
_______________________________________
Hari sudah malam.
Suasana hening. Elena yang biasanya banyak bicara, kini ia diam. Ya, dia tak hanya bersama Alice, tapi ada Reynal juga.
Setelah kejadian pertarungan Reynal dengan pamannya tadi siang. Jian Heeng pergi melarikan diri setelah melancarkan sihir ledakan miliknya.
Sehingga Reynal teralihkan untuk menyelamatkan Alice dan Elena. Reynal yang masih belum sepenuhnya mengendalikan Sihir Cahaya dan Sihir Gelap, ia memilih istirahat.
Kini mereka bertiga tengah memandang api unggun di depan mereka. Suasana hening. Tak pembicaraan dari mereka makan bersama hingga sekarang.
.....
"Putri Elena, aku minta maaf kepadamu " ucap Reynal tiba-tiba dan memecahkan keheningan.
"Eh ?" sahut Elena terkejut. Alice pun juga terkejut.
"Kejadian yang waktu itu, aku sudah melukaimu hingga hampir kehilangan nyawamu. Aku minta maaf." ucap Reynal.
Elena jadi salah tingkah. Lalu ia menatap laki-laki itu. "Maafkan aku juga, karena aku mengatakan padamu yang tidak mengenakkan."
Reynal tersenyum tipis, dan mengangguk kepalanya. "Apa kita bisa berteman ?"
Elena diam, ia bingung untuk menjawab. Alice pun berbicara. "Ya, kita berteman."
"Eh ?" sahut Elena.
"Tapi kau harus cerita, siapa pria tadi yang kau panggil paman." ucap Alice Kepada Reynal, ia masih penasaran.
Reynal menarik nafasnya.
"Aku ditugaskan ayahku untuk menangkap pamanku."
"Sebenarnya pamanmu melakukan kesalahan apa ?" tanya Alice.
"Yang kuketahui, pamanku memiliki Sihir gelap, dan di masa mudanya dia membunuh banyak orang tak bersalah. Jadi ayahku yang menghentikannya dan menangkapnya" jawab Reynal.
"Lalu memenjarakannya ?" sahut Alice bertanya, Reynal mengangguk kepalanya.
"Tentang Sihir Gelap, tapi bukankah kau juga memiliki Sihir Gelap juga ?" ucap Alice bertanya.
"Kau menyadarinya ?" sahut Reynal.
"Ya, saat aku melihat kau bertarung, aku merasakan aura Sihir Gelap yang keluar darimu." jawab Alice.
"Aku memiliki Sihir Gelap, dan Aku ditugaskan oleh ayahku untuk menangkap pamanku. Ayahku tidak bisa turun tangan, karena kondisi Kerajaan ada masalah besar."
"Hanya kau yang ditugaskan ?"
"Ya, karena kata ayahku, saat ini yang bisa mengimbangi pamanku adalah aku." jawab Reynal.
"Apa ayahmu tidak membantumu, atau memberimu bantuan ?" tanya Alice.
__ADS_1
"Biasanya ayahku langsung turun tangan. Seperti kukatakan sebelumnya, kondisi di dalam Kerajaan sedang ada masalah. Dan aku sendiri yang juga menginginkan tugas ini untuk melatih kekuatanku."
"Tapi untukmu, aku juga merasakan adanya Sihir cahaya." kata Alice.
"Kau benar, aku mewarisi Sihir Gelap dan Sihir Cahaya. Hanya saja aku belum bisa mengendalikan sepenuhnya. Maka tugas dari ayahku kuanggap sebagai latihanku." jawab Reynal.
Alice terkejut. Elena yang hanya mendengar pun juga terkejut.
"Kau memiliki Sihir Cahaya dan Sihir Gelap ?" tanya Alice dan Elena bersamaan.
"Ya." jawab Reynal.
"Seperti yang kukatakan tadi, aku belum sepenuhnya mengendalikan keduanya." lanjutnya.
"Jika kalian melihat keanehan dari diriku, berarti aku sedang dipengaruhi Sihir Gelapku." ucaa Reynal.
Alice dsn Elena terdiam menatap Reynal. Benar, mereka pernah melihat keanehan pada Reynal.
Reynal menatap Elena. "Saat aku melakukan hal aneh dan sadis padamu saat itu. Itu karena aku tak bisa menahan amarahku sehingga Sihir Gelap pada diriku mudah mempengaruhiku."
Elena terdiam, tapi dalam kepalanya teringat kejadian yang menimpanya.
"Jika aku bisa sepenuhnya mengendalikan Sihir Cahaya dan Sihir Gelap secara bersamaan, mungkin itu bisa mengatasi masalah itu." ucap Reynal.
