
_______________________________________
"Apa kalian sedang membicarakan aku ?"
Alice terbelalak mendengar suara yang tak asing yang ia dengar. Dirinya dan Delbert membalikan tubuhnya. Mereka berdua menatap Reynal yang tengah berdiri di dekat mereka dengan tatapan dingin miliknya.
Alice menelan salivanya, entah kenapa dia seperti orang yang sedang ketahuan bersembunyi. Karena telah membicarakan laki-laki itu dengan Delbert. Seketika teringat hari sebelumnya, yang menimpa kepada Elena.
Sedangkan Delbert, ia tersenyum menang, karena ia telah berada di samping gadis puasnya. Senyuman Delbert perlahan memudar karena melihat reaksi Reynal tak menunjukan rasa cemburu, seperti dirinya sebelumnya.
"Aku memang orang asing, tapi aku paling tidak suka ada orang yang membicarakanku di belakangku." ucap Reynal dingin.
Tiba-tiba terdengar suara 2 perempuan mendekat. Alice membeku, karena Elena dan Permaisuri Ella mendekat, berarti keperluan mereka di toko pakaian telah selesai.
"Hai, Reynal, kau ada disini ?" Permaisuri Ella menyadari kehadiran laki-laki itu.
Reynal tak menjawab, ia hanya tersenyum lalumengangguk kepalanya. Alice terdiam, ia masih tak berani berkata apa-apa Sedangkan Elena terdiam, lalu ia perlahan bersembunyi dibalik tubuh ibunya.
Tubuh Elena sedikit gemetaran ketakutan, tapi ia berusaha untuk mengontrol dirinya agar ibu dan kakak laki-lakinya tidak menyadarinya. Jika mereka sampai tau, masalah takkan selesai.
Menyadari laki-laki itu bukanlah laki-laki biasa, Elena berharap semoga tidak terjadi pada keluarganya. Anda saja mulutnya bisa terjaga, semua takkan seperti ini. Ingin sekali meminta maaf, tapi tak berani.
"Kau mau apa kemari ?" tanya Delbert.
"Apa salah kalau aku sedang jalan-jalan disini ? Bukankah ini tempatnya para rakyat biasa ?" ucap Reynal bertanya.
"Tapi perlu kau ingat, kau hanyalah orang asing disini wilayah Kerajaanku." jawab Delbert, Alice dan Elena menelan salivanya, mereka takut jika Delbert terus mengejeknya.
Reynal tersenyum kecut. "Ini masih wilayah Kerajaan ayahmu. Masih jadi Putra Mahkota, sikapmu tidak mengenakkan didengar. Aku jadi ragu saat dirimu menjadi Raja." balas Reynal santai, lalu ia berjalan melewati mereka semua.
Ketiga perempuan itu hanya diam. Elena dan Alice bernafas lega karena laki-laki tidak berbuat yang tidak-tidak. Permaisuri Ella manatap kepergian Reynal.
"Alice, ada apa dengannya ?" tanya Permaisuri Ella.
"Aku tak tau Yang Mulia." jawab Alice.
"Apa dia sudah tak menginap di rumahmu ?" tanya Permaisuri Ella.
Alice mengangguk kepalanya. "Benar Yang Mulia, dia sudah menemukan tempat penginapan untuknya sendiri."
__ADS_1
"Ya, mungkin lebih baik seperti itu. Tak baik jika ada seorang laki-laki asing dan seorang gadis tinggal di satu rumah." kata Permaisuri Ella.
Delbert tersenyum, karena laki-laki itu telah menjauhi gadis pujaannya. "Benar, itu tak pantas. Lebih baik seperti itu."
"Kenapa kau terlihat senang ?" tanya Permaisuri Ella kepada putranya.
"A-aku senang, karena laki-laki asing itu menjauhi orang terdekat kita." jawab Delbert sambil menutupi rasa gugupnya, mana mungkin dia mengatakan dirinya senang kalau laki-laki itu telah menjauhi Alice.
Tentu saja ia senang, karena dengan menjauhnya Reynal, Delbert bisa terus memiliki kesempatan untuk mendapat hati gadis pujaannya.
"Meski dia orang asing, setidaknya jagalah segala ucapanmu dan perilakumu." balas Permaisuri Ella.
"Aku begini karena dia orang asing, ibu. Bisa saja dia adalah orang jahat yang menyamar." jawab Delbert.
