
_______________________________________
Setelah selesai dengan urusan keluarga Kerajaan Dorothy, Reyhan membawa 3 mahluk ke tempat yang sebelumnya ia beli yang letaknya di pinggiran kota. 3 mahluk siapa lagi kalau Reynalda, Reynal, dan Elena.
Reyhan membawa Elena karena, ia yakin kalau Elena tidak ikut dalam rencana keluarganya, dan ia tak mau orang sebaik Elena harus tinggal bersama orang yang sudah membuat Alice pergi dari Reynal.
Reynal, ia lebih memilih diam. Hatinya terasa kosong semenjak Alice pergi darinya. Ia sudah sangat merindukan gadis berusia 2 tahun diatasnya. Reyhan dapat melihat kesedihan yang sedang dialami Putra Bungsunya itu.
Elena dan Reynalda pergi keluar untuk mencari bahan makanan, karena mereka akan masak, namun sebelum pergi, Reyhan memberikan dua jubah merah ke dua gadis itu, terutama kepada Elena, untuk merahasiakan identitasnya dari siapa pun.
Kini hanya berdua, di dalam rumah. Reyhan mengajak Reynal berbicara berdua.
"Kenapa kau banyak diam kali ini ?" tanya Reyhan kepada Putra Bungsunya.
"Aku dari awal memang sudah seperti ini, ayah." jawab Reynal datar.
"Kau memang seperti ini, tapi tidak seperti sebelumnya." balas Reyhan.
"Maksudnya ?" sahut Reynal.
"Kau memang menjadi perndiam seperti dulu, tapi sekarang terlihat lebih parah dari dulu." jawab Reyhan.
"Terserah ayah mengatakanku sepeti apa." balas Reynal darat.
"Jangan seperti ini, hanya karena seorang perempuan." kata Reyhan.
Reynal menghela nafasnya. "Aku tidak seperti ayah yang beruntung bisa menikahi bunda."
"Ayah memang beruntung bisa menikahi bundamu." jawab Reyhan.
Reynal diam tak menjawab. Reyhan kembali bersuara. "Apa kau masih mengharapkan Alice ?"
"Aku akui, aku masih mengharapkannya. Dan aku sangat mencintainya." jawab Reynal.
"Lalu sekarang bagaimana perasaanmu setelah mengetahui jati diri Alice yang sebenarnya ?" tanya Reyhan.
"Aku masih mencintainya." jawab Reynal jujur.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mengejarnya ?" tanya Reyhan.
Reynal menoleh kepalanya dan menatap ayahnya. "Ayah tidak melarangku ?"
"Untuk apa melarangmu. Kau yang menjalaninya. Kalau kau cinta, kejarlah dia." jawab Reyhan.
"Tapi ayah tidak masalah dengan jati dirinya ?" tanya Reynal.
"Apa kau lupa dengan Kakek buyuknya Alice juga menikahi manusia ? Mereka tidak masalah kan ? Lagian Alice hanya mewariskan darah vampirnya saja dan kekuatannya." jawab Reyhan santai.
__ADS_1
"Ayah tidak melarangku untuk mencintainya ?" tanya Reynal.
"Untuk menikahinya ayah tidak akan melarangmu." jawab Reyhan.
"Apa bunda akan marah kalau tau jadi diri Alice ?" tanya Reynal.
"Bunda takkan mengahalangimu kalaiu demi anaknya bahagia. Sudah sanah pergi, cari gadis pujianmu itu. Belum juga dicari, malah sudah membicarakan pernikahan dan soal bunda." ucap Reyhan.
"Baik, ayah." ucap Reynal sambil berdiri.
Reynal melangkahkan kakinya untuk segera pergi, namun langkah kakinya terhenti. Reyhan kembali bersuara. "Kenapa berhenti ? Sanah pergi !!"
"Ayah, aku tak tau dimana Alice sekarang." ucap Reynal.
"Apa kau tidak meninggalkan tanda pada Alice, agar kau bisa langsung berteleport saja ?" tanya Reyhan.
Reynal menepuk jidatnya. "Aku tidak meninggalkan tanda padanya."
Reyhan pun mengehela nafasnya. "Apa kau tidak lihat arah Alice saat terbang pergi ke arah mana ?"
Reynal terdiam, ia mencoba mengingat-ngingat lagi, saat Alice terbang pergi meninggalkannya. Reynal pun teringat, Alice pergi ke arah utara.
"Aku sudah ingat." ucap Reynal.
