
_______________________________________
"Alice." guman Reynal.
Tak hanya Reynal saja yang terkejut melihat perubahan sosok Alice. Reynal mencoba mendekat, tapi Reyhan langsung memegang pundaknya.
"Jangan mendekatinya !" ucap Reyhan menghalangi putranya, agar waspada.
"Ayah, jangan menghalangiku."
Reynal menepis tangan ayahnya, ia berjalan maju.
Namun ternyata, Delbert sudah ada di dekatnya Alice, Reynal tak peduli, ia harus menyingkirkan Delbert dari kekasihnya.
"Alice !!" panggil Reynal saat sudah berdiri di balalang Delbert.
Alice tak merespon, ia hanya memandang Delbert. Namun pandangannya dingin.
Delbert melirik ke arah Reynal sambil tersenyum. "Dalam kondisi seperti ini, Alice takkan memandangmu."
Reynal melotot ke arah Delbert. Lalu pandangannya beralih ke kekasihnya. "Alice, apa kau mendengarku."
Alice tak menjawab, ia masih memandang Delbert dengan tatapan dinginnya. Reynal pun memanggilnya lagi. "Alice !!"
Masih saja tak menjawab. Delbert tersenyum menang, lalu ia mendekati Alice yang masih belum mendaratkan kakinya di tanah.
Delbert sudah sangat dekat dengan Alice. Ia pun mengulur tangannya. Alice pun juga menggerakkan tangan kirinya. Delbert sudah tersenyum menang.
Reynal yang melihatnya hanya memandang tak percaya. Lalu ia mengernyit dahinya. Alice tak membalas uluran tangannya Delbert. Melainkan mengibasnya.
Lalu Delbert terdorong kebelakang setelah Alice mengibaskan tanganya. Reynal tak menyangka ternyata Alice menolak uluran tangan Delbert. Lalu ia mencoba mendekat.
Reynal tak menggubrisnya. Ia tetap mendekati kekasihnya. Reynal sudah berdiri dihadapan Alice. Ia pun memanggilnya lagi.
"Alice, apa kau mendengarku ?" tanya Reynal sambil menatap dalam-dalam kekasihnya.
Alice tetap tak menjawab, namun matanya memandang Reynal. Tak ada ekspresi di wajahnya. Wajahnya tetap dingin. Namun ia mendaratkan kakinya di tanah.
Lalu tangannya mengelus lembut pipi Reynal. Tapi tatapannya tetap dingin, tak ada ekspresi saat menatap laki-laki di depannya. Reynal pun memegang tangan Alice.
Perlahan Alice menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Reynal. Alice pun kembali terbang ke udara dan menjauhi Reynal.
__ADS_1
Tatapan Alice memandang ke arah semua prajurit yang masih tersisa. Alice pun terbang dan menyerang semua prajurit itu. Tanpa Ampun Alice menyerang semuanya.
"Aaaagggrrrrhhh !!"
Semua teriakan dari setiap prajurit. Dan kesadisan Alice membuat kaki Raja Dorothy gemetar hebat. Ternyata ia telah membuat kesalahan. Yang awalnya ingin menangkap Alice, namun sekarang gagal sudah.
Ternyata rencana yang ia buat malah memicu sisi lain dari Alice. Raja Dorothy pun segera melarikan diri, tak peduli yang ia tinggal yang terpenting ia harus menyelamatkan nyawanya.
Ditambah bukan hanya Alice yang menjadi ancaman, tapi keberadaan Reyhan juga salah satu ancaman untuknya. Raja Dorothy cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Dan Delbert ditinggalkan. Ia dalam kondisi tak sadarkan diri setelah tubuhnya terdorong akibat kibasan tangan Alice dan tubunya menghantaman sebuah batu besar.
Alice telah selesai membantai semua prajurit yang ada. Alice pun kembali ke tempatnya dan mendaratkan kakinya di tanah. Reyhan masih berjaga-jaga. Karena ia merasa hawa membunuh dari Alice.
Reynal berjalan mendekati Alice. Alice mengarahkan tanganya ke arah Reynal, seakan menandakan menyuruh Reynal jangan mendekat.
Reynal heran. Tapi ia tetap mendekati kekasihnya. Ia tak peduli Alice yang memintanya untuk jangan mendekat.
"Reynal, jangan mendekat."
Bukan Reyhan yang mengatakannya. Alice sendiri yang bersuara, dengan terkesan dingin didengar.
"Alice." panggil Reynal.
Mata Reynal melebar mendengar ucapan Alice. "Ada apa denganmu ?"