"Jika kau sudah berhasil menangkap pamanmu, selanjutnya apa yang akan kau lakukan ?" tanya Alice.
"Aku akan membawa pamanku dan kembali ke duniaku." jawab Reynal.
Reynal menghela nafasnya. "Entahlah, aku masih belum tau caranya untuk kembali."
Alice dsn Elena tak berbicara apa-apa. Kali ini mereka berdua percaya kalau Reynal bukanlah orang jahat.
Tapi kali ini, mungkin paman dari Reynal adalah sebuah bencana yang harus mereka waspadai. Karena bisa saja pamannya Reynal menjadi bencana di dunia mereka berdua.
.....
Keesokan Harinya.
Kali ini suasana hati Elena tak menyenangkan, karena Alice memaksanya untuk pulang. Ingin sekali menolak tapi takut karena ada Reynal yang berada di belakang Alice.
Mereka berjalan di hutan. Tak berlari atau melompat. Mereka berjalan kaki. Kini terlihat mereka bertiga sangat akrab.
Di tengah perjalanan, mereka tak henti-hentinya bertemu hewan-hewan buas di hutan dan monster yang menghadang jalan mereka.
Terkadang mereka saling bergantian untuk menghabisi hewan-hewan buas, dan para monster itu. Dan juga saling membantu ketika kesulitan.
Tapi tetap saja, giliran Reynal, ia lebeh mudah mengalahkan para hewan-hewan buas dan para monster itu. Dan itu membuat Alice dan Elena tak mau kalah.
Tapi disamping itu, kadang Alice dan Elena tak berhenti tersenyum dan tertawa melihat keterkejutaan Reynal saat melihat hewan-hewan buas dan para monster. Ya, Reynal menganggapnya mahluk jadi-jadian.
.....
Perjalanan baru setengah jalan.
__ADS_1
Elena, Alice. dan Reynal tengah beristirahat. Tiba-tiba Reynal teringat sesuatu.
"Astaga." ucap Reynal tiba-tiba sambil menepuk jidatnya, Elena dan Alice menoleh ke arah laki-laki itu.
"Kenapa ?" tanya Elena.
"Aku lupa kalau aku bisa berterleport ke tempat yang pernah kukunjungi." jawab Reynal.
"Ternyata dibalik kehebatanmu kau memiliki kekurangan ya." ucap Alice.
Reynla tersenyum. Ya, dirinya lupa kalau dirinya bisa berterleport. Mungkin karena sudah memilki teman, jadi dia lupa tentang kekuatannya sendiri.
"Aku baru sadar, ternyata kemarin waktu kau menyelamatkan kami dari ledakan, kau menggunakan teleportmu." ucap Reynal.
"Ya, itu salah satu kekuatan yang juga terwariskan padaku. Sebelum pertandingan kemarin aku baru bisa mengendalikannya.
Elena terdiam, ia teringat pada kakak laki-lakinya. Ya, karena kakak laki-lakinya menyukai Alice. Dan sekarang Alice sangat dekat dan akrab dengan Reynal.
Pikiran Elena terisi tentang Reynal dan Alice yang kini begitu dekat. Ia jadi khawatir kepada kakak laki-lakinya jika merasa cemburu nantinya. "Entahlah, aku tak ingin memikirkan itu. Mereka bertiga yang menjalaninya."
"Jadi, apa kita akan terus berjalan kaki, atau langsung berpindah tempat dengan kekuatanku." ucap Reynal.
"Jalan kaki." ucap Elena.
"Teleport." ucap Alice.
Alice menatap tajam ke arah Elena. "Kita harus segera pulang secepatnya. Keluargamu mengkawatrikanmu, karena kau bertindak sesuka seenaknya."
"Kak Alice, aku malas jika terlalu cepat untuk sampai ke istana." jawab Elena.
"Sebaliknya, aku lebih malas kalau kita terlalu lama dalam perjalanan." balas Alice.
"Tidak !! Aku ingin berjalan kaki itu lebih seru dan menyehatkan." balas Elena.
"Jangan banyak alasan !!" balas Alice.
Alice dan Elena berdebat.
Reynal hanya diam menatap kedua gadis itu yang sedang berdebat.
Setelah lama berdebat tak ada selesainya. Alice menatap Reynal "Ini semua karenamu !!"
Reynal terbelalak. "Aku ? Apa salahku."
"Saat kau menyelamatkan kami kemarin, seharusnya kau membawa kami langsung ke istana." jawab Alice.
Reynal belum sempat menjawab, Elena menyelanya.
"Jalan kaki." Ucap Elena sambil melotot kepada Reynal.
Alice pun juga melotot kepada laki-laki itu. "Teleport."
Kedua gadis itu membuat Reynal kebingungan.
__ADS_1