga jatuh.


Bruukk..!!


Reynal melompat dan jatuh di punggung orang itu yang belum sempat untuk bangun.


"Turun dari punggungku !!" ucap orang itu.


Reynal tak menjawab, ia memukul keras ke orang itu.


BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!!

__ADS_1


"Ampun, maafkan aku tuan, aku mengaku salah yang telah menabrakmu." ucap orang itu di sela-sela Reynal memukulnya.


Reynal berhenti memukul orang itu. Ia berdiri, dan berjalan meninggalkan tempat begitu saja dan peduli dipandangan oleh semua orang.


Laki-laki itu berjalan kembali ke kamar penginapannya. Reynal merebahkan tubuhnya di kasur. Ia pun menutup kedua matanya untuk tidur dan lupakan sejenak kejadian yang menimpanya hari ini.


.....


Keesokan Harinya, Pada Siang Hari.


Disisi Lain, di dalam istana Kerajaan Dorothy. Terlihat Raja Dorothy tengah membagikan hadiah kepada para peserta yang menang dalam mengikuti acara pertandingan.


Acara pembagian hadiah berjalan hingga selesai. Putra Mahkota Delbert terlihat diam saja, ia tidak banyak bicara. Tak seperti biasanya yang selalu bersemangat.


Raja Dorothy dan Permaisuri Ella tau kalau Putra mereka yang hatinya sedang dalam suara tal enak setelah kejadian yang kemarin.


.....


Disisi Lain.


Alice dan Elena tengah berduduk santai di taman, tepatnya di belakang istana. Dibelakang istana terdapat taman serta dengan kolam ikannya.


Mereka duduk santai di gazebo.


Mereka memilih ke tempat itu setelah acara pertandingan dan acara pembagian hadiah selesai.


"Aku tak menyangka kalau kakakmu menantang Reynal di hari ulang tahunnya." ucap Alice.


"Seperti yang kak Alice tau, kakak laki-lakiku memang selalu berbuat seenaknya. Tapi setelah itu, ia malu sendiri." kata Elena.


Alice tak menjawab, ia tau kalau Elena tengah khawatir pada Delbert. Meski kakak beradik itu tak terlihat kompak, tapi rasa peduli dan kasihan sesama suadara kandung itu, selalu ada.


"Apa kita sebaiknya jalan-jalan ke Luar, dan pergi ke Hutan dan latihan." ucap Elena.


"Tidak, aku tak ingin kau berbuat kebodohan lagi." balas Alice.


Tak menjawab, Elena pergi dari temat itu. Alice menghela nafasnya, ia mengira kalau Elena marah padanya. Alice memilih tetap duduk dan diam di tempatnya.


Beberapa lama kemudian.


Elena datang. Ia berjalan mendekati Alice. "Kak Alice, ayo kita berangkat."


Alice terbelalak. Ia mengira kalau gadis ini pergi karena marah padanya. Ternyata dia hanya pergi hanya untuk mengambil perlengkapannya, dan pedang besarnya telah menggantung menempel di punggungnya.


"Hei !! Apa kau tidak lelah ? Kita baru saja selesai mengikuti acara pertandingan, dan sekarang kau mengajakku pergi." ucap Alice tak percaya dengan gadis yang dihadapannya.


"Kalau kak Alice tak mau, ya sudah. Aku akan pergi sendirian." balas Elena, sambil berlari, dan melompat tinggi meninggalkan Alice begitu saja.

__ADS_1


Alice pun segera bangkit dari duduknya, dan pergi menyusul Elena. Ia takkan membiarkan gadis itu pergi sendirian di hutan.


__ADS_2