"Kau juga harus menggunakan sihir pendeteksimu agar bisa merasakan kekuatan yang ada di sekitarmu, karena kekuatan Alice cukup besar." ucap Reyhan.
.....
Disisi Lain.
Di sebuah bangunan kuno, yang sudah runtuh. Mungkin semua mahluk hidup menganggap bangunan itu sudah lama tak terpakai, karena tidak ada penghuninya sama sekali.
Namun, jangan salah, setiap bangunan kuno memiliki rahasia. Seperti halnya ruang bawah tanah yang telah dirahasiakan oleh siapapun. Meski tak semua bangunan runtuh memilikinya.
Terlihat di dalam ruangan rahasia itu. Seisi ruangannya masih layak dipandang meski tidak ada yang merawatnya sama sekali.
Dan di dalam ruangan itu, terlihat seorang perempuan yang mengenakan gaun indah. Alice tengah berdiri diam sambil menatap sesuatu yang ia genggam.
Tiba-tiba Alice merasakan ada sesuatu yang mendekat tempatnya. Ia segera membuang benda yang ia genggam. Alice merubah gaun indahnya menjadi gaun perannya. Setelahnya, ia berjalan keluar dari ruang rahasia dalam tanah itu.
Setelah berada di luar, dia atas permukaan tanah, Alice tak melihat siapapun namun ia marasakan mahluk hidup yang mendekat. Dan juga ia marasakan kekuatan yang hebat dari mahluk itu.
DUAR !!
Sebuah ledakan serangan padanya. Alice bisa menghindarinya. Disini Alice masih bisa tenang. Darah vampir yang mengalir pada dirinya, membuat dirinya semakin kuat.
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Alice menoleh ke arah sumber suara langkah kaki itu. Dan ia melihar seorang pria yang pernah ia temuinya.
"Tak kusangka, ternyata kau pemilik kekuatan yang ku rasakan dari tadi." ucap Jian Heeng.
Alice tak menjawab. Jian Heeng kembali bersuara. "Kenapa kau bisa ada disini sendirian ? Biasanya kau bersama keponakanku. Apa kau sudah berpisah dengannya ?"
Alice masih tak menjawab, ia memilih diam dan manatap Jian Heeng dengan wajah datarnya.
"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku ? Kau diam saja." ucap Jian Heeng, lalu ia memperhatikan Alice yang tak bereaksi.
Jian Heeng pun tersadar.
"Tunggu !! Ada apa dengan penampilanmu dan juga rambutmu ? Tapi jujur kau terlihat sangat cantik."
Alice tak menjawab, ia pun mengayunkan pedang di tangannya, lalu mengarahkan ke arah Jian Heeng.
"Kau ingin menantangku ? Kau kira bisa mengalahkanku ?" tanya Jian Heeng meremehkan. Karena ia sudah tau kalau Alice sebelumnya selalu menghindar darinya saat ia melawan keponakannya.
Pada akhirnya Alice pun bersuara. "Kekalahanmu akan membawanya kembali ke dunia asalnya."
"Aku tak mengerti ucapanmu, tapi yang jelas, aku akan membuatmu menderita." ucap Jian Heeng.
Jian Heeng langsung maju berlari. Ia pun mengarahkan pedangnya dan mengeluarkan bola Api birunya.
Lalu ia lancarkan ke arah Alice.
Alice menangkis bola Api biru itu. Ia pun bergerak cepat menghindari Jian Heeng yang berlari mendekatinya.
Jian Heeng dibuat terkejut. Ia mengeluarkan bola Api hitamnya dan ia lancarkan untuk menyerang Alice.
DUAR !! DUAR !!
Lagi-lagi Alice mengakis dan membelahnya menjadi dua. Alice pun terbang cepat ke arah Jian Heeng, dan mengayunkan pedangnya.
Tiang !!
Jian Heeng berhasil menangkisnya, ia pun segera melompat mundur. Jian Heeng berdiri sambil mengarahkan pedangnya ke arah lawannya untuk berjaga-jaga.
Jian Heeng tak menyangka sosok gadis yang terlihat lemah saat bersama keponakannya kini menjadi sosok yang kuat.
Alice masih diam terbang di udara, dan menatap datar ke arah Jian Heeng. "Lebih baik aku membunuhmu, dengan begitu dia akan pergi ke dunia asalnya, dan meninggalkanku."
"Apa maksudnya ?" guman Jian Heeng.
Alice bergerak terbang tinggi, lalu ia merentangkan tangannya kirinya.
__ADS_1
Muncullah sebuah bola sihir merah kecil, dan dengan cepat bola merah itu membesar.