
_______________________________________
Hari demi hari, minggu demi minggu. Tak terasa 1 bulan terlewati. Waktu Reyhan semakin sibuk, meski sibuk, ia tetap mengutamakan kesehatan istrinya dan kandungnya. Kadang saat bertugas, Xiu Juan mendadak ngidam, Reyhan langsung menyudahi tugasnya dan menyerahkan ke Chen (asistennya).
Sebelumnya juga upacara pengangkatan Chen sudah dilakukan. Reyhan memberi gelar Bangsawan kepada Chen. Dan setelah itu Reyhan mulai mengajari Chen dan melatihnya dengan keras tentang teknik bela diri.
Sudah 1 bulan Reyhan mengajari Chen untuk mengerjakan tugasnya. Kecerdasan yang dimiliki Chen tidak diragukan lagi. Hanya waktu sebulan Chen sudah bisa mengerjakan tugasnya sebagai asisten sang Raja. Dan juga teknik bela dirinya juga sudah melingkat dengan cepat.
Reyhan benar-benar melatihnya dengan sesuai pengalamannya di kehidupannya sebagai tentara. Meski tak sepenuhnya, tapi terlihat jelas, dalam waktu 1 bulan kemampuan bela diri Chen setara dengan pemimpin Jendral di Kerajaannya.
Raja sebelumnya, KongLi, ia awalnya keberatan jika Reyhan mengangkat Chen sebagai asistennya. Tapi Reyhan bisa membuktikan bahwa Chen adalah orang baik, dan jujur. Mau tak mau, KongLi pasrah atas apa yang dilakukan oleh Putra. Ia merasa sikap Reyhan sebagai Raja sangat berbeda lain dari yang lain.
Disisi Chen, ia merasa senang, karena sebagai orang yang bisa dipercaya oleh Reyhan. Chen bersumpah, ia akan setia, mendampingi, dan melindungi Reyhan berserta keluarganya. Chen merasa jika Reyhan adalah panutannya.
"Aku akan setia dengan keluarga Kerajaan hunggA maut menjemputku. Jika ada yang menghianati keluarga Kerajaan, aku adalah orang pertama yang maju kedepan." Itulah sumpah Chen.
.
.
.
.
.
.....
Singkat Cerita.
Waktu terus berjalan. Kehamilan Xiu Juan sudah berusia 9 bulanan. Perutnya benar-benar buncit. Kini ia tengah duduk bersantai bersama ketiga adik iparnya di taman dekat kediamannya.
Tiba-tiba Xiu Juan merasakan rasa sakit di perutnya. Sebelumnya ia juga beberapa kali merasakan rasa yang sama.
"Awwhh..." Xiu Juan meringis pelan.
"Kenapa kak ?" tanya Putri Jing Mi dan kedua saudara kembarnya juga khawatir.
"Tidak apa-apa, tiba-tiba perutku sakit, tapi sekarang sudah tidak." jawab Xiu Juan tersenyum.
Baru saja mengatakan itu, rasa sakit itu muncul lagi. Ketiga adik iparnya panik melihatnya.
"Sepertinya Yang Mulia akan melahirkan." ucap salah satu pelayannya.
Mereka bertiga semakin panik, Putri An niu segera memerintahkan pelayannya dan memintanya untuk mencarikan seorang tabib.
Putri Zhu Niu melihat 2 pengawal yang sedang berjaga, ia segera mendekat, dan memerintahkan salah satu pengawal yang berjaga, untuk memanggilkan ayahnya dan ketiga ibundanya.
Dan Putri Jing Mi memerintahkan pengawal satunya lagi, dan meminta untuk memanggilkan Reyhan. "Cepat katakan pada kakakku, kalau istrinya akan melahirkan !!"
2 Pengawal itu juga ikutan panik, ia segara pamit, dan pergi menjalankan perintah.
.
.
.
.
.
.
.....
Disisi Lain.
Semua sudah berkumpul di ruang rapat. Kini Reyhan duduk dengan tenang, ia memperhatikan semua perdana mentrinya yang memberikan laporan-laporan hasil kinerja mereka.
Kini ia tak sendiri membaca laopran itu, sudah ada asistennya, Chen yang setia mendampinginya. Meski Reyhan terlihat tenang, tapi pikirannya tertuju kepada istrinya.
__ADS_1
Chen berdiri tegak di belakang sang Raja. Ia juga memperhatikan semua kegiatan apa yang ia lihat, sekaligus sebagai pelindung Raja 'nya.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
Semua pandangan mereka tertuju ke salah satu pengawal yang berlari masuk ke ruangan rapat. Pengawal itu berlutut di depan meja rapat.
"Mohon ampun Yang Mulia, hamba mengganggu."
"Tidak masalah." balas Reyhan santai.
"Ada apa ?" lanjutnya bertanya to the point.
"Saat ini, Permaisuri Xiu akan melahirkan Yang Mulia."
Reflek Reyhan berdiri dari duduknya. Lalu ia menoleh, menatap serius kepada asistennya, dan menepuk pundaknya. "Chen, aku serahkan semua yang ada disini kepadamu."
Chen tersenyum dan sedikit membungkuk. "Baik Yang Mulia. Dan selamat, Yang Mulia akan menjadi seorang Ayah."
Reyhan tersenyum, lalu mengangguk kepalanya. Lalu ia berjalan. Sudah mendekati pintu ruangan, ia berhenti dan membalikkan tubuhnya. "Kalian semua yang ada disini patuhlah kepada Chen, karena dia adalah orang terpercayaku !!"