Alice kembali terbang. "Lupakan aku."
"Tidak !! Apa alasanmu menyuruhku untuk melupakanmu !!??" Reynal berteriak, karena Alice perlahan terbang tinggi.
"Karena Ras kita berbeda." jawab Alice, wajahnya masih datar memandang Reynal.
Tapi di ujung sudut matanya, terlihat Air yang mengalir, dan Reynal melihatnya. Alice pun terbang dan pergi meninggalkan semuanya.
Reynal terdiam, lalu kedua kakinya melemas dan membuatnya berlutut di tanah. Ia masih tak mengerti, kenapa Alice memintanya untuk melupakannya ? Apa alasannya ? Berbeda Ras ? Apa maksudnya ?
Reyhan berjalan mendekati Putranya. Ia berdiri di belakang Putranya yang masih melututkan kedua lutut kakinya di tanah. Reyhan pun memegang pundak Putranya.
Sesuai dugaan, Putranya tengah menangis. Reyhan hanya menghela nafasnya. Ia memberi kesempatan kepada Putranya untuk menangis. Reyhan menjauh dan berjalan mendekati Putrinya.
"Ayah, apa Reynal baik-baik saja ?" tanya Reynalda.
"Kita kasih dia waktu dulu." jawab Reyhan.
__ADS_1
Mata Reyhan memandang Delbert yang masih tak sadarkan diri.
"Reynalda, jagalah Reynal, ada yang ingin ayah lakukan." ucap Reyhan dan langsung berlalu.
Reynalda berjalan mendekati saudara kembarnya. Reynalda memutar bola matanya. Tak menyangka, baru kali ini ia melihat saudara kembarnya sedang mengeluarkan air matanya.
Disisi Reyhan, ia berjalan mendekati Delbert yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Lalu ia mengeluarkan rantainya dari cahaya portalnya. Lalu ia gunakan untuk mengikat Delbert.
Selesai sudah. Reyhan pun menyeret Delbert pun terbangun karena merasa tak nyaman pada tubuhnya. Reyham pun memukul tengkuk lehernya dan membuat Delbert pingsan kembali.
Reynal sudah tenang setelah Reynalda berhasil menghiburnya. Mereka berdua mendekati Reyhan yang sedang menyeret Delbert.
Reynal Ingin sekali menendang kepala Delbert, namun Reyhan melarangnya. Reyhan pun membawa Reynal dan Reynalda dengan teleportnya. Delbert yang dalam kondisi terikat dan tak sadarkan diri pun juga ia bawa.
.....
Keesokan Harinya.
Hari sudah pagi. Semua orang telah selesai dengan membersihkan dirinya mereka masing-masing. Tak lupa mereka semua sarapan untuk mengganjal perut mereka.
Sebuah bangunan rumah sederhana di dekat perkebunan. Tepatnya di pinggiran kota. Rumah itu sebelumnya pernah Reyhan kunjungi lalu ia membelinya.
Dan entah kebetulan atau takdir, akhirnya rumah yang ia beli berguna. Dan sekarang rumah itu ia gunakan untuk menginterogasi seseorang, siapa lagi kalau bukan Delbert.
Tak lama kemudian, Delbert membuka matanya. Perlahan ia mengumpulkan kesadarannya. Tubuhnya merasa tak nyaman. Setelah memastikan pandangannya, Delbert terkejut.
Ia dalam posisi terikat di kursi kayu. Kedua tangan dan kedua kakinya juga terikat. Delbert berusaha untuk berontak, tapi tetap saja, usahanya sia-sia. Ikatan rantai yang mengikatnya sangat erat.
Semakin bergera, ikatan rantai yang mengikatnya semakin erat dan membuatnya semakin sakit. Delbert pun akhirnya terdiam dan tak untuk bergerak.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Terlihat sosok salah satu pria yang Delbert tak sukai. Reyhan berjalan mendekatinya. Delbert memandangnya dengan tatapan benci.
Reyhan tersenyum melihatnya. Lalu ia mengeluarkan belati dari pakaiannya. "Jawablah setiap pertanyaan yang akan kutanyakan."
"Kau menakutiku ?" tanya Delbert meremehkan.
Reyhan masih tersenyum. "Tidak, aku hanya merasa senang saja. Karena sudah lama aku tak bermain."
"Bermain ?" sahut Delbert mengerut dahinya.
"Jawab pertanyaanku, siapa Alice ? Kau pasti tau." ucap Reyhan.
"Ck, aku takkan member... aaaagggrrrrhhh...!!" jawab Delbert yang dipotong teriakannya sendiri.
__ADS_1