
_______________________________________
Reynal sedikit menjauhi dari Alice. Ia pun membuang pikirannya yang entah kemana. Setelah menemukan temat yang pas, ia segera duduk di duduk tanah, dan besender di pohon.
Jaraknya dengan Alice, tidak jauh hanya terhalang beberapa pohon. Suasana hening, hari sudah malam. Hanya api unggun yang menerangi sekitar mereka.
Reynal yang belum tidur, pikirannya tiba-tiba membayangkan gadis cantik yang bersamanya saat ini. "Kenapa pikiranku jadi begini ?"
Reynal memenjam kedua matanya untuk tidur. Sementara disisi Alice, ia masih berjaga, ia khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Terutama pada laki-laki yang sedang sedikit menjauhinya.
Tapi disamping itu ada rasa senang karena bisa berdua dengan Reynal. Alice sedikit tersenyum. Namun senyumannya memudar karena teringat kejadian beberapa saat sebelumnya.
"Dasar laki-laki mesum."
Kedua matanya sudah tak tahan. Ya, karena ia sudah mengantuk berat sekaligus lelah, akhirnya Alice tertidur. Sedangkan Reynal, ia pun juga sudah tertidur.
.....
Hari sudah pagi.
Reynal bangun dari tidurnya. Ia bangkit, dan segera mencari air sungai yang terdekat. Setelah menemukannya, ia segera membasuh wajahnya.
"Segar sekali airnya."
Setelah selesai kegiatannya, laki-laki itu memilih kembali. Ia melihat Alice yang baru saja bangun. Sungguh pemandangan langka bagi Reynal.
Alice bangun dari tidurnya. Ia duduk, seakan sedang mengumpulkan nyawa. Terlihat ia sedang menarik nafasnya. Lalu ia melihat sekelilingnya. Dan pandangannya melihat Reynal yang juga sedang memandangnya.
Alice tersadar, ia langsung berdiri. "Kenapa kau menatapku ?"
Reynal tak menjawab, ia langsung membuang mukanya. Ia berjalan manjauhi gadis itu. Alice hanya mamandangnya dengan tajam. "Kenapa dia selalu memandangku seperti itu ?"
Alice segera pergi mencari sungai yang terdekat untuk mandi membersihkan dirinya. Seperti biasa sebelum mulai mandi, ia melihat sekelilingnya aman tau tidak.
Beberapa lama kemudian, ia telah selesai. Setelah selesai ia kembali ke tempatnya. Terlihat Reynal yang sedang membakar sesuatu.
"Apa yang kau lakukan ?" tanya Alice.
"Aku sedang membuat sarapan untuk kita." jawab Reynal.
Alice menatap sebuah daging yang sedang dibakar oleh laki-laki itu. Aromanya benar-benar menggoda. Kebetulan perutnya sudah minta diisi.
Mata Alice tertuju salah satu bungkusan kantong di dekat laki-laki itu. Saat diteliti lebih dekat, ternyata itu adalah bumbu dan rempah-rempah untuk memasak.
"Di saat seperti ini, kau juga membawa bahan untuk memasak ?" tanya Alice.
"Aku selalu membawanya ketika sedang berpergian." jawab Reynal yang fokus membakar daging hewan buruannya.
Tak lama kemudian, laki-laki itu telah selesai membakar dagingnya. Tak lupa Reynal telah menyiapkan daun pohon pisang yang baru sebelumnya. Lalu ia menaruh daging bakarnya ke daun itu.
"Ayo kita makan." ajak Reynal.
__ADS_1
Alice tak menjawab, tapi ia mendekat, dan duduk. Akhirnya ia makan makanan buatan Reynal.
.....
Reynal dan Alice selesai dengan makan mereka. Reynal duduk sejenak, begitu juga dengan Alice. Perut mereka berdua benar-benar sudah kenyang.
"Masakanmu enak." ucap Alice, Reynal meresponnya dengan tersenyum.
"Dari mana kau mendapatkan daging itu ?" tanya Alice.
"Aku mendapatkannya saat berburu." jawab Reynal.
"Kapan kau berburu ?" tanya Alice hera perasaan ia tak melihat laki-laki itu pergi berburu.
"Saat kau pergi mandi tadi." jawab Reynal santai.
Seketika Alice menyilang kedua tangannya untuk menutupi dadanya. "Kau mengintipku mandi ?"
"Tentu saja tidak." ucap Reynal.
"Kenapa kau bisa tau aku mandi tadi ?" tanya Alice.
"Aku hanya menebak, aku melihat rambutmu yang terlihat sedikit basah." jawab Reynal.
