Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 148 | Season 2.2


__ADS_3

_______________________________________


Setelah selesai dengan kegiatannya, laki-laki itu berdiri. Ia berdiri sambil menatap dingin ke arah gadis yang baru saja ia mainkan. Alice merosot duduk di tanah ia melihat pemandangan mengerikan.


Gadis yang sudah ia anggap sebagai adik, kini tergeletak tak berdaya dengan luka-luka tusukan pedang di tubuhnya. Ia menatap takut ke arah Reynal. Laki-laki masih berdiri di samping tubuh Elena yang sudah bersimbah darah.


Tatapan laki-laki itu dingin, seakan ia benar-benar berniat membunuh Elena. Alice ingin sekali berdiri, dan memberi balasan untuk Elena. Tapi, entah kenapa kakinya tak bisa ia gerakan. Ia masih saja duduk tak berdiri.


Dalam hatinya ia tak menyangka kepada Reynal. Laki-laki itu bisa berbuat sadis. Laki-laki yang baru ia kenal sekaligus membuat jantungnya berdebar-debar telah berbuat yang tak mengenakkan di depan matanya.


Padahal ia mendengar sendiri di indra pendengarannya, suara Elena meminta mohon ampun saat tubuhnya ditusuk-tusuk pedang oleh Reynal. Elena meminta ampun kepada laki-laki itu.


Kini Elena sudah tak sadarkan diri dan tubuhnya bersimbah darah. Tubuhnya terluka parah. Alice menduga, Elena sudah pasti tewas, ia tak bisa menolongnya. Pemandangan yang ia lihat sangat-sangat menakutkan.


Terlihat Reynal menghilangkan pedang metah darahnya. Setelah itu, terlihat laki-laki itu berlutut, salah satu tangannya menyentuh tubuh Elena, terlihat Reynal memenjam kedua matanya. Alice segera bangkit, ia takut jika tubuh Elena diapa-apakan oleh laki-laki itu.


Alice berlari mendekati Reynal. Tapi tiba-tiba keluarlah cahaya yang menyelimuti tubuh Elena. Alice berhenti berlari, tapi dengan perlahan berjalan mendekatinya. Setelah ia sudah dekat, cahaya itu perlahan menghilang.


Alice melihat Reynal yang sudah berdiri sambil menatap Elena yang masih tergeletak di tanah. Alice mendekat tubuhnya Elena, ia sudah membayangkan tubuh Elena penuh dengan luka tusukan pedang. Ingin sekali marah dan membalas kepada laki-laki itu, tapi ia sadar, dia bukanlah tandingannya.


Alice terpaku setelah melihat kondisi Elena. "Bagaimana mungkin ?"


Tubuh Elena sudah bersih dari luka, terlihat jelas dari pakaiannya yang dikenakan gadis itu. Seharusnya ada luka, tapi benar-benar bersih. Alice menoleh ke arah Reynal yang sudah berjalan menjauh.


Alice merasa bingung kepada laki-laki itu. Kenapa laki-laki menyembuhkan luka pada gadis yang sudah ia lukai ? "Aku tak isi pikirannya."


Alice masih melihat Reynal berjalan. Lalu tiba-tiba laki-laki itu lompat tinggi, dan mengeluarkan Api Biru dari kedua tangannya dan kedua kakinya. Alice terkejut melihat aksi Reynal. Laki-laki itu terbang dilangit dan menjauhinya.


Reynal pergi tanpa mengucap apapun padanya. Alice terdiam, lalu tersadar, ia harus membawa Elena ke rumahnya. Keadaan Elena, belum sadarkan diri, mungkin tidur. Lalu ia mentidurkan Elena di kamarnya.

__ADS_1


Hari sudah malam. Elena masih belum bangun. Alice berharap keluarga Kerajaan tidak khawatir pada Putrinya yang tidak pulang. Tapi Alice bersyukur, karena Elena memang sering menginap di rumahnya, jadi kemungkinan keluarga Kerajaan sudah biasa hal itu.


.....


Alice sudah selesai dengan bercerita. Sedangkan Elena hanya diam duduk di kasurnya. Kini isi pikirannya harus berjaga-jaga pada sosok Reynal.


"Aku harap, kejadian kemarin jangan sampai keluargaku mengetahuinya, kak." ucap Elena, Alice mengangguk kepalanya.


Karena saat di tempat kejadian, Elena merasakan aura kegelapan pada diri Reynal. Sebenarnya tak hanya dia saja, Alice pun juga merasakannya.