Setelah mengatakan itu Reyhan pergi keluar dari ruangan rapatnya, dan meninggalkan semua orang yang ada di dalamnya. Mereka memilih patuh kepada Chen yang kini menggantikan sang Raja di ruangan rapat.
.
.
.
.
.
.....
Reyhan berjalan cepat menuju ke kediamannya. Rasa bahagia, dan khawatir bercampur. Ia tak bisa tenang, pikirannnya membayangkan istrinya sedang mengorbankan nyawanya untuk melahirkan darah dagingnya.
Reyhan telah sampai di depan kediaman. Terlihat ada ayahnya, ketiga ibundanya, dna ketiga saudarinya tengah berkumpul di depan kediaman, mereka menoleh dan menatap dirinya yang kini tengah berjalan cepat ke arah kediamannya.
"Ya, aku pasti datang." jawab Reyhan yang sudah berdiri di depan kediamannya.
"Masuklah, temani istrimu, Kau tenang saja, kini di dalam sudah ada tabib dan pelayan membantu istrimu melahirkan." ucap Permaisuri Xia, dan Reyhan menghela nafas lega, lalu segera masuk ke dalam kamar.
.
.
.
.
.
.....
Di dalam kamar.
Reyhan melihat 2 pelayan dan tabib wanita sedang membantu istrinya yang berjuang melahirkan anak mereka. Mata Reyhan berkaca-kaca, ia berjalan mendekati istrinya.
Xiu Juan menyadari kehadiran suaminya, ia menatapnya. "Suamiku..."
Sungguh Reyhan tak tega melihat istrinya berjuang keras melahirkan anak mereka. Ia menggenggam tangan istrinya, seakan ia memberi kekuatan, lalu mencium lembut keningnya. "Berjuanglah, aku menemanimu."
Xiu Juan tersenyum manis, lalu mengangguk kepalanya, ia merasa senang karena suaminya menemaninya, ia menjadi semangat untuk melahirkan anak mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.....
Tak lama kemudian ia mendengar suara tangisan bayi.
"Putra Mahkota bayi sudah lahir Yang Mulia." ucap sang tabib dengan tersenyum, lalu memberikan bayi kecil laki-laki itu ke salah satu pelayan untuk dibersihkan.
Reyhan tak bisa lagi menahan air matanya. Ia mencium lagi kening istrinya. "Terimakasih."
Xiu Juan bernafas lega. Reyhan tersenyum bahagia dan ia masih setia menggenggam tangan tangannya, yang sudah terlihat sangat kelelahan. Ia mencium lembut keningnya.
"Selamat Yang Mulia Raja, Permaisuri melahirkan bayi Putra Mahkota yang sangat tampan." ucap tabib sambil menggendong bayi dari pasangan suami istri itu, ia tak henti-hentinya tersenyum.
Reyhan lalu mengambil bayinya dari gendongan si tabib. Dengan hati-hati ia meraih bayinya. Ia duduk di kasur, dan bersebelahan dengan istrinya yang masih dalam posisi tidur di ranjangnya.
Mereka berdua tak henti-hentinya tersenyum melihat bayi mereka. Mereka berdua menangis, menangis karena bahagia melihat malaikat kecilnya yang sudah hadir di dunia. Bayi mereka terlihat sangat tampan, ditambah sedikit rambut yang tumbuh dikepalanya dan memiliki warna yang sama seperti warna rambut ayahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.....
Kini semua anggota Keluarga Kerajaan Wan tengah berkumpul di Kediaman Reyhan dan Xiu Juan. Ketiga istri KongLi saling bergantian menggendong cucu mereka yang sudah lahir. Mereka bertiga bergantian menggendong cucu mereka. Meski begitu cucu mereka tetap tenang dalam tidurnya.
Bahkan KongLi yang ingin sekali menggendong cucunya memilih mengalah karena ketiga istrinya tak mau berbagi kepadanya.
Xiu Juan hanya bisa duduk bersandar di ranjang dengan tenang di ranjangnya, dan Reyhan setia menemaninya duduk di sampingnya. Mereka berdua tersenyum melihat orang tuanya menggendong bayi mereka.
"Kakak, nama bayi kalian siapa ?" tanya Putri Jing Mi, Semua orang mendengar dan langsung menatap Reyhan dan Xiu Juan.
Xiu Juan sebenarnya sudah tau, ia memilih diam lalu ia menatap lembut Reyhan. "Suamiku, siapa nama bayi kita ?"
Reyhan tersenyum. "Reyval Poetra Wan."
Semua terdiam, dalam pikiran mereka bertanya-tanya, karena asing dengan nama bayi Reyhan dan Xiu Juan.
"Kenapa kau memberi nama itu." ucap KongLi yang kurang setuju, karena menurutnya sendiri pilihan Putranya selalu aneh.
"Karena dia adalah Putraku, maka aku dan istriku yang menamainya." jawab Reyhan.
Belum sempat KongLi menjawab, Reyhan memotongnya.
"Jika tidak setuju, kenapa kau tidak menikah lagi dengan wanita lain. Jadi, jika wanita itu hamil dan melahirkan anakmu, kau bisa memberi nama anakmu sesuai seleramu." ucap Reyhan santai tanpa dosa.
Semua terbelalak. Permaisuri Xia, Selir May dan Selir Bao menatap tajam ke arah KongLi. KongLi merasa kesal, tapi mau gimana lagi, sifat putranya memang susah dibujuk. Akhirnya ia menerimanya.
"Baiklah, selamat datang ke dunia Reyval." ucap Xiu Juan dan Reyhan menyambut bayinya. Dan semua orang pun juga ikut menyambut hangat bayi mereka berdua.
.
.
.
...- END -...
__ADS_1