Alice bernafas lega. Sedangkan Reynal ia berusaha untuk tetap tenang dan santai. Sejujurnya ia tak sengaja melihat gadis itu mandi.
Karena saat ia berhasil mendapat hewan buruannya. Ia segera pergi ke sungai untuk memotong dan membersihkan daging hewan buruannya. Dan disitulah ia tak sengaja melihat Alice yang tengah mandi.
Tak ingin khilaf, ia segera mencari arus sungai bagian lain untuk hewan buruannya.
"Entah, sejeni kelinci mungkin, tapi ia memiliki tanduk." jawab Reynal.
Alice mengernyit dahinya. "Kelinci bertanduk ?"
"Mungkin." sahut Reynal.
"Warnanya ?" tanya Alice.
"Warna tanduknya merah." jawab Reynal.
Alice terbelalak. "Sekarang kau kemanakan tanduknya ?"
"Sudah kubuang." jawab Reynal santai.
"Kau membuangnya ?" tanya Alice terkejut.
"Ya, aku membuangnya saat memotong dan membersihkan dagingnya." jawab Reynal santai.
"Bodoh !!" ucap Alice.
"Kenapa kau membuang tanduknya ? Itu bisa dijual, apalagi warnanya merah, pasti harganya sangat mahal jika dijual." lanjutnya.
__ADS_1
Reynal mengangguk-angguk kepalanya. "Begitu ya. Ya sudahlah, lupakan. Sudah terlanjur terbuang."
Alice tak habis dengan laki-laki itu. "Kau membuangnya dimana ?"
"Di sungai." jawab Reynal.
"Sungai ?" sahut Alice heran.
Alice pun tersadar sesuatu. "Kau membesihkan daging di sungai saat aku mandi ? Berarti kau melihatku."
Reynal berusaha tetap tenang, ia takkan mau berkata jujur jika dirinya benar-benar tak sengaja melihat gadis itu mandi.
"Apa perlu 'ku kasih tau, aku tak melihatmu di sungai. Apa kau tak ingat, kau berjalan ke sana, secara kau ke bagian arus sungai yang di sebelah sana." ucap Reynal sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.
Lalu Reynal menunjuk arah lain. "Sedangan aku, berburu disana. Berarti aku berjalan ke sungai sana."
Alice pun berfikir. "Ada benarnya juga."
Reynal bernafas lega, karena dirinya benar-benar tak sengaja melihat Alice sedang mandi tadi.
"Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita." ucap Reynal.
Alice tak menjawab, tapi ia mengangguk kepalanya seakan ia mengiyakan ucapan laki-laki itu.
.....
Reynal dan Alice melanjutkan pencariannya. Alice berada di depan Reynal yang mengikutinya di depan.
Mereka berlari dan melompat-lompat dari pohon ke pohon. Reynal hanya diam dan setia mengikuti gadis itu entah terus maju kemana.
Tapi sepertinya gadis itu cukup paham dengan jalan yang mereka lewati. Jika dilihat Alice sepertinya sudah terbiasa dengan jalan yang dia lewati.
Ya, Alice hampir setiap minggu selalu seperti itu. Karena Elena yang suka pergi semaunya. Hingga Alice hafal dengan jalan itu.
Saat tengah fokus dengan perjalanan mereka, tiba-tiba terdengar suara ribut di telinga mereka.
"Apa kau mendengar apa yang kudengar ?" tanya Alice sambil berlari, dan kepalanya sedikit menengok ke belakang.
"Ya, aku mendengarnya. Suara seperti sedang beradu pedang." jawab Reynal.
Alice mengangguk kepalanya. "Ayo, kita medekat."
Alice melompat tinggi ke arah salah satu pohon besar dan tinggi, begitu juga disusul Reynal. Mereka berdua berdiri di tangkai pohon yang besar.
Ditempat mereka, Alice dan Reynal berdiri bersebelahan. Itupun membuat jantung Alice berdebar-debar di samping laki-laki itu. Tapi ia harus bisa setenang mungkin.
Ditempat tangkai pohon yang besar, tempat Alice dan Reynal berdiri, mereka melihat seorang gadis yang tak sing di mata mereka berdua.
Alice menatap tajam ke arah gadis itu. "Sudah kuduga. Aku pasti menemukanmu yang selalu berbuat seenaknya."
Ya, gadis itu yang tak lain adalah Elena.
__ADS_1
Elena sedang bertarung dengan seorang asing. Orang asing itu seperti seorang pria dewasa, dan mengenakan jubah hitam.
Reynal terbelalak melihat pria dewasa itu.