"Justru itu, dengan sikapmu yang tak baik padanya. Jika terus seperti itu, itu bisa membuatnya benci padamu. Hingga akhirnya kesabarannya habis, dan rasa benci itu membuat sisi jahatnya muncul, dan membahayakanmu." balas Permaisuri Ella memperingati.
DEG.
Elena membeku. Benar, yanh dikatakan oleh sang ibu. Dia telah mengatakan tak mengenakan pada laki-laki itu. Mungkin saat itu ia telah membuat Reynal kehabisan kesabarannya.
Disisi Alice, ia melihat Elena terdiam, ia sudah tau isi pikiran gadis itu. Tapi entah kenapa, Alice merasa bimbang, ingin berada disisi Keluarga Kerajaan yang telah mengangganya keluarga. Atau berada disisi Reynal.
"Sudahlah, lupakan, ayo kita pulang saja." kata Delbert.
.....
Tempat Lain.
Seorang pria tengah berjalan dihutan. Ia mengenakan jubah hitam berbulu. Jubah berbulu itu buatannya dari kulit hewan bebulu yang pernah ia temui.
Pria itu sudah lama berjalan semenjak awal kedatangannya di dunia yang ia tempati saat ini. Namun ia masih belum menyadari kalau dirinnya benar-benar berpindah dunia.
Kadang selama ini, ia mengoceh tak jelas. Karena semua yang ia temui sungguh berbeda-beda. Ingin mengadu, tapi mau mengadu dengan siapa.
Sudah dari kemarin semenjak turun dari elang aneh, ia tersesat di hutan. Yang jelas hutan apa itu dia pun tak tau. Sudah banyak hewan-hewan aneh yang datang menyerangnya.
"Tempat sialan apa ini !?!?" teriaknya.
Jian Heeng sudah tak habis pikir, kenapa bisa ia terlempar ke tempat yang asing di matanya.
__ADS_1
"Siluman apa lagi itu ?" ucapnya, saat melihat sekelompok mahluk seperti manusia, tapi bertubuh kecil dan berwarna hijau.
Ya, sekelompok mahluk itu adalah goblin. Jian Heeng belum tau apa mahluk yang disebut goblin itu. Seperti kita tau, karena dia seorang diri, dan tak punya pemandu perjalanannya, seperti keponakannya. 😂
Akhirnya, ia pun mulai bertarung dengan sekumpulan goblin itu, di hutan.
.....
Disisi Lain.
Reynal sudah berada di penginapannya, ia membaringkan tubuhnya untuk tidur setelah mandi membersihkan membersihkan diri.
Ia melamun. Pikirannnya mencari cara agar bisa pulang kembali ke dunia asalnya. Tapi ia juga harus bisa menemukan pamannya.
Tiba-tiba pikirannya membayangkan wajah cantik Alice. Kemudian ia teringat pertemuannya tadi saat di ia jalan-jalan fi kota Kerajaan.
Awalnya ia hanya mencari makan untuk menghilangkan rasa lapar perutnya. Tak disangka saat pulang, ia bertemu dengan gadis yang selalu terbayang-bayang di kepalanya.
Namun hatinya terasa sesak saat Alce tengah berbicara dengan Putra Mahkota. Entah kenapa dia tak suka hal itu.
"Ada apa dengan diriku ?"
Kemudian ia teringat saat ia duduk santai bersama Reyval, kakak laki-lakinya. Dimana Reyval menceritakan saat awal pertemuannya dengan Xianlun, yang kini sudah menjadi istrinya.
Reyval_"Dia memang cantik. Tapi bukan itu yang bikin aku tertarik padanya."
Reynal_"Lalu apa ? Padahal sikapnya dingin, bertolak belakang denganmu, kak."
Reyval_"Aku tak tau, tapi saat melihatnya membuatku dadaku berdebar-debar. Wajah cantiknya selalu muncul di pikiranku."
Reynal terkekeh_"Kau berlebihan."
Reyval_ "Apa aku sedang jatuh cinta ?"
Reynal_ "Aku tak tau, aku masih belum tertarik pada perempuan."
Reyval_ "Ya, karena kau selalu bersikap dingin dan tak peduli kepada Putri-Putri dari Kerajaan lain yang mencoba mendekatimu."
Reynal tersenyum, mengingat saat dirinya berbicara dengan kakak laki-lakinya mengenai perempuan.
__ADS_1
Senyumannya pun memudar. Ketika mengingat kembali kejadian kemarin. Perlakuan kejamnya pada Elena, dan membuat Alice takut padanya.
Reynal menghela nafasnya. "Sadarlah, aku bukan dari dunia ini."