Tapi Alice hanya bisa berharap, semoga keluarga Kerajaan tidak mencurigai apapun tentang kejadian yang menimpa pada Elena. Disisi sekarang ia tak ingin Elena teluka, tapi disisi lain, ia tak ingin Reynal dijadikan buronan.


Jika itu terjadi, kemungkinan besar, Kerajaan Dorothy hancur jika menangkap Reynal. Disini Alice dan Elena mulai menyimpulkan jangan mencoba membangunkan sisi gelap dari laki-laki itu.


"Jadi, sekarang bisakah kakak, mengantarku pulang ?" tanya Elena.


"Tentu, tapi kita sarapan dulu." jawab Alice, Elena tersenyum dan mengangguk kepalanya.


.....


Terlintas dipikirannya, tak ada salahnya jika mengajak kuda terbangnya keluar dari kandangnya untuk menghirup udara segar.


Beberapa saat lama, akhinya mereka telah sampai di istana. Ya, mengunggunakan kuda terbang lebih cepat dari pada berjalan kaki.


Kuda terbang yang dinaiki 2 gadis itu mendarat di lapangan latihan disekitaran istana. Elena dan Alice sudah turun dari kudanya. Kedatangan mereka berdua disambut oleh Putra Mahkota.


Delbert sudah bisa menebak, karena dari kejauhan ia sudab menduga, kalau Alice dan Elena akan datang. Karena siapa lagi yang punya kuda terbang berwarna putih, hanya Alice 'lah yang memilikinya.


"Apa kalian sudah puas seharian kemarin ?" tanya Delbert, dengan pura-pura marah. Ya. Dari kemarin Alice dan Elena pergi tidak berpamitan padanya.

__ADS_1


2 gadis itu hanya berpamitan kepada Raja Dorothy dan Permaisuri Ella. Disitu, baginya kepergian Alice, membuatnya merasa sepi, padahal baru beberapa jam setelah 1 minggu tidak bertemu.


Alice dan Elena hanya tersenyum. Lalu mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu, dan membiarkan kuda milik Alice makan rumput di lapangan latihan.


Setelah masuk ke dalam istana, mereka disambut Permaisuri Ella. Karena sedang ada pertemuan penting antara Raja Dorothy dengan para mentrinya, Permaisuri Ella mengajak 2 gadis itu jalan-jalan.


Mau tak mau Elena dan Alice mengikuti kemauan Permaisuri Ella. Padahal mereka baru sampai di istana. Dan sekarang Permaisuri Ella mengajaknya jalan-jalan ke kota.


Ketiga perempuan itu akhirnya jalan-jalan dengan ditemani beberapa pelayan. Bahkan Putra Mahkota pun juga ikut. Dengan Delbert yang juga ikut pun tanpa pengawal tak masalah. Disamping itu, Delbert serasa tak ingin jauh-jauh dari gadis pujaannya.


Disaat Permaisuri Ella dan Elena beserta pelayannya masuk ke sebuah toko pakaian, Delbert tersenyum, ia punya kesempatan bisa dekat dengan Alice di luar toko sambil menunggu 2 perempuan itu.


Mereka berdua mulai berbicara, Delbert menanyakan kegiatan apa yang dilakukan kemarin oleh Alice dengan adik perempuannya.


Alice menjawab dengan tenang. Ia hanya menjawab seperti biasa, seperti memasak, makan bersama, dan berkebun, dan memberi makan kepada kuda terbang miliknya.


Alice tidak menjawab peristiwa yang menimpa pada Elena. Ia tak ingin menimbulkan masalah. Dari sikap Alice, Delbert menyadari ada yang disembunyikan oleh gadis itu, tapi biarlah, ia tak ingin memaksanya.


Lalu Delbert menyadari kalau laki-laki asing yang kemarin tak ada. "Kemana laki-laki asing itu ?"


Alice diam sejenak. "Dia sudah pergi dari rumahku. Katanya dia sudah menemukan tempat penginapan untuknya sendiri."


"Baguslah, mau bagaimanapun dia tetap orang asing, yang meminta rasa kasihan." ucap Delbert.


"Cukuplah, jangan membicarakannya lagi tentangnya." jawab Alice.


"Baiklah, tapi tetap saja, kita harus berhati-hati, dia masih di dalam wilayah Kerajaan ini." balas Delbert.


Alice menghela nafasnya dengan malas, lalu ia mengangguk kepalanya. Ia merasa tak nyaman dan senang kalau Delbert berbicara yang tidak-tidak tentang Reynal.

__ADS_1


Tiba-tiba, dari arah belakang Alice dan Delbert ada suara laki-laki yang tak asing bagi mereka berdua. "Apa kalian sedang membicarakan aku ?"


__ADS_2